CERAKEN.ID — Mataram — Sebuah kota tidak pernah benar-benar tua. Yang bertambah adalah usianya. Yang berubah adalah wajahnya. Tetapi yang membuat sebuah kota tetap hidup adalah ingatan, identitas, dan harapan yang terus dirawat oleh orang-orang di dalamnya.
Maka ketika Kota Mataram memasuki usia ke-33 pada 31 Agustus mendatang, yang sedang disiapkan bukan sekadar sebuah perayaan. Ada sebuah simbol yang terlebih dahulu harus menemukan maknanya.
Logo, Cara Bercerita
Bagi sebagian orang, logo mungkin hanya sebentuk gambar. Angka, warna, garis, dan bentuk yang disusun agar terlihat menarik.
Tetapi bagi sebuah kota, logo adalah cara bercerita.
Ia menjadi wajah yang pertama kali dilihat, sekaligus pesan yang ingin ditinggalkan. Di dalamnya harus ada masa lalu yang tidak dilupakan, hari ini yang sedang dijalani, dan masa depan yang ingin dituju.
Karena itulah, perjalanan logo HUT ke-33 Kota Mataram tidak dimulai dari meja desain. Ia dimulai dari suara warga.
Tim Kreatif Diskominfo Kota Mataram membuka ruang partisipasi publik untuk mencari tema yang dianggap paling mewakili semangat Mataram hari ini. Sebanyak 33 gagasan tema terkumpul. Angka 33 seolah menjadi pembuka cerita.
Dari puluhan gagasan itu, proses kurasi dimulai. Sebagian dipertahankan, sebagian harus dilepaskan. Proses dilakukan secara manual sekaligus menggunakan bantuan Artificial Intelligence (AI), bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk memperluas cara membaca dan menemukan kemungkinan.
Namun pada akhirnya, teknologi hanya alat. Yang menentukan tetap manusia, nilai, dan karakter kota.
Empat indikator kemudian menjadi kompas. Kolaborasi dan masa depan. People centered atau kota yang berorientasi pada manusia. Liveable city and sustainability atau kota yang layak hidup dan berkelanjutan. Serta harmoni dan identitas kota.
Empat kata kunci itu bukan sekadar istilah pembangunan. Ia merupakan gagasan yang kerap muncul dalam pidato dan pesan Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana.
Masa Lalu, Masa Kini
Dari sana, tujuh tema terpilih. Ketujuhnya kemudian dibawa ke meja pimpinan. Dan sebuah kalimat akhirnya dipilih:
“Merawat Kota, Menumbuhkan Harapan.”
Ada harapan tentang Mataram yang belum selesai ditumbuhkan (av: diskominfo kota mataram / ceraken.id)
Kalimat itu kemudian menjadi ruh yang harus diterjemahkan ke dalam sebuah bentuk.
Tim Kreatif Diskominfo Kota Mataram kemudian bergandengan tangan dengan pelaku industri kreatif di bidang desain grafis. Tiga alternatif desain dirancang. Prosesnya dikawal agar identitas visual yang lahir tidak keluar dari color branding Kota Mataram yang selama ini telah dibangun.
Sampai akhirnya satu desain dipilih. Dengan sejumlah koreksi dan penyempurnaan, desain tersebut kembali diproses hingga dinyatakan final. Yang muncul bukan sekadar angka 33.
Di dalamnya terdapat ‘Rumah Lumbung Sasak’, yang diterjemahkan melalui bentuk gapura Taman Sangkareang, sebuah ruang publik yang telah menjadi bagian dari wajah dan ingatan warga Mataram.
Bentuk tradisi itu kemudian bertemu dengan angka 33. Masa lalu bertemu masa kini. Identitas bertemu modernitas.
Dan semuanya dirangkai dalam komposisi yang sederhana, simetris, serta mudah dikenali.
Kesimetrisan itu bukan tanpa makna. Ia menjadi simbol keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian budaya; antara kemajuan kota dan manusia yang menghidupinya; antara apa yang hendak dicapai dan apa yang tidak boleh ditinggalkan.
Representasi Nilai dan Arah
Ditemui seusai rapat persiapan Ulang Tahun Kota Mataram pada Senin (03/08), Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram, HM. Ramadhani, mengatakan logo HUT ke-33 dirancang bukan semata untuk menjadi penanda perayaan, melainkan sebagai representasi nilai dan arah Kota Mataram.
“Kami ingin logo ini tidak berhenti sebagai identitas visual HUT. Di dalamnya harus ada cerita tentang Kota Mataram, tentang bagaimana kita merawat apa yang sudah kita miliki, sekaligus menumbuhkan harapan untuk masa depan. Karena itu prosesnya kami mulai dari masyarakat, kemudian kami padukan dengan karakter dan arah pembangunan kota,” kata Ramadhani.
Pada akhirnya, sebuah logo memang hanya terdiri dari garis, warna, dan bentuk. Tetapi makna tidak pernah sesederhana itu.
Ada suara warga di dalamnya. Ada gagasan tentang kota yang manusiawi. Ada budaya yang ingin tetap hidup. Ada ruang publik yang ingin terus dirawat. Dan ada harapan tentang Mataram yang belum selesai ditumbuhkan.
Karena usia 33 bukan tentang seberapa jauh sebuah kota telah berjalan. Melainkan tentang satu pertanyaan yang jauh lebih penting : Apa yang akan kita rawat, dan harapan seperti apa yang ingin kita tumbuhkan bersama?
Dan Mataram telah memilih jawabannya:
“Merawat Kota, Menumbuhkan Harapan.” (*)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: tk diskominfo



























































