Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID- Dalam salah satu forum di Bencingah Insitute, H.L. Agus Fathurrahman menjelaskan tentang derajat tujuh Alam Malakut, sebuah sistem kosmologi dalam tradisi tasawuf yang menggambarkan perjalanan ruhani manusia dari dunia fisik menuju penyatuan dengan Tuhan.
Namun, dalam perspektifnya yang khas, Miq Agus tidak sekadar memandangnya sebagai metafisika abstrak. Ia menafsirkan setiap lapisan alam tersebut melalui lensa ekosufistik, terutama dalam konteks Rinjani Perspektif Ekosufisme, di mana spiritualitas dipahami sebagai kesadaran ekologis yang hidup, alami, dan membumi.
Menurutnya, konsep Idup Sopoq, istilah Sasak yang berarti hidup sebagai satu, merupakan bentuk nyata dari kesadaran sufistik di tengah lanskap alam Rinjani. Ia adalah tafsir ekoteologis dari perjalanan spiritual manusia yang sadar bahwa dirinya, alam, dan Tuhan bukanlah tiga entitas yang terpisah, melainkan satu keberadaan yang saling melingkupi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Derajat 1: Alam Nasut — Dunia Fisik dan Kesadaran Bumi
Perjalanan dimulai dari Alam Nasut, dunia fisik tempat manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi. Di sinilah kesadaran manusia masih terikat pada materi, pancaindra, dan kepentingan duniawi. Namun bagi seorang sufi, Alam Nasut bukan tempat yang harus ditinggalkan, melainkan ruang latihan spiritual.
Miq Agus menekankan bahwa dalam kerangka Ekosufistik Rinjani, Alam Nasut adalah “bumi pertama”, Rinjani itu sendiri, dengan hutan, air, batu, dan tanahnya. Ia bukan sekadar ruang geografis, tetapi cerminan dari kesadaran ekologis. Dalam pandangan Idup Sopoq, manusia tidak berdiri di atas alam, melainkan di dalamnya. Setiap tindakan terhadap alam berdampak langsung pada keseimbangan spiritual.
Kesadaran Nasut mengajarkan disiplin terhadap hal-hal yang konkret: menanam pohon, menjaga air, menghormati hewan, dan menggunakan sumber daya secara bijak. Semua tindakan ekologis ini bukan sekadar etika lingkungan, melainkan zikir fisik, pengingat bahwa Tuhan hadir dalam setiap denyut bumi.
Derajat 2: Alam Malakut — Dunia Ruh dan Kepekaan Spiritual
Ketika manusia mulai menyadari dimensi batin di balik dunia fisik, ia menapaki Alam Malakut. Alam ini adalah wilayah ruh, tempat malaikat dan energi spiritual bersemayam. Dalam tradisi sufi, Malakut adalah jembatan antara dunia materi dan dunia ilahiah.
Dalam tafsir ekosufistik, Alam Malakut menggambarkan tahap kesadaran ketika manusia mulai “mendengar” bahasa alam. Suara burung, gemericik air, dan hembusan angin bukan sekadar bunyi, melainkan pesan Ilahi yang halus. Semua unsur alam memiliki ruh dan bertasbih kepada Tuhan.
Konsep ini sejalan dengan Idup Sopoq: hidup sebagai satu kesatuan spiritual. Manusia tidak lebih tinggi dari makhluk lain, melainkan bagian dari simfoni kosmik yang sama. Di sinilah cinta ekologis tumbuh, bukan sekadar rasa peduli, tetapi rasa kasih terhadap kehidupan itu sendiri.
Dalam konteks masyarakat adat Rinjani, kesadaran Malakut terwujud dalam ritual-ritual penghormatan kepada roh penjaga hutan atau mata air. Ritual tersebut tidak semata-mata mistik, melainkan bentuk komunikasi spiritual antara manusia dan makhluk halus yang menjadi manifestasi dari hukum Tuhan dalam alam.
Derajat 3: Alam Jabarut — Kekuasaan Ilahi dan Hukum Alam
Naik satu tingkat, Alam Jabarut adalah alam kekuasaan dan kehendak Ilahi. Di sini, manusia menyadari bahwa segala kekuatan dan tatanan dunia bekerja di bawah hukum Tuhan. Dalam kerangka ekosufistik, Jabarut adalah kesadaran ekologis bahwa alam semesta beroperasi dalam keteraturan kosmik, dari siklus air hingga rotasi bumi, semua mengikuti “syariat” Tuhan.
Miq Agus menegaskan, krisis lingkungan modern adalah akibat dari kesombongan manusia yang ingin melampaui hukum Jabarut: manusia ingin menjadi pusat, bukan bagian. Padahal dalam pandangan Idup Sopoq, kesempurnaan hidup justru terletak pada ketundukan terhadap hukum keseimbangan.
Orang yang hidup dalam kesadaran Jabarut memahami bahwa merusak ekosistem sama dengan menentang ketetapan Tuhan. Maka, menjaga harmoni alam berarti menjaga keutuhan syariat kosmik. Setiap ciptaan memiliki perannya sendiri; manusia bukan penguasa, tetapi khalifah yang bertanggung jawab.
Derajat 4: Alam Lahut — Cinta Ilahi dalam Setia Wujud
Pada Alam Lahut, seseorang mulai menyaksikan kehadiran Tuhan di balik seluruh ciptaan. Tuhan menampakkan diri-Nya melalui keindahan dan harmoni dunia. Di sinilah kesadaran ekologis mencapai kedalaman spiritual: mencintai alam berarti mencintai Tuhan.
Bagi Miq Agus, Rinjani adalah simbol Lahut, gunung yang menjulang tinggi, menyentuh langit namun berakar di bumi. Dalam setiap batu dan airnya, Tuhan menampakkan wajah kasih. Seorang sufi yang mencapai tahap ini tidak lagi beribadah hanya di masjid, melainkan juga di lembah, hutan, dan tepi danau. Ia membaca “ayat-ayat alam” sebagai bagian dari wahyu Tuhan yang hidup.
Etika ekologis pada tahap Lahut didasari oleh cinta (mahabbah). Menanam pohon bukan kewajiban administratif, tetapi tindakan cinta terhadap ciptaan. Cinta inilah yang membuat manusia lembut, penuh empati, dan berkeinginan menjaga dunia sebagaimana ia menjaga dirinya sendiri.
Derajat 5: Alam Hahut — Kesucian dan Keindahan Mutlak
Alam Hahut adalah wilayah kesucian murni, tempat keindahan Tuhan (Jamalullah) memancar tanpa hijab. Dalam pengalaman ekosufistik, tahap ini mencerminkan pandangan bahwa alam tidak pernah kotor; yang kotor hanyalah cara pandang manusia terhadapnya.
Miq Agus menyebut bahwa di tahap ini, Idup Sopoq menjadi pengalaman estetis. Orang yang hidup di alam Hahut tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga merayakan keindahannya. Ia melihat Tuhan di setiap warna daun, dalam aliran sungai, dalam aroma tanah basah setelah hujan.
Kesadaran Hahut melahirkan budaya ekologis yang puitis: seni, ritual, dan simbol menjadi cara manusia merayakan kehadiran Ilahi. Hal ini tampak dalam kebudayaan masyarakat sekitar Rinjani yang menjaga relasi harmonis antara kerja, seni, dan doa.
Derajat 6: Alam Yahut — Kesatuan Wujud dan Ekosistem Kosmik
Alam Yahut adalah wilayah kesadaran kesatuan wujud (wahdat al-wujud). Dalam tahap ini, semua dualitas, antara manusia dan alam, dunia dan Tuhan, melebur dalam satu pandangan tauhid.
Bagi seorang yang mencapai kesadaran Yahut, Idup Sopoq menjadi pengalaman hidup yang nyata. Ia melihat bahwa manusia, pohon, batu, dan air adalah satu tubuh yang bernapas dalam Tuhan. Setiap tindakan terhadap alam adalah tindakan terhadap dirinya sendiri. Maka, perusakan alam bukan sekadar kesalahan moral, tetapi luka kosmik yang mengganggu keseimbangan seluruh kehidupan.
Miq Agus menyebut bahwa pada tahap ini, spiritualitas menjadi ekologis, dan ekologi menjadi spiritual. Tidak ada lagi batas antara ibadah dan kehidupan, antara tasbih dan tindakan. Semua adalah satu gerak zikir semesta.
Derajat 7: Alam Ahadiyah — Keesaan Mutlak dan Kebijaksanaan Hidup
Puncak perjalanan ruhani adalah Alam Ahadiyah, derajat keesaan mutlak, tempat Tuhan memperlihatkan diri-Nya sebagai satu-satunya realitas. Di sini tidak ada lagi “aku” dan “Dia”, yang ada hanyalah Tuhan.
Dalam tafsir ekosufistik, Ahadiyah adalah kesadaran tertinggi dari Idup Sopoq: hidup sebagai satu dengan seluruh ciptaan karena semuanya adalah manifestasi dari Dzat Yang Esa. Kesadaran ini melahirkan manusia yang arif, tenang, dan rendah hati, manusia yang tidak lagi berjuang untuk menguasai alam, tetapi menjadi penjaga dan saksi kehadiran Tuhan di dalamnya.
Pada tahap ini, seorang sufi tidak lagi melihat perbedaan antara memeluk pohon dan berzikir, antara menanam dan berdoa. Semua tindakan menjadi ibadah, semua kehidupan menjadi pancaran cinta Ilahi.
Idup Sopoq sebagai Jalan Kosmik Menuju Tuhan
Pemikiran H.L. Agus Fathurrahman memperlihatkan sintesis mendalam antara tasawuf klasik dan kearifan ekologis lokal Lombok. Derajat tujuh Alam Malakut bukan lagi sekadar doktrin mistik, tetapi peta kesadaran yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menghadapi krisis lingkungan dan krisis spiritual modern.
Konsep Idup Sopoq adalah kristalisasi dari pandangan itu: manusia hidup sebagai satu dengan seluruh wujud. Alam bukan objek yang harus dikuasai, tetapi subjek yang harus dihormati. Dalam bahasa sufistik, menjaga alam berarti menjaga keseimbangan kosmos; dalam bahasa ekosufistik, menjaga alam berarti menjaga keutuhan iman.
Pada akhirnya, Ekosufistik Rinjani mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan tidak selalu ke langit, tetapi bisa juga menapaki tanah yang suci, bumi tempat kaki berpijak, tempat air mengalir, tempat ruh bernafas. Di sanalah Tuhan memperlihatkan diri-Nya sebagai Yang Satu dalam segala yang hidup. Itulah makna terdalam dari Idup Sopoq: hidup sebagai satu dengan Tuhan, alam, dan sesama.
#Akuair-Ampenan, 18-11-2025
Penulis : Agus K Saputra
Editor : Ceraken Editor


























































