Nada dari Ufuk Selatan

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CERAKEN.ID — Musik kerap menemukan jalannya sendiri untuk bertemu dengan kemanusiaan. Pada Minggu malam, 21 Juni 2026, perjumpaan itu akan berlangsung di Jalan Biduri, Dusun Aik Are, Desa Sandik, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat.

Yayasan LombokCare menggelar Music Charity for Disability Children bertajuk “Pentas Kebaikan Vol.1”, sebuah panggung yang memadukan karya seni dengan kepedulian sosial bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Di antara para penampil yang akan hadir, nama Paris Hasan menjadi salah satu yang menarik perhatian. Musisi folk asal Lombok itu memastikan keterlibatannya dalam acara tersebut. Kepada Ceraken.id, Jumat (19/6/2026), ia mengonfirmasi kehadirannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Iya, betul ikut,” ujar Paris Hasan singkat.

Musisi yang dikenal dengan penampilan sederhana bersama gitar dan harmonika itu  memperkirakan akan membawakan beberapa lagu andalannya di hadapan publik yang hadir malam nanti.

“Sebagaimana umumnya antara tiga lagu hingga lima lagu,” katanya.

Jejak Folk dari Lombok

Lahir pada November 1991, Paris Hasan merupakan penyanyi-penulis lagu sekaligus perancang visual yang tumbuh dari lingkungan kreatif. Perjalanannya di dunia musik dimulai saat menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Yogyakarta pada 2012.

Masa kuliah menjadi ruang awal baginya untuk tampil dalam berbagai pertunjukan musik dan pembukaan pameran seni rupa.

Baca Juga :  Warjack, Keteguhan yang Tak Lekang oleh Waktu

Sekembalinya ke Lombok pada 2016, ia sempat membentuk band beraliran blues rock bersama sejumlah rekannya. Meski menghasilkan beberapa karya, kelompok musik tersebut tidak bertahan lama.

Dari situ, Paris memilih melanjutkan perjalanan sebagai musisi solo dengan karakter musik yang memadukan folk, country, skiffle, dan blues.

Langkah profesionalnya dimulai melalui perilisan single Skiffle ‘N Blues pada 2020. Setahun kemudian, ia merilis Apple ‘N Snake yang semakin mempertegas identitas musikalnya.

Ia menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang solidaritas (foto: lombokcare / ceraken.id)

Puncaknya hadir pada 2023 melalui album perdana bertajuk Apple ‘N Snake, berisi sembilan lagu yang tersedia di berbagai platform digital dan juga dirilis dalam format kaset pita sebagai merchandise eksklusif.

Album tersebut memuat sejumlah karya seperti Black Leather Watch, Guns ‘N Bullets, Gasoline, Hillbilly Feel, Gramophone, hingga Where Were You At Three?. Seluruhnya merekam eksplorasi musikal yang jarang ditemui dalam lanskap musik populer Lombok.

Bagi yang ingin mengenal lebih dekat karya-karyanya sebelum menyaksikan penampilannya di Pentas Kebaikan Vol.1, album Apple ‘N Snake dapat didengarkan melalui Spotify di Spotify Paris Hasan – Apple ‘N Snake.

Sementara  Skiffle ‘N Blues bisa dinikmati di link berikut ini:

Baca Juga :  Feel The Motions: Ketika Jazz Sasak Menari dalam Arus Zaman

Menuju Album Baru

Tiga tahun setelah album debutnya, Paris Hasan ternyata tengah menyiapkan karya baru. Meski belum mengungkapkan judul maupun konsep album secara rinci, ia memastikan proses kreatif sedang berlangsung dan ditargetkan rampung sebelum tahun 2026 berakhir.

“Insya Allah tahun ini. Setidaknya sebelum 2026 berakhir sudah rilis. Doakan ya,” ungkapnya.

Saat ditanya mengenai isi album tersebut, Paris memberi sedikit bocoran dengan nada bercanda.

“Sekitar lima single, judul albumnya entar aja, belum nemu,” kelakarnya.

Kehadiran Paris Hasan dalam Pentas Kebaikan Vol.1 bukan sekadar penampilan musik biasa. Ia menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang solidaritas melalui nada, lirik, dan perjumpaan antarmanusia.

Di tengah derasnya arus hiburan digital, panggung semacam ini mengingatkan bahwa musik masih memiliki fungsi paling purba sekaligus paling penting: menyatukan kepedulian.

Maka bagi para penikmat musik di Lombok, Minggu malam nanti bukan hanya tentang menyaksikan seorang musisi folk membawakan lagu-lagunya.

Ini adalah kesempatan untuk melihat bagaimana nada dapat menjelma menjadi bahasa kebaikan, dan bagaimana sebuah panggung sederhana di Sandik mampu memantulkan harapan ke masa depan yang lebih inklusif. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Frekuensi Kebaikan dari Pulau Kecil
Moscow Jazz Festival 2024 dan Pelajaran untuk Berani Mendunia
Warjack, Keteguhan yang Tak Lekang oleh Waktu
Di Antara Suno, Lagu Asli, dan Pilihan Menjadi Manusia
Pentas Kebaikan: Ketika Musik Menjadi Jembatan Inklusi bagi Anak-anak Disabilitas
Feel The Motions: Ketika Jazz Sasak Menari dalam Arus Zaman
Senja di Pantai Ampenan
Acapella dan Kepunahan

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 22:46 WITA

Frekuensi Kebaikan dari Pulau Kecil

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:55 WITA

Nada dari Ufuk Selatan

Kamis, 18 Juni 2026 - 21:43 WITA

Moscow Jazz Festival 2024 dan Pelajaran untuk Berani Mendunia

Rabu, 17 Juni 2026 - 09:34 WITA

Warjack, Keteguhan yang Tak Lekang oleh Waktu

Selasa, 16 Juni 2026 - 16:28 WITA

Di Antara Suno, Lagu Asli, dan Pilihan Menjadi Manusia

Berita Terbaru

(foto: aks / ceraken.id)

BUDAYA

Algoritma Air dan Akar

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:15 WITA

Bedah buku Ajoeba Wartabone (1894-1957):

BEDAH BUKU

Ajoeba Wartabone Direkomendasikan Jadi Pahlawan Nasional

Sabtu, 20 Jun 2026 - 18:42 WITA

MUSIK

Frekuensi Kebaikan dari Pulau Kecil

Jumat, 19 Jun 2026 - 22:46 WITA

MUSIK

Nada dari Ufuk Selatan

Jumat, 19 Jun 2026 - 20:55 WITA

RUPA RUPA

Nada Kebaikan di Pulau Seribu Harapan

Jumat, 19 Jun 2026 - 15:47 WITA