Menelusuri Jejak Sejarah dari Kampung Sendiri Melalui Arkeolog Cilik Museum NTB

Rabu, 24 Juni 2026 - 23:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menanamkan kesadaran yang lebih besar kepada generasi muda (foto: museumntb / ceraken.id)

Menanamkan kesadaran yang lebih besar kepada generasi muda (foto: museumntb / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Puluhan siswa sekolah menengah pertama (SMP) dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat tampak antusias mengikuti kegiatan Belajar Bersama Arkeolog Cilik yang diselenggarakan Museum NTB, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan edukatif ini mengajak para pelajar mengenal sejarah dengan cara yang berbeda, yakni melalui pencatatan benda-benda cagar budaya serta pengamatan langsung terhadap situs-situs bersejarah yang ada di lingkungan sekitar mereka.

Berbekal lembar pencatatan dan semangat ingin tahu, para peserta diajak mengidentifikasi, mendokumentasikan, sekaligus memahami nilai penting berbagai peninggalan sejarah yang selama ini mungkin hanya mereka lihat sepintas tanpa mengetahui kisah yang tersimpan di baliknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Belajar Sejarah dari Ruang Hidup Masyarakat

Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam, menjelaskan bahwa Arkeolog Cilik merupakan bagian dari program Kotaku Museumku dan Kampungku Museumku yang mengusung konsep living museum, yakni museum yang hidup dan hadir di tengah masyarakat.

Para siswa belajar bahwa jejak peradaban tidak hanya tersimpan di ruang pamer museum (foto: museumntb / ceraken.id)

Jika pada pelaksanaan sebelumnya peserta belajar melalui simulasi ekskavasi di lingkungan museum, kali ini pendekatan yang digunakan lebih kontekstual. Para siswa diajak menyusuri kawasan bersejarah seperti Ampenan dan Mayura untuk mengenal langsung warisan budaya yang berada di sekitar mereka.

“Arkeolog Cilik ini mengajak anak-anak belajar tentang sejarah kota dan kampungnya sendiri. Kita ingin mereka mengenal tempat-tempat yang selama ini sering dilewati, tetapi belum mengetahui nilai sejarahnya, seperti kawasan Ampenan dan Mayura,” ujar Ahmad Nuralam.

Pemilihan Ampenan dan Mayura bukan tanpa alasan. Kedua kawasan tersebut merupakan saksi penting perjalanan sejarah Pulau Lombok yang menyimpan jejak perdagangan, pemerintahan, hingga dinamika sosial budaya masyarakat pada masa lampau.

Baca Juga :  Sepatu Dijinjing dan Pegangan Tangan

Menurut Nuralam, pengalaman melihat langsung bangunan bersejarah dan benda cagar budaya akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan hanya mempelajarinya melalui buku pelajaran.

“Jadi kita ajak mereka untuk melihat langsung dan memahami setiap bangunan, situs, maupun benda cagar budaya yang menjadi bagian dari sejarah,” katanya.

Lebih jauh, Museum NTB berharap kegiatan ini dapat memperkuat hubungan generasi muda dengan warisan budaya daerah sekaligus membangun kesadaran bahwa sejarah merupakan bagian penting dari identitas masyarakat.

Memperkuat hubungan generasi muda dengan warisan budaya daerah sekaligus membangun kesadaran (foto: museumntb / ceraken.id)

“Kami ingin menumbuhkan kesadaran bahwa sejarah tidak hanya ada di museum, tetapi juga hadir di lingkungan sekitar mereka,” pungkasnya.

Menumbuhkan Cinta Sejarah di Era Digital

Program Arkeolog Cilik sendiri merupakan inisiatif edukasi sejarah yang dirancang Museum NTB untuk mengenalkan dunia arkeologi kepada generasi muda melalui metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan. Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga diajak mengalami langsung proses mengenali dan mendokumentasikan tinggalan sejarah.

Manfaat kegiatan ini turut dirasakan para guru pendamping. Guru SMP Negeri 7 Pekat, Kabupaten Dompu, Adil Triyadi, menilai Arkeolog Cilik menjadi sarana pembelajaran yang mampu mendukung pengembangan karakter sekaligus memperluas wawasan peserta didik.

“Setiap kesempatan yang dapat mendukung perkembangan siswa selalu kami sambut. Ketika mendapatkan informasi tentang Arkeolog Cilik, kami langsung tertarik karena kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa,” ujarnya.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, Adil melihat pentingnya menghadirkan ruang-ruang pembelajaran yang mampu memperkuat keterikatan generasi muda terhadap akar budaya dan sejarah daerahnya.

Baca Juga :  Ramli di Senggigi
Museum NTB sesungguhnya sedang menanamkan kesadaran yang lebih besar kepada generasi muda (foto: museumntb / ceraken/id)

“Harapan kami, kegiatan ini dapat membuat siswa semakin mencintai sejarah, budaya, dan peninggalan budaya yang ada di NTB. Di tengah kemajuan digital yang begitu cepat, Arkeolog Cilik bisa menjadi wadah yang baik untuk mengingatkan generasi muda tentang pentingnya menjaga identitas budaya dan sejarah bangsa,” katanya.

Kesan mendalam juga dirasakan Berlian, salah seorang peserta dari SMP 6 Mataram. Ia mengaku mendapatkan banyak pengetahuan baru mengenai kawasan Ampenan yang selama ini hanya dikenalnya sebagai kota tua.

“Sebelumnya saya mengira Ampenan hanya kota tua biasa. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya mengetahui bahwa banyak sekali cerita dan peninggalan sejarah yang ada di sana,” tuturnya.

Bagi Berlian, kegiatan semacam ini sangat penting karena dapat membuka wawasan generasi muda tentang sejarah daerah yang mulai terlupakan. Ia berharap Arkeolog Cilik dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak pelajar di seluruh Nusa Tenggara Barat.

Melalui langkah sederhana berupa pencatatan dan pengenalan benda cagar budaya, Museum NTB sesungguhnya sedang menanamkan kesadaran yang lebih besar kepada generasi muda: bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi identitas yang akan menentukan arah masa depan.

Dari Ampenan dan Mayura, para siswa belajar bahwa jejak peradaban tidak hanya tersimpan di ruang pamer museum, tetapi juga hidup di jalan-jalan, bangunan, dan kampung yang mereka temui setiap hari. (*)

 

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: museumntb

Berita Terkait

Terbang Lebih Tinggi dari Pelangi
Jejak Predator Purba di Vitrin Waktu Museum NTB
Mister Jerman: Tak Datang ke Lombok Lagi, Tapi…
Bangku Menghadap Jalan Raya
Salam untuk Orang Tua di Kuburan
Ramli di Senggigi
Sepatu Dijinjing dan Pegangan Tangan
Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Berita Terkait

Rabu, 24 Juni 2026 - 23:03 WITA

Menelusuri Jejak Sejarah dari Kampung Sendiri Melalui Arkeolog Cilik Museum NTB

Senin, 22 Juni 2026 - 23:25 WITA

Terbang Lebih Tinggi dari Pelangi

Minggu, 21 Juni 2026 - 12:34 WITA

Jejak Predator Purba di Vitrin Waktu Museum NTB

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:05 WITA

Mister Jerman: Tak Datang ke Lombok Lagi, Tapi…

Senin, 15 Juni 2026 - 00:41 WITA

Bangku Menghadap Jalan Raya

Berita Terbaru