Belajar Komunikasi dari Dusun: Etika dan Spirit dalam Setiap Kata

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:56 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah dunia yang semakin cepat dan bising oleh berbagai informasi, nilai-nilai komunikasi yang santun dan beretika terasa semakin penting untuk dirawat (Foto: Adi Muhayadi)

Di tengah dunia yang semakin cepat dan bising oleh berbagai informasi, nilai-nilai komunikasi yang santun dan beretika terasa semakin penting untuk dirawat (Foto: Adi Muhayadi)

CERAKEN.ID– Pelajaran hari ini adalah soal komunikasi. Bagi Kepala Dusun Dasan Daya, Desa Lembar, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Adi Muhayadi, komunikasi bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan sebuah nilai etika sekaligus spiritual yang menentukan kualitas hubungan antarmanusia.

Di tengah dinamika sosial yang kerap diwarnai perbedaan pandangan, konflik kecil, hingga kesalahpahaman, Adi menilai bahwa kemampuan berbicara dengan baik menjadi fondasi penting kehidupan bermasyarakat.

Terlebih bagi seorang pemimpin wilayah kecil seperti kepala dusun, komunikasi menjadi alat utama untuk merawat harmoni warga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Al-Qur’an menggunakan istilah qaulan (perkataan) yang disandingkan dengan berbagai kata sifat untuk menunjukkan bagaimana kita seharusnya berbicara dalam berbagai situasi,” ujar Adi saat berbincang santai bersama warga.

Menurutnya, ajaran tersebut sangat relevan dalam kehidupan sosial hari ini. Dalam Al-Qur’an, terdapat beberapa istilah yang menggambarkan prinsip komunikasi ideal.

Di antaranya qaulan sadidan, perkataan yang benar dan lurus; qaulan balighan, perkataan yang sampai dan menyentuh hati; qaulan ma’rufan, perkataan yang baik; qaulan layyinan, perkataan yang lembut; qaulan kariman, perkataan yang mulia; serta qaulan maysuran, perkataan yang mudah dan menyenangkan didengar.

Baca Juga :  Belajar di Luar Kelas: Semangat, Metode, dan Pelajaran yang Mengalir

“Ini bukan sekadar teori agama. Ini panduan praktis bagaimana manusia menjaga hubungan,” kata Adi.

Sebagai pemimpin di tingkat dusun, ia sering menghadapi berbagai persoalan warga, dari persoalan batas tanah, persoalan keluarga, hingga urusan sosial sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, cara menyampaikan pesan sering kali lebih penting daripada isi pesannya.

Nada tinggi, kata-kata keras, atau kalimat yang merendahkan, menurutnya, hanya akan memperkeruh keadaan. Sebaliknya, pendekatan yang lembut dan menghargai sering kali mampu meredakan ketegangan sebelum konflik membesar.

Adi menilai tantangan komunikasi saat ini semakin berat karena masyarakat hidup di era digital, di mana percakapan kerap berlangsung tanpa tatap muka.

Media sosial, menurutnya, sering membuat orang lebih mudah berkata kasar karena tidak berhadapan langsung dengan lawan bicara.

“Padahal setiap kata tetap punya dampak, meskipun dikirim lewat layar,” ujarnya.

Di lingkungan dusun, Adi mencoba menanamkan kebiasaan berdialog sebelum mengambil keputusan bersama.

Baca Juga :  Bau Nyale 2026: Membaca Ulang Warisan Putri Mandalika untuk Generasi Masa Kini

Setiap persoalan, sekecil apa pun, diupayakan diselesaikan melalui musyawarah. Baginya, komunikasi yang baik bukan hanya soal berbicara, tetapi juga soal mendengar.

Ia percaya, masyarakat yang terbiasa berdialog akan lebih kuat menghadapi perbedaan. Ketegangan sosial sering kali muncul bukan karena persoalan besar, melainkan karena komunikasi yang salah arah.

Pelajaran sederhana dari dusun ini menjadi pengingat bahwa komunikasi sejatinya bukan hanya keterampilan sosial, tetapi juga bagian dari akhlak dan tanggung jawab moral.

Kata-kata yang diucapkan tidak hanya mempengaruhi orang lain, tetapi juga mencerminkan kualitas diri seseorang.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan bising oleh berbagai informasi, nilai-nilai komunikasi yang santun dan beretika terasa semakin penting untuk dirawat.

Sebab, pada akhirnya, hubungan manusia dibangun bukan hanya oleh tindakan, tetapi juga oleh kata-kata yang dipilih untuk diucapkan.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Bau Nyale 2026: Membaca Ulang Warisan Putri Mandalika untuk Generasi Masa Kini
Belajar di Luar Kelas: Semangat, Metode, dan Pelajaran yang Mengalir
Menggagas Perpustakaan Tematik: Jalan Sunyi Literasi dari Tana Samawa
Menyusuri Jejak Air: Pembukaan Lingkar Seni Wallacea 2025 di Sungai Meninting
Kearifan Lokal Suku Sasak: Berbagi, Bermain, dan Berumah Tangga

Berita Terkait

Kamis, 5 Februari 2026 - 10:01 WITA

Bau Nyale 2026: Membaca Ulang Warisan Putri Mandalika untuk Generasi Masa Kini

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:56 WITA

Belajar Komunikasi dari Dusun: Etika dan Spirit dalam Setiap Kata

Senin, 12 Januari 2026 - 08:25 WITA

Belajar di Luar Kelas: Semangat, Metode, dan Pelajaran yang Mengalir

Senin, 22 Desember 2025 - 16:54 WITA

Menggagas Perpustakaan Tematik: Jalan Sunyi Literasi dari Tana Samawa

Minggu, 16 November 2025 - 17:04 WITA

Menyusuri Jejak Air: Pembukaan Lingkar Seni Wallacea 2025 di Sungai Meninting

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA