CERAKEN.ID — Mataram terasa lebih sibuk dari biasanya. Di tengah agenda kunjungan kerja Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Republik Indonesia, Maruarar Sirait membawa pesan yang tidak hanya berbicara tentang rumah, tetapi juga tentang harapan hidup masyarakat kecil.
Kunjungan ke Nusa Tenggara Barat pada Selasa, 19 Mei 2026, menjadi bagian dari rangkaian pelaksanaan program kementerian yang dipimpinnya pada era pemerintahan Prabowo Subianto.
Di hadapan para tamu undangan, pelaku usaha mikro, dan pejabat daerah di Gedung Graha Bhakti Praja NTB, Menteri yang akrab disapa Pak Ara itu mencoba memperlihatkan bahwa pembangunan perumahan tidak bisa dipisahkan dari pembangunan ekonomi rakyat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi pemerintah, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Rumah adalah titik awal bagi tumbuhnya kesejahteraan keluarga. Karena itu, program yang dibawa Kementerian PKP tidak hanya menyentuh pembangunan hunian, tetapi juga memperkuat pondasi ekonomi masyarakat yang menempatinya.
Kolaborasi untuk Hunian dan Kehidupan
Dalam beberapa tahun terakhir, Kementerian PKP menaruh perhatian besar pada percepatan penyediaan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Salah satu strategi yang terus didorong adalah kolaborasi pembiayaan antara pemerintah, BUMN, sektor swasta, hingga pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR).
Melalui pendekatan itu, pemerintah berharap pembangunan rumah rakyat tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Di sisi lain, langkah tersebut membuka ruang keterlibatan banyak pihak untuk bersama-sama menjawab kebutuhan dasar masyarakat.

Selain itu, Kementerian PKP juga menginisiasi pemanfaatan aset-aset negara dan lahan strategis milik BUMN untuk pembangunan rumah susun bagi masyarakat menengah dan berpenghasilan rendah. Gagasan itu dinilai penting di tengah semakin tingginya harga tanah dan kebutuhan hunian di berbagai daerah.
Dalam kunjungannya ke NTB, Menteri Ara menegaskan bahwa pembangunan perumahan harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas ekonomi rakyat. Karena itu, agenda kunjungan tidak hanya diisi dengan rapat koordinasi dan peninjauan program bedah rumah, tetapi juga penyerahan bantuan kepada perempuan pengusaha mikro.
“Bantuan modal ini kami harapkan bisa membantu usaha masyarakat berkembang dan meningkatkan omzet mereka dari tahun ke tahun,” ujar Menteri Ara dalam sambutannya.
Perempuan Mikro dan Mimpi Naik Kelas
Di Gedung Graha Bhakti Praja NTB, sebanyak 20 perempuan pelaku usaha mikro menerima bantuan modal usaha secara simbolik dalam kegiatan bertajuk Kolaborasi Program Pembiayaan Perumahan Pengusaha Mikro.
Suasana acara berlangsung hangat. Para penerima bantuan tampak datang dengan harapan sederhana: usaha kecil mereka bisa bertahan dan tumbuh di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah. Sebagian dari mereka bergerak di bidang kuliner rumahan, perdagangan kecil, hingga usaha kerajinan lokal.
Bagi Menteri Ara, perempuan memiliki peran penting dalam menjaga ekonomi keluarga. Karena itu, dukungan terhadap usaha mikro perempuan dipandang sebagai investasi sosial jangka panjang.
“Lima sampai dua puluh tahun ke depan, saya berharap ibu-ibu yang menerima bantuan ini bisa naik kelas menjadi pengusaha besar yang sukses,” katanya disambut tepuk tangan peserta acara.

Pernyataan itu menggambarkan optimisme pemerintah terhadap kekuatan ekonomi akar rumput. Di tengah keterbatasan modal dan akses usaha, perempuan pelaku UMKM dinilai memiliki daya tahan yang kuat dalam menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga.
Program bantuan tersebut juga memperlihatkan bahwa isu perumahan kini semakin dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Rumah tidak lagi hanya dipahami sebagai tempat tinggal, tetapi juga ruang produktif bagi tumbuhnya usaha keluarga.
Dari Senggigi hingga Dasan Geriye
Sebelum menghadiri agenda di Mataram, Menteri PKP terlebih dahulu mengikuti rapat koordinasi Forkopimda di Hotel Aruna Senggigi, Lombok Barat. Dalam kesempatan itu, berbagai persoalan pembangunan kawasan permukiman dan kebutuhan rumah layak huni di NTB turut dibahas bersama pemerintah daerah dan unsur terkait.
Setelah itu, Menteri Ara juga meninjau usulan program bedah rumah BSPS serta simulasi tender rakyat di Desa Dasan Geriye, Lombok Barat. Kunjungan lapangan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan program bantuan perumahan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Dalam sambutannya, Menteri Ara turut memperkenalkan staf khususnya, Salamudin Daeng, yang berasal dari NTB. Kehadiran putra daerah dalam lingkar kerja kementerian disebut menjadi jembatan penting untuk memahami kebutuhan masyarakat lokal.
Menurut Daeng, kunjungan tersebut merupakan kali pertama Menteri Ara datang ke NTB dalam rangka sosialisasi program pembangunan perumahan.
“Pak Menteri senang melihat kondisi NTB yang sudah maju. Ini menjadi modal penting untuk pengembangan program pembangunan perumahan ke depan,” ujar Daeng.
Kunjungan itu pada akhirnya bukan sekadar agenda seremonial kementerian. Di balik rangkaian rapat, peninjauan, dan penyerahan bantuan, tersimpan pesan bahwa pembangunan tidak cukup hanya membangun rumah, tetapi juga membangun keyakinan masyarakat bahwa masa depan masih bisa diperjuangkan, mulai dari ruang-ruang kecil tempat mereka hidup dan bekerja. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































