CERAKEN.ID — Mataram—Kota Tua Ampenan kembali menghidupkan denyut sejarahnya melalui kegiatan Ampenan Heritage Walk yang digelar Dinas Pariwisata Kota Mataram bekerja sama dengan Pokdarwis Kota Tua Ampenan dan Komunitas Lombok Heritage and Social Science (HLSS), Sabtu (25/7/2026).
Diikuti sekitar 25 peserta, wisata jalan kaki ini bukan sekadar mengajak masyarakat menyusuri bangunan-bangunan tua, melainkan mengembalikan ingatan kolektif tentang Ampenan sebagai salah satu pelabuhan terpenting di Nusantara pada abad ke-19.
Program Heritage Walk merupakan inisiatif Pokdarwis Kota Tua Ampenan bersama HLSS untuk memperkenalkan kembali nilai sejarah, budaya, dan arsitektur kawasan Kota Tua. Di tengah berkembangnya wisata berbasis pengalaman, kegiatan ini menawarkan perjalanan yang mempertemukan ruang fisik dengan kisah-kisah yang pernah membentuk identitas Ampenan.
Prasasti Wallace, Penanda Sejarah yang Terhubung dengan Dunia
Rangkaian kegiatan diawali dengan peresmian Tugu Prasasti Penanda Kedatangan ilmuwan Alfred Russel Wallace di tepi eks Dermaga Pelabuhan Ampenan. Prasasti tersebut diresmikan Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Dr. Cahya Samudra, sebagai penanda historis kedatangan Wallace ke Pelabuhan Ampenan pada 1856.
Bagi Pemerintah Kota Mataram, keberadaan prasasti itu bukan sekadar monumen, melainkan pengingat bahwa Ampenan pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan ilmu pengetahuan dunia. Wallace, melalui pengembaraannya di Nusantara, kemudian mengabadikan persinggahannya di Ampenan dalam karya monumental The Malay Archipelago.

“Ini adalah jejak sejarah yang tidak boleh kita lupakan. Wallace pernah singgah di Ampenan dan mencatatnya dalam buku The Malay Archipelago. Dengan adanya prasasti ini, kita ingin wisatawan tahu bahwa Mataram punya cerita besar yang terhubung dengan dunia,” ujar Cahya Samudra.
Menurutnya, penandaan situs-situs bersejarah merupakan bagian dari strategi pengembangan heritage tourism yang kini menjadi salah satu fokus Pemerintah Kota Mataram dalam memperkuat daya tarik destinasi wisata berbasis budaya.
Berjalan Mundur ke Masa Lalu
Usai peresmian, peserta diajak menyusuri lorong-lorong Kota Tua Ampenan selama kurang lebih dua jam. Dipandu anggota HLSS, Zulhakim, rombongan bergerak dari eks dermaga menuju kawasan Pecinan, melewati rumah-rumah kolonial, hingga deretan toko tua yang masih berdiri sebagai saksi perjalanan panjang Ampenan.
Di setiap titik pemberhentian, Zulhakim merangkai kisah tentang perdagangan rempah, kehidupan masyarakat multietnis, hingga perjalanan Alfred Russel Wallace yang pernah menyaksikan geliat pelabuhan ini lebih dari satu setengah abad silam.
“Wallace mencatat Ampenan sebagai pelabuhan yang ramai dan multikultur. Hari ini kita masih bisa merasakan atmosfer itu dari bangunan-bangunan yang tersisa. Tugas kita sekarang adalah menjaganya,” jelas Zulhakim.
Semangat pelestarian itu juga disampaikan Ketua Pokdarwis Kota Tua Ampenan, Fachrurozi. Menurutnya, kawasan Ampenan memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata sejarah yang hidup.

“Kami ingin Ampenan tidak hanya dikenal sebagai kawasan kuliner, tetapi juga sebagai museum hidup. Heritage Walk ini akan kami agendakan rutin setiap bulan,” katanya.
Antusiasme peserta turut memperlihatkan bahwa wisata sejarah memiliki ruang tersendiri di tengah masyarakat. Salah seorang peserta, Edo, datang bersama istri dan dua putrinya. Sepanjang perjalanan ia tampak tekun mencatat penjelasan pemandu.
“Kami sangat tertarik dan antusias mengikuti Heritage Walk ini. Jalan-jalan sekaligus belajar,” ungkap Edo, yang diamini istri dan kedua putrinya.
Bagi Dinas Pariwisata Kota Mataram, kolaborasi dengan Pokdarwis dan komunitas menjadi fondasi penting dalam membangun wisata sejarah yang berkelanjutan. Pemerintah tidak hanya ingin menjaga bangunan-bangunan tua, tetapi juga menghidupkan kembali narasi yang melekat pada setiap sudut Kota Tua Ampenan.
“Kami tidak bisa jalan sendiri. Sinergi dengan Pokdarwis dan komunitas seperti HLSS ini sangat penting. Ke depan kita akan lengkapi dengan papan informasi, digitalisasi cerita, dan paket wisata sejarah yang terintegrasi,” pungkas Cahya Samudra.
Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama di depan bangunan tua eks Bank Indonesia serta diskusi ringan mengenai pengembangan Kota Tua Ampenan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Kota Mataram.
Dari langkah-langkah kecil menyusuri jalanan tua itu, tersimpan harapan agar sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan menjadi pengalaman yang terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: diskominfo kota mataram



























































