CERAKEN.ID — Di tengah rimbunnya alam Desa Telagawaru, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, terdapat sebuah mata air yang tidak hanya menjadi sumber kehidupan masyarakat, tetapi juga ruang sakral yang menyimpan jejak sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Mata Air Mualan Benyer telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga, tempat di mana hubungan antara manusia, alam, dan tradisi bertemu dalam harmoni yang terus dijaga hingga kini.
Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2026 yang digelar pada Minggu, 21 Juni 2026, kembali menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur tersebut. Kegiatan yang memasuki tahun ketiga penyelenggaraan dalam format festival budaya ini menjadi ruang bersama untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian alam sekaligus menjaga identitas budaya masyarakat setempat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Kepala Desa Telagawaru, Muhammad Rohdi, keberadaan Mualan Benyer merupakan karunia besar yang patut disyukuri dan dijaga bersama oleh seluruh masyarakat.
“Mari, di tempat yang sederhana ini, kami mengajak kepada kita semua untuk merenungi sebuah karunia Tuhan yang begitu luar biasa, sebuah mata air yang kemudian diekspresikan oleh masyarakat desa sebagai ungkapan syukur ke hadirat Allah SWT,” ujarnya.
Ruang Sakral yang Menghidupi Tradisi
Bagi masyarakat Telagawaru, Mualan Benyer bukan sekadar sumber air. Tempat ini telah lama disakralkan sebagai pusat berbagai ritual adat dan tradisi masyarakat yang terus berlangsung hingga hari ini.
Berbagai kegiatan seperti tasyakuran keluarga, molang maliq, mandi pengantin, khitanan, hingga berbagai tradisi lainnya dilaksanakan di kawasan tersebut.
Tidak hanya itu, Mualan Benyer juga memiliki nilai sejarah penting sebagai tempat lahirnya seni musik kebangru’an yang menjadi kebanggaan masyarakat Dusun Benyer. Tradisi-tradisi tersebut kemudian membentuk kesadaran kolektif masyarakat untuk terus menjaga kawasan mata air sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Muhammad Rohdi menegaskan bahwa alam, manusia, dan tradisi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
“Alam, manusia dan tradisi menjadi kesatuan harmoni, karena kami sadar bahwa keseimbangan hidup lahir dari relasi yang saling menghidupi. Ketika alam kehilangan eksistensinya, pada saat yang sama eksistensi manusia pun perlahan akan sirna,” katanya.
Kesadaran inilah yang menjadi dasar penyelenggaraan Molang Maliq Mualan Benyer. Meski secara formal baru memasuki tahun ketiga, nilai-nilai yang diusung dalam kegiatan tersebut sejatinya telah diwariskan oleh para leluhur sejak lama.

Generasi saat ini hanya melanjutkan semangat tersebut melalui pendekatan yang lebih adaptif tanpa meninggalkan nilai kebersamaan, kearifan lokal, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Perhelatan budaya ini diharapkan menjadi syiar kebaikan sekaligus media edukasi bagi masyarakat luas tentang pentingnya menjaga alam serta mewariskan kesadaran tersebut kepada generasi mendatang secara berkelanjutan.
Menjaga Alam, Merawat Budaya, Menggerakkan Ekonomi
Komitmen Pemerintah Desa Telagawaru terhadap pelestarian budaya tidak hanya diwujudkan melalui dukungan moral, tetapi juga melalui kebijakan anggaran yang konkret. Pemerintah desa secara konsisten memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan kebudayaan yang digagas masyarakat.
Muhammad Rohdi mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 pemerintah desa mengalokasikan anggaran sekitar Rp20 juta untuk mendukung kegiatan Perkumpulan Seni Menduli Selayar, termasuk membantu penerbitan Buku Molang Maliq karya Yuga Anggana. Sementara pada tahun 2026, Pemerintah Desa kembali mengalokasikan dana sebesar Rp3 juta khusus untuk kegiatan Molang Maliq Mualan Benyer.
“Pemerintah Desa akan selalu memberikan support penuh terhadap kegiatan kebudayaan di Desa Telagawaru,” tegasnya.
Di sisi lain, Mualan Benyer juga memiliki fungsi vital sebagai sumber air bersih bagi masyarakat. Melalui pengelolaan PAMDesa, mata air tersebut kini melayani lebih dari 1.000 sambungan rumah dengan cakupan layanan mencapai 100 persen. Dari pengelolaan tersebut, desa memperoleh Pendapatan Asli Desa (PADesa) sekitar Rp30 juta setiap tahun.
Melihat potensi yang dimiliki, Pemerintah Desa Telagawaru juga merencanakan pengembangan kawasan Mualan Benyer sebagai destinasi wisata desa. Langkah ini diperkuat dengan adanya hak guna pakai yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kepada pemerintah desa untuk mengelola kawasan tersebut.
Pengembangan wisata dirancang bukan semata-mata untuk kepentingan ekonomi, melainkan sebagai strategi menjaga keberlanjutan mata air, melestarikan budaya, dan membuka ruang ekonomi bagi masyarakat secara bersamaan.
“Rencana ini sebagai upaya menjaga dan mengamankan mata air secara berkelanjutan, di mana di samping menjaga alam serta merawat tradisi dan budaya, juga ada aktivitas ekonomi masyarakat desa,” jelas Rohdi.
Di akhir sambutannya, Kepala Desa Telagawaru menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Molang Maliq Mualan Benyer 2026, mulai dari Wakil Bupati Lombok Timur, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, para pemerhati budaya, hingga masyarakat yang terus menjaga semangat gotong royong.
Bagi masyarakat Telagawaru, kehadiran seluruh elemen tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian alam dan budaya tidak dapat dilakukan sendiri. Dibutuhkan sinergi lintas pihak agar Mualan Benyer tetap menjadi ruang publik yang hidup, menghidupi, dan memberi manfaat bagi generasi hari ini maupun masa depan. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































