Now for Climate: Saat NTB Menagih Tanggung Jawab Generasi Kini

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perjuangan menyelamatkan iklim harus dimulai sekarang. Bukan besok. Bukan nanti. Melainkan saat ini juga (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

Perjuangan menyelamatkan iklim harus dimulai sekarang. Bukan besok. Bukan nanti. Melainkan saat ini juga (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah semakin nyata dampak perubahan iklim, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan lingkungan.

Pesan itu mengemuka dalam Apel Siaga Puncak Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang digelar di Lapangan Hutan Nuraksa Kumbi, Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Sabtu (20/6/2026).

Mengusung tema “Now for Climate” atau “Sekarang untuk Iklim”, peringatan tahun ini menjadi pengingat bahwa ancaman krisis lingkungan tidak lagi berada di masa depan. Dampaknya telah hadir di depan mata dan membutuhkan tindakan nyata dari seluruh elemen masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Abul Chair, yang memimpin apel siaga tersebut menegaskan bahwa waktu untuk bertindak adalah sekarang, bukan nanti.

“Sekarang, bukan nanti atau besok. Lingkungan tidak memberi kesempatan kepada kita untuk terlambat. Ketika kita terlambat menyelamatkan lingkungan, dampaknya bisa menjadi kerusakan yang tidak dapat diperbaiki kembali,” tegasnya.

Pembangunan Bukan Alasan Merusak Alam

Dalam pidatonya, Abul Chair menyoroti masih adanya pola pikir yang menganggap kerusakan lingkungan sebagai konsekuensi yang dapat diterima demi pembangunan. Menurutnya, paradigma tersebut harus segera ditinggalkan.

Ia mengingatkan bahwa pembangunan sejati harus berjalan seiring dengan upaya menjaga keberlanjutan sumber daya alam. Menebang pohon tanpa melakukan pemulihan, lalu menggantinya dengan beton dan bangunan, bukanlah bentuk kemajuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Jangan sampai kerusakan lingkungan dibenarkan atas nama pembangunan. Menebang pohon tanpa upaya pemulihan dan menggantinya dengan beton bukanlah pembangunan yang berkelanjutan,” katanya.

Peringatan tersebut menjadi relevan di tengah meningkatnya kebutuhan pembangunan infrastruktur dan kawasan permukiman yang sering kali berhadapan dengan isu konservasi lingkungan.

Baca Juga :  Rahmatan Lil Alamin di Panggung Sasambo

Sampah dan Kesadaran Kolektif

Selain menyoroti pembangunan, Sekda NTB juga mengkritik rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam mengelola sampah. Ia menyinggung kebiasaan membuang sampah ke sungai dengan harapan sampah tersebut akan hanyut menuju tempat pemrosesan akhir.

Menurutnya, cara pandang seperti itu justru mempercepat kerusakan lingkungan dan memperburuk kualitas ekosistem sungai.

“Sering kali sampah kita titipkan di sungai dan berharap bisa sampai sendiri ke TPA. Cara berpikir seperti ini justru menjadi bagian dari penyebab kerusakan lingkungan,” ujarnya.

Sebelum mengikuti apel siaga, Abul Chair juga membuka pameran kendaraan listrik yang menjadi bagian dari kampanye transportasi ramah lingkungan. Langkah tersebut dinilai sebagai salah satu upaya konkret mengurangi emisi karbon dan dampak perubahan iklim.

Di penghujung sambutannya, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, komunitas lingkungan, masyarakat adat, hingga warga NTB untuk terus merawat bumi sebagai warisan bersama.

“Saya mengajak kita semua untuk bersama-sama menjaga bumi ini. Semangat menjaga lingkungan harus terus kita rawat demi masa depan NTB yang lebih baik,” pungkasnya.

Dari Pasar Murah hingga Penanaman Pohon

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) NTB, H. Didik Mahmud Gunawan Hadi, ST., M.Si., melaporkan berbagai rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Menurut Didik, peringatan tahun ini sengaja dirancang tidak sekadar bersifat seremonial. Berbagai aksi nyata dilaksanakan dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.

Baca Juga :  Merawat Masa Depan Mandalika Melalui Dialog dan Kolaborasi

Salah satu program yang mendapat perhatian besar adalah Pasar Pangan Murah yang digelar pada 5 Juni di kawasan TPA Regional Kebon Kongok dan Desa Taman Ayu. Kegiatan hasil kolaborasi DLHK NTB dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB tersebut membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Selain itu, aksi bersih-bersih massal di sepanjang jalur Bypass Bandara Internasional Lombok pada 6 Juni berhasil mengumpulkan sekitar 4,3 ton sampah dengan melibatkan sekitar 1.200 peserta.

Rangkaian kegiatan lainnya meliputi telekonferensi bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, penyaluran kompensasi dampak lingkungan kepada delapan desa di sekitar TPA Regional Kebon Kongok, hingga pameran produk UMKM berbasis lingkungan yang digelar pada puncak acara di Hutan Nuraksa Kumbi.

Didik juga mengungkapkan bahwa Menteri Lingkungan Hidup dijadwalkan berkunjung ke NTB pada 5–6 Juli mendatang untuk melakukan penanaman pohon sekaligus meninjau pengelolaan sampah di Gili Trawangan.

Sebagai penutup rangkaian peringatan, sebanyak 200 bibit pohon ditanam di kawasan Hutan Nuraksa Kumbi sebagai bagian dari gerakan penghijauan nasional.

“Harapan kami, seluruh rangkaian kegiatan ini dapat memperkuat komitmen bersama dalam menjaga lingkungan hidup demi keberlanjutan generasi masa depan,” ujar Didik.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di NTB akhirnya tidak hanya menjadi seremoni tahunan, melainkan penegasan bahwa masa depan lingkungan ditentukan oleh pilihan yang diambil hari ini.

Sebab, seperti tema yang diusung tahun ini, perjuangan menyelamatkan iklim memang harus dimulai sekarang. Bukan besok. Bukan nanti. Melainkan saat ini juga. (*)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: ntbprov.go.id

Berita Terkait

NTB Jadi Laboratorium Integrasi Data Nasional, Bappenas Uji Coba Sistem API Satu Data Indonesia
ITDC Kembali Menyandang Status Persero, Perkuat Peran Strategis Pengembangan Pariwisata Nasional
Seleksi KPID NTB 2026–2029 Resmi Dibuka, Kesempatan Putra-Putri Terbaik Mengawal Penyiaran Daerah
KUR Syariah dan Jalan Baru Ekonomi NTB
Saat Tiket MotoGP Mandalika 2026 Dibuka, Indonesia Menjual Lebih dari Sekadar Balapan
Lima Tahun MotoGP Mandalika: Dari Ajang Balap Menuju Panggung Sport Tourism Dunia
Nobar Piala Dunia 2026 Hidupkan Bazaar Mandalika dan Gerakkan UMKM Lokal
Bank NTB Syariah Dukung Digitalisasi Pelabuhan Senggigi Melalui Kerja Sama Sistem Pembayaran Digital Easybook

Berita Terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 13:03 WITA

NTB Jadi Laboratorium Integrasi Data Nasional, Bappenas Uji Coba Sistem API Satu Data Indonesia

Kamis, 25 Juni 2026 - 12:08 WITA

ITDC Kembali Menyandang Status Persero, Perkuat Peran Strategis Pengembangan Pariwisata Nasional

Selasa, 23 Juni 2026 - 10:51 WITA

Seleksi KPID NTB 2026–2029 Resmi Dibuka, Kesempatan Putra-Putri Terbaik Mengawal Penyiaran Daerah

Minggu, 21 Juni 2026 - 11:16 WITA

KUR Syariah dan Jalan Baru Ekonomi NTB

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:36 WITA

Now for Climate: Saat NTB Menagih Tanggung Jawab Generasi Kini

Berita Terbaru