Menjadi ASN Semestinya

Kamis, 30 April 2026 - 10:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi: cw / ceraken.id

ilustrasi: cw / ceraken.id

Fiksi oleh Cukup Wibowo

CERAKEN.ID — Di ruang kelas pelatihan, suara kipas angin sebagai pengganti AC yang sedang macet berputar pelan menemani suasana siang itu. Di depan kelas berdiri Pak Ajim, sosok yang dikenal sebagai widyaiswara yang tak hanya cerdas, tetapi juga pada cara mengajarnya yang menyentuh hati peserta.

Hari itu, para ASN muda duduk berderet rapi. Sebagian tampak serius, sebagian lagi terlihat lelah setelah sesi materi sebelumnya. Namun begitu Pak Ajim melangkah maju, suasana perlahan berubah.

Ia tidak langsung membuka slide atau menyebutkan teori. Sebaliknya, ia menuliskan kalimat di papan tulis, “Jadilah terang tanpa memadamkan cahaya orang lain.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para peserta saling pandang. Beberapa mengernyit, mencoba memahami maksudnya.

“Saudara-saudara,” ucap Pak Ajim dengan suara tenang, “kita sering diajarkan untuk menjadi yang terbaik. Tapi jarang diajarkan bagaimana menjadi terbaik tanpa menjatuhkan orang lain.”

Seorang peserta bernama Rina mengangkat tangan. “Pak, di dunia kerja kadang sulit seperti itu. Kompetisi itu nyata.”

Pak Ajim tersenyum tipis. “Betul. Tapi pilihan cara berkompetisi tetap milik kita, bukan?”

Ia kemudian berjalan perlahan di antara kursi peserta.

“Saya pernah punya peserta seperti kalian. Pintar, cepat naik jabatan. Tapi satu hal, dia selalu merasa harus lebih unggul dengan cara menunjukkan kekurangan orang lain.”

Ruangan mulai hening.

“Beberapa tahun kemudian,” lanjutnya, “dia memang naik jabatan. Tapi sendiri. Tidak ada yang benar-benar menghormatinya.”

Pak Ajim berhenti di tengah ruangan.

“Sekarang saya tanya, kalian ingin dihormati atau ditakuti?”

Kali ini tidak ada yang langsung menjawab. Pertanyaan itu sesungguhnya tak sulit, tetapi entah kenapa serasa merasuk dalam bagi para peserta.

Ia kembali ke depan kelas, menulis kalimat kedua, “Naiklah tinggi tanpa menjatuhkan orang lain.”

“Karier ASN bukan hanya soal naik jabatan,” katanya. “Ini tentang bagaimana kita berkembang secara bersama. Kalau kalian naik jabatan tapi meninggalkan luka di banyak orang, itu bukan keberhasilan, itu kegagalan yang ditunda.”

Seorang peserta lain, Andi, terlihat menunduk. Ia teringat bagaimana selama ini ia sering menyalahkan rekan kerjanya di rapat.

Pak Ajim melanjutkan dengan suara lebih lembut.

“Raihlah bahagia tanpa melukai hati orang lain.”

Ia berhenti sejenak, lalu menatap seluruh kelas.

“Dan yang paling penting…” tulisnya perlahan, “Jadilah baik tanpa memburukkan orang lain.”

Suasana kelas menjadi berbeda. Tidak lagi sekadar ruang belajar, tetapi ruang perenungan bagi setiap orang yang ada di kelas.

“Saudara-saudara,” katanya melanjutkan, “di luar sana kalian akan menghadapi tekanan, target, bahkan konflik. Tapi ingat, integritas itu terlihat dari hal kecil, yakni bagaimana kalian berbicara tentang orang lain saat mereka tidak ada.”

Seorang peserta di barisan belakang mengangkat tangan.

“Pak… bagaimana kalau kita diperlakukan tidak adil?”

Pak Ajim tersenyum, kali ini lebih dalam.

“Berbuat baik itu bukan karena orang lain baik kepada kita. Tapi karena kita memilih menjadi pribadi yang baik.”

Kelas terdiam meresapi apa yang disampaikan Pak Ajim. Kalimat itu terasa mengakar kuat di pikiran.

Jam pelajaran hampir selesai, tetapi tidak ada yang beranjak gelisah seperti biasanya. Semua seolah ingin menahan waktu sedikit lebih lama.

Sebelum menutup sesi, Pak Ajim berkata,

“Kalian adalah generasi ASN masa depan. Bangunlah karier kalian seperti menyalakan lampu, yang memberi terang, dan bukan menyilaukan. Menghangatkan, dan bukan membakar.”

Ketika bel tanda istirahat berbunyi, tidak ada yang langsung berdiri. Beberapa peserta justru tetap duduk, mencatat, atau sekadar diam, merenung.

Di sudut ruangan, Andi menarik napas panjang. Kali ini sebagai ASN ia rasakan bukan hanya tentang pekerjaan, melainkan bagaimana menjadi manusia yang lebih utuh.

Dan di depan kelas, Pak Ajim merapikan spidolnya. Dengan senyum puas atas interaksi pembelajaran hari ini. Puas untuk tak hanya materi yang ia sampaikan, tetapi nilai yang ia yakini mulai tumbuh diam-diam di hati para peserta.

RS Unram, 30 April 2026

Berita Terkait

Senja di Savana Bale Tepak Batujai*
Ia Menjadi Jejak di Pikiran
Hujan Duka
Noktah Merah di Cangkir Kopi
Ataraxia: Ketenangan Jiwa yang Murni
Laksita Ratnaloka Permana Sari
Syafaat
Keikhlasan

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 10:32 WITA

Menjadi ASN Semestinya

Jumat, 20 Maret 2026 - 04:29 WITA

Senja di Savana Bale Tepak Batujai*

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:56 WITA

Ia Menjadi Jejak di Pikiran

Rabu, 11 Maret 2026 - 11:57 WITA

Hujan Duka

Minggu, 15 Februari 2026 - 21:14 WITA

Noktah Merah di Cangkir Kopi

Berita Terbaru

Dengan sistem ini, bantuan sosial, subsidi, intervensi kesehatan, pendidikan, hingga program pemberdayaan ekonomi dapat dirancang lebih adaptif dan tepat sasaran (Foto: pemprov ntb /ceraken.id)

INFORIAL

DTSEN dan Jalan Baru Pembangunan NTB yang Lebih Tepat Sasaran

Kamis, 30 Apr 2026 - 14:33 WITA

Forum strategis untuk memperkuat optimisme ekonomi nasional (Foto: bi.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

PINISI 2026: Menjaga Mesin Pertumbuhan Ekonomi Tetap Menyala

Kamis, 30 Apr 2026 - 12:10 WITA

ilustrasi: cw / ceraken.id

CERITA PENDEK

Menjadi ASN Semestinya

Kamis, 30 Apr 2026 - 10:32 WITA

Rekomendasi ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada capaian angka, tetapi harus bergerak menuju kualitas hidup yang nyata (Foto: pemkot mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Membaca LKPJ sebagai Cermin Harapan Kota Mataram

Rabu, 29 Apr 2026 - 16:00 WITA

Mataram Innovation Week, cara pandang baru dalam membangun kota: keberanian untuk berkolaborasi (Foto: pemkot mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Mataram Innovation Week: Ketika Kota Bertumbuh Lewat Kolaborasi Global

Rabu, 29 Apr 2026 - 14:40 WITA