Ketika Kebudayaan Menjadi Jalan Dakwah: Ikhtiar Baru Merawat Peradaban Islam Indonesia

- Penulis

Minggu, 5 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kebudayaan tidak cukup hanya dilestarikan. Ia perlu terus diproduksi, dipikirkan, didokumentasikan, dan diwariskan (foto: kemenbud.go.id /ceraken.id)

Kebudayaan tidak cukup hanya dilestarikan. Ia perlu terus diproduksi, dipikirkan, didokumentasikan, dan diwariskan (foto: kemenbud.go.id /ceraken.id)

CERAKEN.ID — Ada masa ketika kebudayaan dipandang sekadar warisan yang harus dijaga. Padahal, kebudayaan juga merupakan ruang hidup yang terus bertumbuh; tempat nilai, ingatan, dan kreativitas saling bertemu melahirkan peradaban baru.

Di titik itulah Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (LSBPI-MUI) menemukan kesamaan pandang: budaya Islam bukan hanya jejak masa lalu, tetapi kekuatan yang dapat menyatukan masyarakat sekaligus menggerakkan masa depan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dengan jajaran LSBPI-MUI di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Selasa (30/6/2026). Pertemuan itu tidak berhenti pada seremoni kelembagaan, melainkan membuka pembicaraan mengenai arah baru pengembangan budaya Islam Indonesia melalui berbagai program kolaboratif.

Budaya Islam yang Terus Bertumbuh

Bagi Kementerian Kebudayaan, pelestarian budaya Islam tidak hanya berarti menjaga bangunan-bangunan tua atau merawat benda-benda bersejarah. Yang tak kalah penting adalah memelihara berbagai ekspresi budaya yang lahir dari perjumpaan Islam dengan tradisi Nusantara selama berabad-abad.

Karena itu, pelindungan dilakukan pada dua sisi sekaligus. Di satu sisi, pemerintah terus merawat masjid-masjid bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Di sisi lain, ruang kreatif dibuka bagi berbagai ekspresi budaya Islam yang terus berkembang dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu ikhtiar itu hadir melalui Santri Film Festival, yang kini menjadi bagian dari program prioritas Dana Indonesiaraya.

“Yang kita buat platformnya itu salah satunya di bidang film, yaitu Santri Film Festival, yang sekarang menjadi bagian dari kegiatan strategis dan prioritas di Dana Indonesiaraya. Karena kita yakin bahwa di pesantren juga cukup banyak talenta-talenta. Melalui Santri Film Festival, Kementerian Kebudayaan memberikan ruang bagi talenta-talenta kreatif di lingkungan pesantren untuk mengangkat berbagai cerita, ajaran, dakwah, maupun kehidupan pesantren melalui medium film,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon.

Film, dalam pandangan pemerintah, hanyalah satu pintu. Ruang kolaborasi juga terbuka bagi musik Islami, kasidah, seni pertunjukan, hingga berbagai bentuk kreativitas yang tumbuh dari masyarakat.

Baca Juga :  Meriri Gubuk: Membaca Kampung, Menemukan Jati Diri Bersama
Menyusun Arah Baru Peradaban

Pertemuan itu sekaligus menjadi ruang pematangan agenda Pra-Kongres Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) bertema Arah Baru Budaya Islam Indonesia: Budaya Islam sebagai Kekuatan Dakwah, Akar Persatuan, dan Kemajuan Bangsa.

Forum yang menjadi bagian dari Maestro Summit 2026 tersebut dijadwalkan berlangsung pada 18–19 Juli 2026 di Pondok Pesantren Daar El-Qolam, Gintung, Balaraja, Tangerang. Seniman, budayawan, ulama, akademisi, hingga tokoh masyarakat akan dipertemukan untuk merumuskan posisi budaya Islam dalam pembangunan bangsa.

Bagi LSBPI-MUI, forum itu bukan sekadar pertemuan intelektual, melainkan langkah menyusun peta jalan kebudayaan Islam Indonesia.

“Kami berharap dalam Maestro Summit nanti dapat dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Kebudayaan dan MUI sebagai landasan sinergi berbagai program ke depan. Kami juga mengundang Menteri Kebudayaan untuk menyampaikan pidato peradaban sebagai bagian dari penyusunan Manifesto Peradaban Islam Indonesia,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Seni Budaya MUI, Erick Yusuf.

Selain Festival Film Santri, LSBPI-MUI menawarkan berbagai bentuk kerja sama lain, mulai dari penelitian sejarah Islam Indonesia, pengembangan seni musik Islami, lomba cipta lagu anak, hingga penguatan seni budaya Islam di berbagai daerah.

Baca Juga :  Lewat Persami, Sanggar Seni Antara Nusantara Perkuat Karakter Anak Melalui Seni Budaya Makassar

Pada bidang literasi, lembaga tersebut telah menyusun tujuh jilid Ensiklopedi Budaya Islam Indonesia. Pekerjaan berikutnya adalah menyusun Sejarah Umat Islam Indonesia dan Ensiklopedi Seni Budaya Islam Indonesia yang akan mendokumentasikan sekitar 500 unsur budaya Islam dari seluruh Nusantara.

Kolaborasi sebagai Jalan Pemajuan Kebudayaan

Menanggapi berbagai gagasan tersebut, Menteri Kebudayaan memastikan bahwa pemerintah membuka ruang dukungan melalui skema pendanaan Dana Indonesiaraya bagi komunitas, organisasi, maupun lembaga kebudayaan yang memiliki program strategis.

“Kementerian Kebudayaan mempersilakan Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI mengajukan proposal program sesuai mekanisme yang berlaku, termasuk untuk program penulisan sejarah, penyusunan ensiklopedia, maupun berbagai kegiatan pemajuan kebudayaan lainnya,” kata Fadli Zon.

Pertemuan itu turut dihadiri Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, Staf Khusus Menteri Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional Annisa Rengganis, Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual I Made Dharma Sutedja, Sekretaris LSBPI-MUI Dwi Budiman Assiroji, serta Wakil Ketua LSBPI-MUI sekaligus Ketua Panitia Maestro Summit 2026 Anifah Qowiyatun.

Di tengah derasnya perubahan sosial dan teknologi, kolaborasi semacam ini menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak cukup hanya dilestarikan. Ia perlu terus diproduksi, dipikirkan, didokumentasikan, dan diwariskan.

Ketika dakwah bertemu seni, sejarah bertemu kreativitas, dan negara bertemu komunitas, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan sekadar program kebudayaan, melainkan fondasi bagi peradaban Indonesia yang tetap berakar pada identitasnya sekaligus terbuka menghadapi masa depan. (*/aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: kemenbud.go.id

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA