Mualan Benyer, Mata Air Peradaban yang Menyatukan Alam, Tradisi, dan Masa Depan

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Selama masyarakat masih merawat mata air dengan cinta dan kesadaran, Mualan Benyer akan tetap mengalir sebagai sumber kehidupan sekaligus sumber peradaban bagi generasi yang akan datang (foto: ist / ceraken.id)

Selama masyarakat masih merawat mata air dengan cinta dan kesadaran, Mualan Benyer akan tetap mengalir sebagai sumber kehidupan sekaligus sumber peradaban bagi generasi yang akan datang (foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pagi masih basah oleh embun ketika masyarakat Desa Telaga Waru, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur mulai berkumpul di kawasan Mata Air Mualan Benyer, Minggu (21/6/2026).

Sejak selepas Subuh, sekitar pukul 05.00 Wita, denyut kehidupan tradisi kembali bergetar melalui perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2026, sebuah ritus budaya yang telah memasuki penyelenggaraan tahun ketiga dalam format modernnya. Penyembelihan hewan dan kegiatan memasak menjadi pembuka, disusul arak-arakan dulang yang diiringi alunan seni musik tradisi kebangru’an.

Suasana sakral kemudian menyatu dengan lantunan shalawat Nabi, ritual mandi pengantin, mandi molang maliq, hingga mandi pengobatan yang berlangsung di sekitar mata air yang selama ratusan tahun menjadi pusat kehidupan masyarakat setempat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perhelatan ini bukan sekadar acara budaya tahunan. Ia merupakan ekspresi kolektif masyarakat dalam menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan nilai-nilai warisan leluhur yang terus diwariskan lintas generasi.

Mata Air yang Menjadi Jantung Kehidupan

Ketua Panitia Molang Maliq Mualan Benyer 2026, Junaidi, menegaskan bahwa keberadaan Mualan Benyer tidak dapat dipisahkan dari identitas masyarakat Telaga Waru. Menurutnya, mata air tersebut telah menjadi sumber kehidupan sekaligus pusat berbagai tradisi adat yang masih bertahan hingga kini.

“Mualan Benyer sebagai bukti nyata, sebagai wujud nyata, bahwa antara masyarakat dengan Mualan Benyer menjadi satu kesatuan untuk kita jaga dan lestarikan. Ketika alam sudah kehilangan eksistensinya, maka perlahan eksistensi kita sebagai manusia akan sirna,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa keberadaan mata air turut menghidupi aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk para perajin sapu lidi dan sapu serabut kelapa yang membutuhkan air untuk proses produksinya. Lebih dari itu, hampir seluruh ritus adat masyarakat, mulai dari mandi pengantin, molang maliq, hingga khitanan, dipusatkan di kawasan tersebut.

Junaidi juga mengungkapkan harapan agar Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer dapat mengikuti jejak Ritus Kebangru’an yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

“Mudah-mudahan tahun depan kita berikhtiar bersama-sama agar Perhelatan Molang Maliq ini juga tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Di dalamnya ada pesan kebersamaan, menjaga kearifan lokal, dan tanggung jawab menjaga alam,” katanya.

Dukungan terhadap pelestarian Molang Maliq datang dari berbagai pihak (foto: ist / ceraken.id)
Jejak Panjang Pelestarian Budaya Desa Telaga Waru

Perjalanan pelestarian budaya di Telaga Waru tidak berlangsung dalam waktu singkat. Ketua Perkumpulan Seni Menduli Selayar, Akeu Surya Panji, mengisahkan bagaimana lembaganya sejak 2010 terus bergerak mendokumentasikan dan mengembangkan kebudayaan lokal.

Baca Juga :  Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Mata Air, Menjaga Jati Diri Peradaban

Melalui berbagai kerja sama dengan pemerintah pusat maupun lembaga kebudayaan, mereka berhasil menyusun kajian, menerbitkan buku, memproduksi film dokumenter, hingga mengawal penetapan Ritus Kebangru’an sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2024.

Dengan mata berkaca-kaca, Akeu menyampaikan rasa syukurnya karena Molang Maliq kini kembali terlaksana untuk ketiga kalinya.

“Tujuan kami membangun kebersamaan, nilai gotong royong, pelestarian adat, dan lingkungan. Kegiatan-kegiatan seperti ini perlu mendapat perhatian luas karena akan mengangkat harkat dan martabat kita sebagai bangsa yang besar dan berbudaya,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar suatu hari Desa Telaga Waru memiliki pusat kebudayaan atau museum desa yang dapat menjadi ruang belajar bagi generasi mendatang.

Tradisi sebagai Bentuk Syukur dan Kesadaran Ekologis

Kepala Desa Telaga Waru, Muhammad Rohdi, menilai Molang Maliq merupakan bentuk syukur masyarakat atas karunia mata air yang selama ini menjadi sumber kehidupan.

Menurutnya, kesadaran menjaga Mualan Benyer telah diwariskan para leluhur jauh sebelum istilah konservasi lingkungan dikenal luas.

“Alam, manusia dan tradisi menjadi kesatuan harmoni, karena kami sadar bahwa keseimbangan hidup lahir dari relasi yang saling menghidupi. Ketika alam kehilangan eksistensinya, pada saat yang sama eksistensi manusia pun perlahan akan sirna,” katanya.

Rohdi menjelaskan bahwa saat ini Mualan Benyer juga menjadi sumber air bersih yang dikelola melalui PAMDes dengan lebih dari 1.000 sambungan rumah. Selain menopang kebutuhan warga, pengelolaan tersebut menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADesa) sekitar Rp30 juta per tahun.

Pemerintah Desa bahkan telah memperoleh hak guna pakai kawasan tersebut dari Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dan berencana mengembangkannya sebagai destinasi wisata berbasis budaya dan lingkungan.

“Rencana ini sebagai upaya menjaga dan mengamankan mata air secara berkelanjutan, di mana selain menjaga alam dan merawat tradisi, juga ada aktivitas ekonomi masyarakat desa,” jelasnya.

Dorongan Menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Dukungan terhadap pelestarian Molang Maliq datang dari berbagai pihak. Wakil Bupati Lombok Timur, Moh. Edwin Hadiwijaya, menilai tradisi tersebut memiliki nilai budaya yang layak diangkat ke tingkat yang lebih luas.

“Kami berharap kegiatan Molang Maliq ini dipentaskan di tingkat kabupaten dan dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya. Penting juga bekerja sama dengan pihak terkait agar Molang Maliq bisa menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan itu, Pemerintah Provinsi NTB melalui sambutan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal yang dibacakan Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Kebudayaan NTB, Lalu Abdurrahim, memberikan apresiasi atas konsistensi masyarakat menjaga tradisi tersebut.

Baca Juga :  Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta

Dalam sambutannya disebutkan bahwa Molang Maliq Mualan Benyer merupakan tradisi yang mengajarkan pentingnya menjaga sumber air sebagai penyangga kehidupan sekaligus memadukan nilai spiritualitas, gotong royong, pelestarian lingkungan, seni, dan kearifan lokal.

“Kemajuan teknologi tidak boleh memutus hubungan kita dengan akar budaya leluhur serta alam sekitar yang telah menjadi penyangga kehidupan sejak dahulu,” demikian pesan Gubernur NTB.

Generasi Muda dan Masa Depan Kebudayaan

Perhelatan kemudian ditutup dengan pertunjukan seni tari dan musik tradisi kebangru’an yang dibawakan para pemuda dan pemudi Desa Telaga Waru. Pementasan tersebut menjadi simbol bahwa estafet budaya masih terus berjalan.

Keberadaan Mualan Benyer tidak dapat dipisahkan dari identitas masyarakat Telaga Waru (foto: ist / ceraken.id)

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Disbud NTB, Lalu Abdurrahim, melihat pertunjukan itu sebagai representasi nilai-nilai kehidupan masyarakat Sasak yang sarat pesan moral dan religius.

“Kami akan terus mengajak semua pihak untuk bersinergi dalam pemajuan kebudayaan demi melanjutkan perjuangan meletakkan destinasi-destinasi wisata budaya di Kabupaten Lombok Timur,” katanya.

Sementara itu, Camat Pringgabaya, Deni Aswin Pribadi, berharap seluruh desa di wilayahnya dapat saling menguatkan melalui kekayaan tradisi masing-masing.

“Mudah-mudahan semua ritus budaya yang ada bisa saling mengisi dan menguatkan sehingga ke depan kita bisa bersama-sama maju dan sejahtera,” ujarnya.

Ruang Publik yang Hidup dan Menghidupi

Molang Maliq Mualan Benyer 2026 memperlihatkan bahwa sebuah mata air bukan sekadar sumber air. Ia adalah ruang hidup yang menyatukan ekologi, ekonomi, spiritualitas, dan kebudayaan dalam satu tarikan napas yang sama.

Di tengah derasnya modernisasi, masyarakat Telaga Waru menunjukkan bahwa menjaga alam tidak harus bertentangan dengan pembangunan, sebagaimana melestarikan tradisi tidak berarti menolak kemajuan.

Di bawah rindangnya pepohonan yang mengitari Mualan Benyer, pesan para leluhur kembali bergema: alam yang terjaga akan menjaga manusia. Dan selama masyarakat masih merawat mata air itu dengan cinta dan kesadaran, Mualan Benyer akan tetap mengalir sebagai sumber kehidupan sekaligus sumber peradaban bagi generasi yang akan datang.

Perhelatan ini turut dihadiri Wakil Bupati Lombok Timur, Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Disbud NTB, sejumlah kepala OPD Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Camat Pringgabaya, Kapolsek dan Danramil Pringgabaya, Ketua Dewan Kesenian Lombok Timur, anggota DPRD Provinsi NTB dan DPRD Lombok Timur, para pemerhati budaya, tuan guru, tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, serta masyarakat Desa Telaga Waru.(aks)

Berita Terkait

Harmoni Alam dan Tradisi Mengalir dari Mualan Benyer
Menjaga Nyala Kebangru’an dari Telagawaru
Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Mata Air, Menjaga Jati Diri Peradaban
Algoritma Air dan Akar
Betetulak, Jejak Harmoni Adat dan Islam yang Tetap Hidup di Rembiga
Sirik na Pacce dan Seni Inklusif: Menjembatani Nilai Budaya dengan Ekspresi Disabilitas
Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta
Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:42 WITA

Harmoni Alam dan Tradisi Mengalir dari Mualan Benyer

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:19 WITA

Menjaga Nyala Kebangru’an dari Telagawaru

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:37 WITA

Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Mata Air, Menjaga Jati Diri Peradaban

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:52 WITA

Mualan Benyer, Mata Air Peradaban yang Menyatukan Alam, Tradisi, dan Masa Depan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:15 WITA

Algoritma Air dan Akar

Berita Terbaru