CERAKEN.ID — Di sebuah ruang bernama Rplay Lombok Space EUM, puluhan kanvas berjajar tanpa banyak suara. Namun setiap guratan yang membentang di atas permukaannya seperti sedang berbicara.
Ada garis-garis yang saling berpotongan, warna-warna cerah yang mengalir tanpa pola yang kaku, sekaligus menghadirkan ruang kontemplasi bagi siapa saja yang memandangnya. Itulah suasana yang ditawarkan Komunitas Sekenem Art melalui pameran seni rupa bertajuk “Gurat Mahardika”, yang berlangsung sejak 10 Juni hingga 10 Juli 2026.
Di balik kesederhanaan visualnya, tersimpan perjalanan panjang pencarian artistik, pergulatan spiritual, hingga kegelisahan terhadap masa depan ekosistem seni rupa di Nusa Tenggara Barat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tapak Dara, Garis Sederhana yang Menyimpan Makna Kehidupan
Saat ditemui di lokasi pameran pada Selasa (30/6/2026), anggota Komunitas Sekenem Art, Mahendra, menjelaskan bahwa sekitar 40 karya berukuran 3R, 4R, hingga 5R dipamerkan. Seluruh karya tersebut tetap berpijak pada konsep yang selama puluhan tahun menjadi identitas artistiknya, yakni Tapak Dara.
Bagi Mahendra, Tapak Dara bukan sekadar bentuk visual menyerupai tanda tambah (+). Ia merupakan filosofi yang lahir dari kebudayaan Nusantara, terutama tradisi Bali dan Lombok, sebagai simbol keseimbangan, penolak bala, sekaligus pembawa energi positif.
“Tapak Dara itu bukan saya gambar secara utuh. Itu konsep. Yang penting adalah semangatnya. Ada garis vertikal dan horizontal yang saling bertemu sebagai simbol keseimbangan. Itu lebih kepada spiritual daripada bentuk visualnya,” ujar Mahendra.
Dalam tradisi lokal, Tapak Dara dipercaya sebagai simbol magis yang menjaga keseimbangan alam, menghalau energi negatif dari berbagai penjuru, sekaligus menjadi doa bagi keselamatan dan kemakmuran. Spiritualitas itulah yang diterjemahkan Mahendra ke dalam bahasa abstrak melalui garis, tekstur, dan warna.
Meski tampak sederhana, garis-garis tersebut justru menyimpan kedalaman makna. Ia mengingat istilah “garis sakti” yang pernah diperkenalkan perupa abstrak Bli Made Budhiana; garis yang bukan sekadar unsur rupa, melainkan medium energi dan ekspresi batin. Dalam karya-karya Mahendra, garis itu menjelma sebagai ruang pertemuan antara kesadaran, alam, dan dimensi spiritual.
Baginya, lukisan-lukisan tersebut saat ini masih berbicara tentang relasi manusia dengan alam. Namun pencarian itu belum selesai.
“Sekarang karya saya lebih banyak tentang hubungan manusia dengan alam. Mungkin nanti saya melukis hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam bawah sadar, atau hubungan manusia dengan Tuhan. Empat garis itulah sebenarnya yang sedang saya cari.”
Perjalanan menuju bahasa visual tersebut bukan sesuatu yang instan. Sejak lulus SMA sekitar tahun 1987, Mahendra mulai menempuh proses panjang sebagai perupa. Pengaruh pamannya yang juga seorang pelukis menjadi pintu masuk awal. Ia mencoba berbagai media, mulai dari ukuran kartu pos, cat minyak, akrilik, hingga berbagai teknik campuran.
“Namanya juga pencarian, semua media saya coba. Yang penting bagaimana akhirnya menemukan sesuatu yang benar-benar khas dari diri sendiri.”
Kini hampir seluruh karyanya menggunakan media akrilik dengan dominasi warna-warna terang.

“Saya memilih warna-warna cerah karena berharap masa depan juga cerah. Itu harapan seorang seniman. Sekarang keadaan serba abu-abu, tidak terang, tidak gelap. Mudah-mudahan ke depan semuanya lebih cerah.”
Fragmentasi: Saat Alam Bawah Sadar Mengambil Alih Kuas
Salah satu karya yang paling menyita perhatian dalam pameran ini berjudul “Fragmentasi”, sebuah lukisan akrilik berukuran 40 x 60 sentimeter.
Permukaannya dipenuhi tekstur tebal hasil teknik palet. Lapisan-lapisan cat membentuk guratan yang kuat dengan permainan warna-warna terang yang seolah muncul secara spontan.
Mahendra mengaku proses penciptaannya justru banyak dipengaruhi oleh alam bawah sadar.
“Ketika melukis saya sering tidak sadar nanti jadinya seperti apa. Justru alam bawah sadar yang lebih dominan. Di situlah konsep Tapak Dara bekerja.”
Karena khawatir inspirasi menghilang begitu saja, seluruh peralatan melukis selalu ia letakkan di dekat tempat tidurnya.
“Kadang saya bangun jam tiga dini hari, langsung melukis. Makanya alat-alat selalu saya simpan di bawah atau di samping tempat tidur supaya ide itu tidak hilang.”
Baginya, momentum kreatif tidak mengenal waktu. Inspirasi datang tanpa jadwal dan harus segera dituangkan sebelum lenyap.
Melalui “Fragmentasi”, Mahendra tidak sedang menggambarkan simbol Tapak Dara secara eksplisit. Ia justru menghadirkan ruhnya. Garis-garis yang saling bertindih, tekstur yang menonjol, dan ledakan warna menjadi metafora atas dinamika kehidupan yang terus bergerak di antara keteraturan dan kekacauan.
Selesai Melukis, Lalu Siapa Menjaga Kehidupan Seniman?
Di balik optimisme warna-warna cerah itu, Mahendra menyimpan kegelisahan yang jauh lebih besar mengenai kehidupan para perupa di NTB.
Menurutnya, rendahnya jumlah pengunjung pameran menunjukkan bahwa ekosistem seni rupa di daerah belum tumbuh sebagaimana mestinya. Persoalannya bukan semata pada kemampuan seniman menghasilkan karya, melainkan bagaimana karya itu dapat hidup di tengah masyarakat.
“Tugas kami sebagai seniman sebenarnya sudah selesai ketika karya itu lahir. Pertanyaannya, setelah itu siapa yang melanjutkan? Apakah seniman juga harus menjadi penjual, menjadi promotor, menjadi pemasar sekaligus?”

Mahendra menilai pemerintah masih belum mengambil peran strategis dalam membangun ekosistem seni yang berkelanjutan.
“Saya melihat peran pemerintah masih minim. NTB ini mau dibawa ke mana? Kalau memang pariwisata, ya genjot pariwisata. Kalau pertanian, ya genjot pertanian. Jangan semuanya setengah-setengah.”
Ia berharap keberadaan Dinas Kebudayaan NTB dapat menjadi penghubung antara seniman, masyarakat, dan pasar seni.
“Kami sudah selesai dengan proses berkarya. Sekarang siapa yang punya tugas berikutnya? Saya berharap pemerintah ikut memikirkan bagaimana nasib para seniman setelah karya itu selesai dibuat.”
Harapan lain juga ditujukan kepada para pelaku seni sendiri agar lebih sering berkumpul, berdiskusi, dan merumuskan langkah bersama untuk memperkuat posisi seni rupa di daerah.
Komunitas Sekenem Art sendiri lahir dari kebersamaan enam perupa senior yang telah lama berproses. Awalnya mereka ingin menggunakan nama “Six”. Namun Mahendra menganggap nama itu kurang merepresentasikan semangat kolektif.
“Saya bilang jangan pakai ‘Six’, nanti kesannya seniman sakit. Akhirnya karena waktu itu kami duduk di sekenem, muncul ide memakai nama Sekenem. Pak IGB Lingsartha Patra juga mengatakan sekenem itu seperti enam tiang penyangga. Akhirnya nama itu kami pakai sampai sekarang.”
Semangat kebersamaan tersebut kini menjadi fondasi komunitas dalam menjaga keberlangsungan praktik seni rupa di Lombok.
Harapan serupa juga disampaikan Mr Red, pemilik Rplay Lombok, yang menyediakan ruang bagi penyelenggaraan pameran tersebut.
Menurutnya, minimnya galeri seni dan rendahnya minat masyarakat terhadap seni rupa menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
“Di Lombok belum banyak galeri lukisan, dan masyarakat juga belum terlalu tertarik dengan art atau seni. Kami berharap bisa terus bekerja sama mencari win-win solution antara perusahaan dan para pelukis agar mereka juga bisa memperoleh penghasilan.”
Ia meyakini frekuensi pameran harus terus diperbanyak agar masyarakat semakin akrab dengan seni.
“Kalau orang sering melihat pameran, lama-lama pikirannya akan terbuka. Dari situ mudah-mudahan mulai muncul transaksi dan kehidupan seni rupa ikut bergerak.”
Pada akhirnya, “Gurat Mahardika” bukan hanya menghadirkan puluhan karya abstrak yang memanjakan mata. Pameran ini juga mengajak publik membaca garis sebagai bahasa batin, warna sebagai harapan, dan seni sebagai ruang perjumpaan antara manusia, alam, serta spiritualitas.
Di saat yang sama, pameran ini menyuarakan satu pesan penting: karya seni tidak berhenti ketika selesai dilukis. Ia membutuhkan ekosistem yang mampu merawatnya agar tetap hidup, diapresiasi, dan memberi kehidupan bagi para penciptanya. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































