Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Mata Air, Menjaga Jati Diri Peradaban

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:37 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mualan Benyer memegang peranan penting dalam kehidupan budaya masyarakat Desa Telagawaru (foto: ist   / ceraken.id)

Mualan Benyer memegang peranan penting dalam kehidupan budaya masyarakat Desa Telagawaru (foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, masyarakat Desa Telagawaru, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur kembali menegaskan bahwa kemajuan tidak harus memutus hubungan manusia dengan alam dan tradisi.

Melalui perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2026 yang digelar pada Ahad, 21 Juni 2026, masyarakat menghadirkan ruang perjumpaan antara budaya, spiritualitas, dan kesadaran ekologis yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur.

Perhelatan yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ketiga tersebut bukan sekadar agenda budaya tahunan. Lebih dari itu, Molang Maliq menjadi manifestasi hubungan harmonis antara manusia dengan sumber kehidupan yang selama ini menopang keberlangsungan masyarakat, yakni Mata Air Mualan Benyer yang berada di Desa Telagawaru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mata Air yang Menjadi Nadi Kehidupan

Bagi masyarakat Desa Telagawaru, Mualan Benyer bukan sekadar sumber air. Mata air ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sosial, budaya, dan ekonomi warga. Kehadirannya melahirkan berbagai aktivitas kehidupan yang bertumpu pada keberlangsungan alam.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Molang Maliq Mualan Benyer 2026, Junaidi, menegaskan bahwa jati diri sebuah wilayah tidak hanya dibentuk oleh bentang geografisnya, melainkan juga oleh nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

“Jati diri sebuah tempat tidak hanya berdiri dari tanahnya, tetapi juga dari nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Mualan Benyer hingga hari ini bisa kita nikmati tentu karena peran masyarakat yang bersama-sama menjaganya,” ujar Junaidi.     

Mata air menjadi nadi kehidupan (audio video: ist / ceraken.id)

Menurutnya, keberadaan Mualan Benyer tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Telagawaru. Alam dan manusia berada dalam hubungan saling membutuhkan yang harus terus dirawat agar tetap lestari.

“Ketika alam sudah kehilangan eksistensinya, maka perlahan eksistensi kita sebagai manusia akan sirna. Mualan Benyer sebagai bukti nyata bahwa masyarakat dan mata air menjadi satu kesatuan untuk kita jaga dan lestarikan,” katanya.

Keberadaan mata air tersebut juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Salah satunya melalui aktivitas pengrajin sapu serabut kelapa dan sapu lidi yang berkembang di kawasan sekitar.

Baca Juga :  Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta

Proses produksi kerajinan tersebut membutuhkan ketersediaan air untuk merendam bahan baku sehingga keberadaan Mualan Benyer menjadi bagian penting dari mata pencaharian warga.

Ruang Sakral dalam Siklus Kehidupan Masyarakat

Selain memiliki fungsi ekologis dan ekonomi, Mualan Benyer juga memegang peranan penting dalam kehidupan budaya masyarakat Desa Telagawaru. Mata air ini menjadi pusat berbagai ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Berbagai tradisi masyarakat berawal dan berakhir di tempat tersebut. Mulai dari prosesi mandi pengantin, ritual Molang Maliq, khitanan, hingga berbagai kegiatan adat lainnya yang menjadikan mata air sebagai ruang sakral.

“Tempat ini disakralkan. Segala ritual tradisi adat masyarakat dipusatkan di sini. Mulai dari mandi penganten, molang maliq, khitanan, dan semua tradisi kebudayaan itu bersumber di Mata Air Mualan Benyer,” tutur Junaidi.

Bagi masyarakat Telagawaru, alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dihormati. Karena itu, ritual-ritual budaya yang berlangsung di Mualan Benyer menjadi simbol penghormatan terhadap alam sekaligus bentuk rasa syukur atas keberkahan yang diberikan.

Baca Juga :  Sirik na Pacce dan Seni Inklusif: Menjembatani Nilai Budaya dengan Ekspresi Disabilitas
Menuju Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Perhelatan Molang Maliq tahun ini juga menjadi momentum untuk memperkuat eksistensi tradisi lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Dalam rangkaian kegiatan turut ditampilkan berbagai ekspresi seni tradisi, termasuk kolaborasi dengan Perkumpulan Seni Menduli Selayar dan pertunjukan Musik Seni Tradisi Kebangru’an yang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Keberhasilan pencatatan Ritus Kebangru’an tersebut menjadi inspirasi bagi panitia dan masyarakat untuk memperjuangkan pengakuan serupa bagi Molang Maliq Mualan Benyer.

“Mudah-mudahan tahun depan kita berikhtiar bersama-sama untuk mengajukan Perhelatan Molang Maliq ini agar tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia,” ungkap Junaidi.

Menurutnya, pengakuan tersebut penting bukan semata-mata untuk memperoleh status budaya, tetapi untuk menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. Di dalam tradisi Molang Maliq terkandung pesan tentang kebersamaan, pelestarian lingkungan, penghormatan terhadap kearifan lokal, dan tanggung jawab menjaga alam bagi generasi mendatang.

“Kita hari ini hanya melanjutkan apa yang telah dilakukan para leluhur dengan mekanisme yang berbeda, dengan harapan ini bisa menjadi syiar bagi kita semua, syiar kebaikan, syiar kebersamaan, dan syiar menjaga alam,” pungkasnya. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Harmoni Alam dan Tradisi Mengalir dari Mualan Benyer
Menjaga Nyala Kebangru’an dari Telagawaru
Mualan Benyer, Mata Air Peradaban yang Menyatukan Alam, Tradisi, dan Masa Depan
Algoritma Air dan Akar
Betetulak, Jejak Harmoni Adat dan Islam yang Tetap Hidup di Rembiga
Sirik na Pacce dan Seni Inklusif: Menjembatani Nilai Budaya dengan Ekspresi Disabilitas
Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta
Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:42 WITA

Harmoni Alam dan Tradisi Mengalir dari Mualan Benyer

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:19 WITA

Menjaga Nyala Kebangru’an dari Telagawaru

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:37 WITA

Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Mata Air, Menjaga Jati Diri Peradaban

Selasa, 23 Juni 2026 - 18:52 WITA

Mualan Benyer, Mata Air Peradaban yang Menyatukan Alam, Tradisi, dan Masa Depan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:15 WITA

Algoritma Air dan Akar

Berita Terbaru