Sebilah Keris, Sejuta Peradaban: Museum Negeri NTB Menjaga Warisan Leluhur, Menggerakkan Masa Depan Ekonomi Kreatif

Selasa, 30 Juni 2026 - 00:01 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Keris". Warisan leluhur itu terus berbicara kepada generasi masa kini: bahwa sejarah harus dipelajari, budaya harus dirawat, dan identitas harus diwariskan (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan sekadar ruang penyimpanan benda-benda bersejarah. Di balik etalase yang menampilkan berbagai koleksi pusaka, museum menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan masa lalu dengan masa depan.

Salah satu koleksi yang memiliki makna paling mendalam adalah keris. Benda yang dahulu dikenal sebagai senjata tikam itu kini dipahami sebagai rekam jejak peradaban Nusantara, sekaligus diyakini memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi kreatif dan pariwisata budaya.

Melalui koleksi-koleksi keris yang dimilikinya serta rangkaian Museum Talk yang menghadirkan para ahli dan pelaku budaya, Museum Negeri NTB memperlihatkan bahwa sebilah keris sesungguhnya menyimpan kisah tentang teknologi, seni, sejarah, filosofi, hingga identitas bangsa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Budaya keris telah hidup hampir di seluruh wilayah Nusantara. Pada awal pembuatannya, keris berfungsi sebagai senjata tajam yang ditempa dari campuran besi, baja, dan titanium atau nikel sehingga menghasilkan bilah yang kuat sekaligus memunculkan motif khas yang dikenal sebagai pamor.

Seiring perjalanan waktu, fungsi keris berkembang jauh melampaui kegunaan praktisnya. Keris menjadi bagian dari kelengkapan upacara adat, simbol status sosial, lambang kehormatan, bahkan penanda kesempurnaan seorang laki-laki dalam tradisi Nusantara.

Perubahan fungsi tersebut turut memengaruhi tampilannya. Warangka dihiasi ukiran kayu pilihan, logam mulia, batu permata, hingga gading sehingga menjadikan keris sebagai karya seni yang memadukan kecakapan teknologi tempa dengan cita rasa estetika tinggi.

Di Nusa Tenggara Barat sendiri berkembang dua corak utama keris. Keris Lombok memperlihatkan kuatnya pengaruh budaya Jawa dan Bali, sedangkan Keris Sumbawa memperlihatkan kedekatan sejarah dengan Bugis dan Makassar.

Perjumpaan berbagai kebudayaan tersebut melahirkan karakter yang khas sekaligus menjadi bukti bahwa NTB sejak lama merupakan simpul penting dalam jalur peradaban Nusantara.

Museum Negeri NTB saat ini menyimpan beragam koleksi penting, di antaranya Sampari dari Bima, Keris Majapahit, Salongi atau keris kecil asal Bima, Keris Sumbawa, Keris Jawa, serta Keris Lombok.

Setiap koleksi menjadi sumber pengetahuan yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Nusantara mengembangkan teknologi metalurgi, seni ukir, serta nilai-nilai filosofis yang diwariskan lintas generasi.

Keris sebagai Dokumen Peradaban Nusantara

Pemahaman mengenai keris sebagai warisan budaya diperdalam melalui Museum Talk edisi 26 Februari 2026 yang dipandu Kepala Museum Provinsi NTB Ahmad Nuralam dengan menghadirkan budayawan sekaligus kolektor keris, H. Zulfikar (“Keris NTB: Jejak Silang Budaya dalam Sebilah Tosan Aji”, dalam Ceraken.id, Sabtu, 28 Februari 2026)

Baca Juga :  Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Mata Air, Menjaga Jati Diri Peradaban

Dalam forum tersebut, H. Zulfikar menegaskan bahwa keris tidak boleh dipandang sekadar benda pusaka.

“Keris bukan sekadar pusaka yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan dokumen kebudayaan yang merekam perjalanan panjang peradaban Nusantara,” ujarnya.

Menurutnya, setiap bagian keris menyimpan cerita. Bilah, pamor, luk, hingga warangka merupakan hasil perpaduan teknologi, estetika, filsafat, serta pengalaman sejarah masyarakat yang melahirkannya. Membaca keris berarti membaca perjalanan manusia Nusantara melalui karya budaya yang ditempa dengan kecerdasan sekaligus nilai-nilai spiritual yang luhur.

H. Zulfikar juga menjelaskan bahwa Lombok merupakan contoh nyata keberhasilan akulturasi budaya. Pengaruh Jawa, Bali, Melayu, Bugis, Bima, hingga Sumbawa tidak menghapus identitas lokal, tetapi justru melahirkan bentuk keris yang memiliki karakter tersendiri.

“Lombok layak disebut sebagai muara keris Nusantara karena menjadi ruang pertemuan berbagai tradisi yang melahirkan kekayaan budaya bernilai tinggi,” ungkapnya.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa keris Lombok bukan hanya produk budaya lokal, melainkan representasi dialog panjang antarkebudayaan yang berlangsung selama berabad-abad.

Namun demikian, menurut H. Zulfikar, tantangan terbesar saat ini bukanlah menyelamatkan benda fisik keris, melainkan mengubah cara pandang masyarakat terhadapnya.

“Nilai utama keris sesungguhnya berada pada sejarah, seni, teknologi, filosofi, dan identitas budaya yang dikandungnya,” katanya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah, museum, dunia pendidikan, komunitas budaya, hingga para empu untuk bersama-sama membangun literasi keris melalui pendidikan, penelitian, pelestarian, serta regenerasi perajin.

Museum sebagai Ruang Belajar dan Penggerak Ekonomi Budaya

Pembahasan mengenai keris kemudian berkembang dalam Museum Talk edisi 6 Maret 2026 yang menghadirkan Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB sekaligus Ketua Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI) Korwil NTB, Lalu Kusnawan (“Keris, Dari Pusaka leluhur Menjadi Motor Ekonomi Kreatif”, dalam Ceraken.id, Sabtu,7 Maret 2026)

Forum tersebut memperlihatkan bahwa keris kini memasuki babak baru. Ia tidak lagi berhenti sebagai pusaka budaya, tetapi telah menjadi bagian dari ekonomi kreatif berbasis warisan budaya.

Pengalaman memperkenalkan Keris Lombok ke berbagai forum internasional hingga menjadikannya sebagai cendera mata resmi pada ajang MotoGP Mandalika menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal memiliki daya saing global apabila dikelola secara profesional.

Lalu Kusnawan menegaskan bahwa kekuatan ekonomi keris sesungguhnya tidak hanya berada pada nilai jual benda itu sendiri.

Baca Juga :  Harmoni Alam dan Tradisi Mengalir dari Mualan Benyer

“Kekuatan keris ada pada ekosistemnya, mulai dari empu, perajin warangka, pengrajin tatah logam, pengolah kayu, kurator, hingga pelaku pariwisata yang saling menghidupi,” ujarnya.

Menurutnya, regenerasi para empu dan pelaku budaya menjadi pekerjaan besar yang harus segera dijawab agar tradisi perkerisan tidak terputus. Dukungan kebijakan pemerintah juga diperlukan agar karya budaya memperoleh penghargaan ekonomi yang layak.

Sementara itu, Kepala Museum Provinsi NTB Ahmad Nuralam menegaskan bahwa museum masa kini harus hadir sebagai ruang yang hidup.

“Museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga pusat pembelajaran, pewarisan nilai budaya, sekaligus penggerak ekonomi berbasis kebudayaan,” kata Ahmad Nuralam.

Melalui konsep “Kotaku Museumku, Kampungku Museum”, Museum Negeri NTB ingin menjadikan masyarakat sebagai bagian dari proses pelestarian budaya. Dalam konsep tersebut, museum tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi simpul yang menghubungkan pelestarian, pendidikan, kreativitas, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Dari Etalase Museum Menuju Masa Depan Peradaban

Dua penyelenggaraan Museum Talk tersebut menghadirkan benang merah yang sama, yakni bahwa masa depan kebudayaan tidak cukup dijaga hanya melalui konservasi benda-benda bersejarah. Warisan budaya harus diberi ruang untuk terus hidup, dipelajari, dimanfaatkan, dan dikembangkan sesuai tantangan zaman.

Dalam konteks itulah keris memperoleh makna baru. Ia bukan sekadar simbol romantisme masa lalu ataupun benda pusaka yang disimpan di balik kaca museum. Keris menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan industri kreatif, produk kerajinan, pendidikan sejarah, diplomasi budaya, hingga pariwisata berbasis identitas lokal.

Museum Negeri NTB memperlihatkan bahwa setiap koleksi keris menyimpan peluang besar untuk membangun narasi kebudayaan yang mampu memperkuat jati diri daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Ketika masyarakat memahami bahwa nilai sebuah keris terletak pada pengetahuan, kreativitas, dan peradaban yang dikandungnya, maka pelestarian tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai investasi budaya.

Sebilah keris akhirnya mengajarkan bahwa peradaban besar tidak hanya dibangun oleh kekuatan senjata, melainkan oleh kemampuan manusia menjaga ingatan kolektifnya. Dari ruang-ruang Museum Negeri NTB, warisan leluhur itu terus berbicara kepada generasi masa kini: bahwa sejarah harus dipelajari, budaya harus dirawat, dan identitas harus diwariskan.

Di sanalah keris menemukan peran barunya; tetap menjadi pusaka, sekaligus menjadi penggerak masa depan ekonomi kreatif dan pariwisata budaya Indonesia. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Ketika Kebudayaan Menjadi Jalan Dakwah: Ikhtiar Baru Merawat Peradaban Islam Indonesia
Harmoni Alam dan Tradisi Mengalir dari Mualan Benyer
Menjaga Nyala Kebangru’an dari Telagawaru
Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Mata Air, Menjaga Jati Diri Peradaban
Mualan Benyer, Mata Air Peradaban yang Menyatukan Alam, Tradisi, dan Masa Depan
Algoritma Air dan Akar
Betetulak, Jejak Harmoni Adat dan Islam yang Tetap Hidup di Rembiga
Sirik na Pacce dan Seni Inklusif: Menjembatani Nilai Budaya dengan Ekspresi Disabilitas

Berita Terkait

Minggu, 5 Juli 2026 - 09:18 WITA

Ketika Kebudayaan Menjadi Jalan Dakwah: Ikhtiar Baru Merawat Peradaban Islam Indonesia

Selasa, 30 Juni 2026 - 00:01 WITA

Sebilah Keris, Sejuta Peradaban: Museum Negeri NTB Menjaga Warisan Leluhur, Menggerakkan Masa Depan Ekonomi Kreatif

Rabu, 24 Juni 2026 - 19:42 WITA

Harmoni Alam dan Tradisi Mengalir dari Mualan Benyer

Rabu, 24 Juni 2026 - 13:19 WITA

Menjaga Nyala Kebangru’an dari Telagawaru

Rabu, 24 Juni 2026 - 12:37 WITA

Molang Maliq Mualan Benyer: Merawat Mata Air, Menjaga Jati Diri Peradaban

Berita Terbaru

(foto: ist / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Indonesia SAKTI

Senin, 6 Jul 2026 - 12:02 WITA

Penulis (kiri) membahas sepak bola dengan Iwan Azis (tengah) dan Mustam Arif di salah satu warkop di Makassar (foto: ist / ceraken.id)

NARASI

Ngopi, Nobar, dan Sepak Bola

Senin, 6 Jul 2026 - 10:25 WITA

Sapi dianggap sebagai tempat  menabung yang efektif (foto: ss / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Sapi Lombok Lebih Cantik Ketimbang Sapi Swiss

Senin, 6 Jul 2026 - 08:58 WITA