Menjaga Nyala Kebangru’an dari Telagawaru

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan (foto: ist / ceraken.id)

Budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan (foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pagi itu, suasana Desa Telagawaru, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, terasa berbeda. Warga dari berbagai usia berkumpul dalam semangat yang sama: merayakan dan merawat warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.

Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2026 kembali digelar untuk ketiga kalinya, menjadi ruang perjumpaan antara adat, gotong royong, dan harapan akan masa depan kebudayaan yang lebih kokoh.

Di tengah kegiatan yang sarat makna tersebut, Ketua Perkumpulan Seni Menduli Selayar, Akeu Surya Panji, mengajak seluruh hadirin untuk mengenang jasa para pendahulu yang telah menjaga identitas budaya masyarakat Telagawaru. Dengan penuh penghormatan, ia mengawali sambutannya dengan mengajak masyarakat membacakan Surat Al-Fatihah bagi para tokoh pendiri yang telah berpulang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Mari terlebih dahulu kita membacakan Surat Al-Fatihah untuk tokoh-tokoh pendiri yang telah mendahului kita, wabil khusus untuk almarhum Bapak Rihin yang telah mendedikasikan, menjaga, dan merawat nilai-nilai kearifan budaya di masyarakat Desa Telagawaru,” ungkapnya.

Ajakan tersebut menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari pengorbanan, keteladanan, dan kerja panjang para tokoh yang dengan tekun menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Jejak Panjang Perjuangan Kebudayaan

Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer yang kini memasuki tahun ketiga merupakan bagian dari perjalanan panjang sebuah lembaga kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat. Akeu Surya Panji menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya berdiri sejak tahun 2010 dengan nama Lembaga Pendidikan Seni Budaya Kebangru’an.

Perjalanan organisasi tersebut terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat dan dinamika pemajuan kebudayaan. Pada tahun 2013 lembaga itu mengalami perubahan, hingga akhirnya pada tahun 2025 resmi menggunakan nama Perkumpulan Seni Menduli Selayar.

Menurut Akeu, sejak awal lembaganya berkomitmen untuk membangun kolaborasi dengan berbagai pihak dalam upaya pelestarian budaya. Komitmen itu diwujudkan melalui berbagai kegiatan penelitian, dokumentasi, hingga penyelenggaraan festival budaya.

Salah satu tonggak penting terjadi pada tahun 2022 ketika lembaga tersebut bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia untuk melaksanakan kajian mendalam mengenai Ritus Kebangru’an. Kajian itu menghasilkan sebuah buku yang mendokumentasikan salah satu tradisi penting masyarakat Telagawaru.

Baca Juga :  Algoritma Air dan Akar

Tidak berhenti pada dokumentasi tertulis, pada tahun 2023 Perkumpulan Seni Menduli Selayar menjalin kerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Bali dan Nusa Tenggara untuk memproduksi film dokumenter tentang Ritus Kebangru’an. Film tersebut kemudian diputar dan disaksikan bersama oleh pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan kalangan pemuda di Balai Desa Telagawaru.

Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya dilakukan melalui ritual dan tradisi, tetapi juga melalui upaya dokumentasi yang memungkinkan pengetahuan lokal diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dari Warisan Lokal Menuju Pengakuan Nasional
Kegiatan budaya bukan semata-mata perayaan seremonial (foto: ist /ceraken.id)

Perjuangan panjang masyarakat Telagawaru dalam menjaga tradisi akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Tahun 2024 menjadi momentum penting ketika Ritus Kebangru’an resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Sebelum penetapan tersebut dilakukan, Perkumpulan Seni Menduli Selayar bersama Pemerintah Daerah dan Balai Pelestarian Kebudayaan turut menghadiri sidang penetapan Warisan Budaya Takbenda. Keterlibatan berbagai pihak menunjukkan bahwa pengakuan terhadap sebuah tradisi tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat lokal, tetapi juga bagian dari upaya negara dalam melindungi kekayaan budaya bangsa.

Akeu Surya Panji mengenang momen tersebut sebagai pencapaian yang lahir dari kerja kolektif masyarakat.

“Pada tahun 2024 Menteri Kebudayaan telah menandatangani Ritus Kebangru’an sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia,” ujarnya.

Pengakuan nasional itu semakin memperkuat posisi Telagawaru sebagai salah satu desa yang memiliki kekayaan budaya bernilai tinggi. Lebih dari sekadar status administratif, penetapan tersebut menjadi pengakuan atas pengetahuan, nilai-nilai sosial, dan praktik budaya yang telah diwariskan selama bergenerasi.

Pada tahun yang sama pula, Molang Maliq pertama kali digelar melalui kerja sama antara lembaga kebudayaan dan pemerintah. Setahun kemudian, kegiatan tersebut kembali dilaksanakan secara mandiri oleh Pemerintah Desa Telagawaru bersama masyarakat dan Perkumpulan Seni Menduli Selayar.

Tekun menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perubahan zaman (video: ist / ceraken.id)

Keberhasilan penyelenggaraan secara berkelanjutan menunjukkan bahwa masyarakat tidak sekadar menjadi penonton, melainkan pelaku utama dalam menjaga keberlangsungan tradisi mereka sendiri.

Harapan Membangun Pusat Kebudayaan Desa

Momen paling menyentuh dalam sambutan Akeu Surya Panji terjadi ketika ia mengenang perjalanan panjang hingga terselenggaranya Molang Maliq Mualan Benyer untuk ketiga kalinya pada tahun 2026. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengungkapkan rasa syukur atas dukungan masyarakat yang tidak pernah surut.

Baca Juga :  Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta

“Alhamdulillah, pada 2026 ini kita melaksanakan kembali yang ketiga kalinya. Karena bagaimana pun tujuan kami untuk membangun kebersamaan, nilai gotong royong, pelestarian adat, dan lingkungan,” katanya dengan suara bergetar.

Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa kegiatan budaya bukan semata-mata perayaan seremonial. Di baliknya terdapat semangat membangun solidaritas sosial, memperkuat identitas masyarakat, sekaligus menjaga hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan.

Pada 2010 bernama Lembaga Pendidikan Seni Budaya Kebangru’an (foto: ist / ceraken.id)

Bagi Akeu, kegiatan seperti Molang Maliq Mualan Benyer perlu memperoleh perhatian yang lebih luas dari pemerintah dan para pemangku kebijakan. Menurutnya, entitas budaya yang hidup di tengah masyarakat memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi sumber pembelajaran sekaligus penguatan karakter bangsa.

Ia juga menyampaikan harapan agar suatu saat Desa Telagawaru memiliki pusat kebudayaan atau museum desa yang dapat menjadi ruang penyimpanan pengetahuan lokal, dokumentasi sejarah, dan sumber belajar bagi generasi muda.

“Insya Allah kami juga punya harapan di Desa Telagawaru ini bisa didirikan sebuah pusat kebudayaan atau museum desa sebagai sumber pengetahuan yang mempunyai nilai-nilai kearifan lokal,” tuturnya.

Harapan tersebut sejalan dengan semangat pemajuan kebudayaan yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu bersaing secara global tanpa kehilangan akar lokalnya. Di tengah arus modernisasi yang semakin cepat, masyarakat Telagawaru menunjukkan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk menyongsong masa depan.

Melalui Molang Maliq Mualan Benyer, warga desa membuktikan bahwa budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tradisi yang dirawat dengan cinta akan terus hidup sebagai penanda identitas sekaligus sumber kebanggaan bagi generasi yang akan datang.

Seperti yang terus digaungkan oleh para pegiat budaya di Telagawaru, kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga warisan nilai yang membentuk jati diri masyarakat.

Dari sebuah desa di timur Pulau Lombok, pesan itu kembali disampaikan dengan sederhana namun kuat: budaya yang maju akan menghadirkan masyarakat yang bahagia, dan Indonesia yang semakin bermartabat. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Harmoni Alam dan Tradisi Mengalir dari Mualan Benyer
Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Mata Air, Menjaga Jati Diri Peradaban
Mualan Benyer, Mata Air Peradaban yang Menyatukan Alam, Tradisi, dan Masa Depan
Algoritma Air dan Akar
Betetulak, Jejak Harmoni Adat dan Islam yang Tetap Hidup di Rembiga
Sirik na Pacce dan Seni Inklusif: Menjembatani Nilai Budaya dengan Ekspresi Disabilitas
Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta
Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:42 WITA

Harmoni Alam dan Tradisi Mengalir dari Mualan Benyer

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:19 WITA

Menjaga Nyala Kebangru’an dari Telagawaru

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:37 WITA

Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Mata Air, Menjaga Jati Diri Peradaban

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:52 WITA

Mualan Benyer, Mata Air Peradaban yang Menyatukan Alam, Tradisi, dan Masa Depan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:15 WITA

Algoritma Air dan Akar

Berita Terbaru