Mister Jerman: Tak Datang ke Lombok Lagi, Tapi…

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:05 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Entah tahun ini apakah kami akan bertemu mereka lagi (foto: ss / ceraken.id)

Entah tahun ini apakah kami akan bertemu mereka lagi (foto: ss / ceraken.id)

Oleh: Sigit Susanto*

CERAKEN.ID — Suatu siang kami sedang duduk di belakang hotel Pasific, Senggigi, menyaksikan gulungan ombak dengan busa putih mendarat di pasir hitam.

Dari arah kanan muncul dua turis tua melewati depan kami. Dengan ringan tangan aku sapa, ternyata mereka dari Jerman. Nah, maka kami mulai berinteraksi percakapan menggunakan bahasa Jerman.

Dari beberapa saat bercakap-cakap, kedua turis ini terutama yang laki banyak mengeluh. Ya, di pantai Senggigi kotor, cuaca berubah-ubah, pelayanan di restoran kurang baik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari awal pembicaraan aku sudah mengantongi satu kata: kanan. Istilah itu aku pakai, saat di Swiss bertemu orang Swiss yang baru bicara pertama sudah banyak mengeluh dan terutama menjelekkan pendatang seperti aku. Langsung aku cap, dia mungkin dari kelompok partai kanan. Tentu berbeda, dengan partai kiri berhaluan sosialis, lebih humanis. Kalau orang mengikuti haluan partai kanan, biasanya konservatif dan cenderung bersikap apatis.

Kedua turis itu mengaku sudah bertahun-tahun datang dan selalu di Senggigi. Ia kesal dan tak akan datang lagi ke Lombok.

Selang setahun, kami di pantai Senggigi, eh…kedua turis itu sedang berjalan kaki. Batinku, katanya gak akan datang lagi?

Mereka mendekat bersalaman ramah dan percakapan mulai lagi. Ia bilang, akan bawa anak dan menantunya ke Lombok. Dan dia lupa sudah bilang tak akan datang ke Lombok lagi.

Menurutnya, Pariwisata di Senggigi sudah mati. Turis yang berjemur di pantai sedikit.

Dia tak salah, tapi tak seluruhnya benar. Aku berpikir, tergantung dari mana mengukurnya, kalau dibanding dengan Bali ya benar. Tetapi kalau dilihat ada banyak penumpang datang lewat kapal Eka Jaya, sehari 2-3 kali, bahkan akan ditambah kapal baru, berarti ada denyut pariwisatanya.

Baca Juga :  Ramli di Senggigi

Meskipun penumpang speedboat yang tiba di Senggigi, rata-rata tak tinggal di Senggigi. Bagi turis asing mereka langsung ke pantai Kuta, Lombok Tengah atau bagi turis domestik ke Mataram.

Claudia dan aku termasuk yang berpikiran serba positif, meskipun ada catatan yang kurang, tetapi lebih banyak positifnya.

Aku mulai cerita, kalau makanan di Lombok lezat-lezat buatku. Dan warungnya bersih, meskipun warung itu kecil, tetapi pedagangnya luar biasa tampak bersih baik di dapur maupun di meja makan.

Di tengah kekagumanku, lelaki Jerman nyelonong, “Itu karena pengaruh turis, sehingga bersih.”

Wah, ini pandangan keterlaluan. Maklum, kalau turis hanya menginap di hotel dan makan di restoran, seperti katak dalam tempurung. Lombok bukan hanya Senggigi, jalan-jalanlah ke jantung ibu kota NTB.

Wahai, para turis. Cobalah keliling ke Mataram. Carilah makan di mana saja, rata-rata bersih dari pengalamanku.

“Nein, bantahku. Ini warung kecil di Sandik dan di tempat lain, sama rapi dan bersih,” tolakku jengkel.

Pertemuan itu berujung pada perpisahan dan lagi-lagi berujar, ini yang terakhir, tak akan datang lagi. Dalam hati, tahun lalu bilang, gak datang, kok datang, ya?

Tahun berikutnya, ketemu lagi dua orang ini dan dia dengan anak dan menantunya. Percakapan berawal dari basa-basi cuaca yang panas.

Rupanya dia juga mengkritik negaranya sendiri. Hidup di Jerman sudah tak seperti dulu dan akan lebih susah lagi, karena politik dan ekonomi kurang mapan. Apalagi banyak pengungsi dari Afrika dan Ukraina.

Tak salah dugaanku sebelumnya, jenis turis ini kemungkinan besar di negaranya ikut aliran garis politik kanan. Dengan ciri khas, anti orang asing.

Para pengungsi ini tentu tak bisa memilih di mana di dunia akan dilahirkan. Jika orang tua dari Kongo, masak minta dilahirkan di Jerman biar hidup kecukupan? Bukan salah bunda mengandung, istilah kita.

Baca Juga :  Salam untuk Orang Tua di Kuburan

Lagian, pengungsi-pengungsi itu kalua dirunut bekas jajahan orang Eropa. Kongo jajahan Belgia, Maroko, Tunisia jajahan Prancis. Siapa yang menjarah kekayaan ibu pertiwi mereka? Wajar, kalua negaranya sedang bergejolak baik politik dan ekonomi, mereka mencari perbaikan hidup di bekas penjajahnya.

Di sisi lain, meskipun turis Jerman ini mengaku tak akan datang ke Lombok lagi, ia juga mengkritik objek wisata lain seperti di Bali, Jawa, Labuan Bajo. Bagi mereka, anggap bahwa Lombok lebih baik dari tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi di Indonesia.

Aku mungkin tak serutin mereka datang ke Lombok. Maksud saya, kami ke Bali dan ke Jawa. Waktu kami dibagi di tiga tempat; Bali, Jawa dan Lombok. Meskipun saya berasal dari Jawa, tetapi istriku lebih menyukai Lombok dibanding dua tempat sebelumnya itu. Niscaya kami di Lombok bisa selama 3 bulan dari enam bulan yang ada.

Tetapi turis Jerman ini seluruh liburannya hanya berada di Senggigi. Apakah mereka berenang di pantai? Aku tak pernah melihatnya setahuku mereka hanya jalan kaki di pantai.

Lelakinya mengakui sudah sejak 20 tahun selalu datang ke Lombok. Lalu apa yang dicari, kalau di sini pun merasa tak bahagia? Kadang aku membayangkan, kebahagiaan itu harus dimulai tumbuh dari dalam dulu.

Anak kecil bisa gembira, karena dibelikan permen. Remaja bisa gembira karena naik kelas. Ibu-ibu bisa bahagia karena mendapatkan hadiah dari iklan. Tetapi semua itu datang dari luar tubuh. Sulitnya bagaimana menggalang energi harmoni dari dalam.

Entah tahun ini apakah kami akan bertemu mereka lagi. (*)

*Penulis buku “Lintas Albania, Swiss, dan Negara Lain” (2025)”, menetap di Zug, Swiss.

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Menelusuri Jejak Sejarah dari Kampung Sendiri Melalui Arkeolog Cilik Museum NTB
Terbang Lebih Tinggi dari Pelangi
Jejak Predator Purba di Vitrin Waktu Museum NTB
Bangku Menghadap Jalan Raya
Salam untuk Orang Tua di Kuburan
Ramli di Senggigi
Sepatu Dijinjing dan Pegangan Tangan
Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 23:03 WITA

Menelusuri Jejak Sejarah dari Kampung Sendiri Melalui Arkeolog Cilik Museum NTB

Senin, 22 Juni 2026 - 23:25 WITA

Terbang Lebih Tinggi dari Pelangi

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:34 WITA

Jejak Predator Purba di Vitrin Waktu Museum NTB

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:05 WITA

Mister Jerman: Tak Datang ke Lombok Lagi, Tapi…

Senin, 15 Juni 2026 - 00:41 WITA

Bangku Menghadap Jalan Raya

Berita Terbaru