Manakala Museum Menjadi Penjaga Ingatan Alam NTB

Rabu, 8 Juli 2026 - 00:58 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hubertus Selasa. Baginya, setiap koleksi memiliki tugas yang jauh melampaui fungsi pameran (foto: aks / ceraken.id)

Hubertus Selasa. Baginya, setiap koleksi memiliki tugas yang jauh melampaui fungsi pameran (foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Museum sering kali dipersepsikan sebagai rumah masa lalu. Namun di Museum Negeri NTB, masa lalu justru menjadi jembatan untuk menyelamatkan masa depan.

Di setiap sudut ruang flora dan fauna, pengunjung diajak memahami bahwa keanekaragaman hayati Nusa Tenggara Barat bukan sekadar kekayaan daerah, melainkan identitas yang sedang menghadapi ancaman kepunahan. Pesan konservasi itu terasa sederhana, tetapi kuat. Mengenal adalah langkah pertama untuk mencintai, dan mencintai adalah awal dari menjaga.

Karena itulah museum menghadirkan berbagai koleksi kayu, satwa darat, burung, reptil, hingga biota laut sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat, terutama generasi muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Museum Sebagai Pintu Masuk Konservasi

Pamong Budaya Ahli Madya Museum Negeri NTB, Hubertus Selasa, merupakan salah satu saksi hidup perjalanan museum tersebut.

Diangkat sebagai pemandu Museum Negeri NTB pada 1 Maret 1990, hingga 7 Juli 2026 ia telah mengabdikan diri selama 36 tahun 3 bulan, mendampingi “ribuan” pengunjung mengenal sejarah, budaya, serta kekayaan flora dan fauna Nusa Tenggara Barat. Baginya, setiap koleksi memiliki tugas yang jauh melampaui fungsi pameran.

Fauna dan Flora Nusa Tenggara Barat (foto: aks / ceraken.id)

“Terkait flora ada beberapa dari NTB yang berupa jenis-jenis kayu. Jenis-jenis kayu ini sebetulnya punya Kantor Kehutanan, tapi kenapa ada di museum? Ini merupakan gambaran informasi secara umum. Apabila ada orang melakukan penelitian, paling tidak kita sudah bisa menunjukkan tempatnya,” ujar Hubertus.

Selama lebih dari tiga dekade, Hubertus menyaksikan museum bukan hanya menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga ruang belajar yang mempertemukan masyarakat dengan kekayaan alam NTB. Menurutnya, kehadiran koleksi flora dan fauna di museum merupakan pintu masuk bagi masyarakat untuk memahami pentingnya konservasi sebelum mengenal habitat aslinya di hutan, pegunungan, maupun lautan.

Karena itulah pengunjung tidak hanya menemukan benda, tetapi juga pengetahuan. Museum menjadi ruang awal sebelum seseorang melangkah lebih jauh menelusuri hutan, taman nasional, kawasan konservasi, ataupun pesisir NTB.

Publikasi mengenai flora dan fauna menjadi semakin penting di tengah menyusutnya habitat alami. Semakin sedikit masyarakat mengenal satwa dan tumbuhan asli daerahnya, semakin besar pula peluang hilangnya kepedulian terhadap kelestarian mereka.

Dari Gaharu hingga Cempaka, Hutan yang Menyimpan Kehidupan

Di ruang koleksi kayu, pengunjung dapat melihat berbagai jenis kayu khas NTB. Ada gaharu (Aquilaria), bajur, kelicung, ipil atau merbau, hingga buah odak. Sebagian merupakan jenis yang kini semakin sulit ditemukan.

Baca Juga :  Mister Jerman: Tak Datang ke Lombok Lagi, Tapi…
Kayu yang dilindungi (foto: aks / ceraken.id)

Gaharu menjadi salah satu primadona. Kayu berwarna gelap ini memiliki kandungan resin harum yang bernilai ekonomi sangat tinggi.

Setelah melalui proses pengolahan, resin gaharu menghasilkan minyak aromatik yang menjadi bahan baku parfum kelas dunia. Nilainya yang tinggi justru membuat keberadaannya rentan terhadap eksploitasi.

Selain itu terdapat cempaka kuning dan cempaka putih yang sejak lama dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, obat tradisional, kosmetik, hingga perlengkapan upacara keagamaan. Ada pula pohon sentul yang menghasilkan kayu berkualitas untuk konstruksi dan buah yang dapat dikonsumsi.

Sementara itu, merbau atau ipil dikenal sebagai salah satu kayu paling kuat dengan kelas awet dan kelas kuat terbaik. Kayunya banyak digunakan untuk lantai, jembatan, perahu, hingga furnitur.

Adapun jati tetap menjadi simbol kayu bermutu tinggi yang tumbuh baik di berbagai kawasan NTB.

Semua koleksi itu mengingatkan bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah rumah bagi berbagai kehidupan sekaligus penyangga keseimbangan ekosistem.

Satwa Identitas yang Terus Menyusut
Rusa Timor (foto: aks / ceraken.id)

Jika flora menyimpan kisah tentang hutan, maka ruang fauna menghadirkan cerita mengenai kehidupan liar yang semakin terdesak.

Rusa Timor (Cervus timorensis), yang menjadi fauna identitas Provinsi NTB, menjadi salah satu koleksi paling penting. Satwa ini hidup berkelompok di padang rumput terbuka dan kawasan hutan.

Ancaman terbesar yang dihadapinya adalah perburuan, perdagangan ilegal, serta kerusakan habitat.

“Kalau di NTB yang terkenal sebagai lambang NTB yaitu kijang, dominan ada di Pulau Sumbawa. Jenis kupu-kupu Lombok dan Sumbawa yang sudah diawetkan juga dikenalkan kepada anak-anak, terutama murid TK,” tutur Hubertus.

Selain rusa, museum memperkenalkan berbagai satwa yang kini berstatus dilindungi, seperti kijang, lutung, trenggiling, landak, sanca bodo, penyu hijau, hingga burung-burung endemik.

Beo Sumbawa memiliki kemampuan menirukan suara manusia sehingga banyak diburu untuk dipelihara.

Kupu-Kupu (foto: aks / ceraken.id)

Burung koakiau atau Cucak Timor menjadi salah satu suara khas kawasan hutan NTB, sementara burung madu Lombok merupakan spesies endemik yang membantu proses penyerbukan berbagai jenis tumbuhan.

Museum juga menyimpan panel insektarium yang menampilkan puluhan jenis kupu-kupu dari Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Bagi anak-anak, koleksi ini menjadi perkenalan pertama terhadap kekayaan serangga yang selama ini sering luput dari perhatian.

Dari Laut hingga Fosil, Warisan yang Harus Dijaga

Pesan konservasi di Museum Negeri NTB tidak berhenti di daratan. Ruang biota laut menghadirkan kima raksasa, kerang mutiara, triton terompet, nautilus, hingga berbagai moluska yang memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi.

Baca Juga :  Menelusuri Jejak Sejarah dari Kampung Sendiri Melalui Arkeolog Cilik Museum NTB

Menurut Hubertus, salah satu koleksi yang paling menarik perhatian pengunjung adalah kerang raksasa.

“Di sini termasuk biota laut seperti kerang. Kemungkinan kerang raksasa atau kima raksasa yang ada di Museum Negeri NTB ini adalah yang terbesar di dunia. Ada juga hasil mutiara yang dimanfaatkan untuk kerajinan cukli dari Nautilus pompilius,” jelas Hubertus.

Bagi banyak pengunjung, koleksi tersebut bukan sekadar benda pajangan. Kerang raksasa menghadirkan cerita tentang kekayaan laut NTB yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan.

Biota Laut (foto: aks / ceraken.id)

Sementara nautilus dan berbagai moluska lainnya memperlihatkan bahwa laut tidak hanya menyediakan sumber penghidupan, tetapi juga menyimpan nilai ilmiah, budaya, dan ekonomi yang harus dijaga agar tidak habis oleh eksploitasi.

Museum juga menyimpan kisah mengenai fosil kima raksasa yang ditemukan di kawasan Satonda, Kabupaten Dompu. Fosil yang diperkirakan berasal dari zaman Pleistosen itu menjadi bukti bahwa NTB menyimpan sejarah geologi yang sangat panjang dan berpotensi dikembangkan sebagai geowisata.

Tak kalah menarik adalah buaya muara raksasa yang diserahkan kepada Museum Negeri NTB pada 2010 setelah sebelumnya diamankan di Polda NTB.

“Setelah buaya muara raksasa tersebut disimpan di museum, pengunjung sangat ramai sekali,” kenang Hubertus.

Di balik daya tarik itu, museum sesungguhnya sedang menyampaikan pesan yang jauh lebih besar: bahwa satwa liar lebih layak hidup di habitatnya daripada menjadi korban perburuan atau perdagangan ilegal.

Kesadaran itu juga diperkuat oleh ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang melarang setiap orang memelihara, memiliki, menangkap, melukai, memperdagangkan, ataupun mengambil bagian dari tumbuhan dan satwa yang dilindungi tanpa izin dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam.

Museum Negeri NTB akhirnya bukan hanya ruang penyimpanan koleksi. Ia menjadi ruang belajar tentang tanggung jawab. Sebab ketika seekor rusa, seekor beo, sebatang gaharu, atau seekor penyu hanya dapat dikenal melalui etalase museum, sesungguhnya alam sedang mengirimkan peringatan.

Dan barangkali, cara terbaik merayakan kekayaan hayati NTB bukanlah sekadar mengaguminya, melainkan memastikan generasi mendatang masih dapat menjumpainya hidup di hutan, di langit, dan di lautnya sendiri. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Indonesia SAKTI
Sapi Lombok Lebih Cantik Ketimbang Sapi Swiss
Pustaka, Pusaka, dan Jejak Abadi Syekh Yusuf di Balla Barakkaka ri Galesong
Donut Kecil dari Anak Kecil
Menelusuri Jejak Sejarah dari Kampung Sendiri Melalui Arkeolog Cilik Museum NTB
Terbang Lebih Tinggi dari Pelangi
Jejak Predator Purba di Vitrin Waktu Museum NTB
Mister Jerman: Tak Datang ke Lombok Lagi, Tapi…

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 00:58 WITA

Manakala Museum Menjadi Penjaga Ingatan Alam NTB

Senin, 6 Juli 2026 - 08:58 WITA

Sapi Lombok Lebih Cantik Ketimbang Sapi Swiss

Sabtu, 4 Juli 2026 - 10:50 WITA

Pustaka, Pusaka, dan Jejak Abadi Syekh Yusuf di Balla Barakkaka ri Galesong

Senin, 29 Juni 2026 - 09:05 WITA

Donut Kecil dari Anak Kecil

Rabu, 24 Juni 2026 - 23:03 WITA

Menelusuri Jejak Sejarah dari Kampung Sendiri Melalui Arkeolog Cilik Museum NTB

Berita Terbaru

Hubertus Selasa. Baginya, setiap koleksi memiliki tugas yang jauh melampaui fungsi pameran (foto: aks / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Manakala Museum Menjadi Penjaga Ingatan Alam NTB

Rabu, 8 Jul 2026 - 00:58 WITA