CERAKEN.ID — Lama tak bersua. Pagi itu ia datang dengan senyum khasnya: ringan, seolah tak pernah memanggul beban apa pun. Kami tak banyak bercakap. Hanya beberapa kalimat pendek, jeda yang hangat, dan secangkir kopi hitam yang tandas tanpa gula. Selebihnya adalah diam yang terasa akrab.
Ia pamit seperti biasa: sederhana dan cepat. Tak ada pidato perpisahan, tak ada janji temu berikutnya. Hanya sebuah kertas kecil yang sejak tadi diremas di tangannya, sudah robek di sana-sini, diselipkannya ke telapak tangan saya. “Baca nanti,” katanya singkat.
Kertas itu putih, tapi kusut. Huruf-hurufnya terburai, sebagian terpotong, sebagian nyaris hilang. Saya menyusunnya kembali seperti merangkai kepingan peristiwa yang lama terpendam. Ada sesuatu yang terasa ganjil: seolah-olah kertas itu punya hati. Ia seperti ingin segera utuh, ingin segera dibaca, ingin segera dibagikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Isinya hanya kutipan pendek dari Ibnu Athaillah as-Sakandari:
“Sering kali dirimu diminta untuk taat, tapi hatimu senantiasa merasa berat, karena memang tak mencintai ketaatan. Karena itu, yang pertama kali kau lakukan adalah mengobati kalbumu. Bila sudah sembuh, nikmat cinta pun akan datang dengan sendirinya!”
Saya membacanya sekali. Lalu dua kali. Kalimat itu sederhana, tetapi seperti mengetuk pelan bagian terdalam diri. Taat, sebuah kata yang sering kita dengar sejak kecil, ternyata tak selalu tumbuh dari cinta. Ia bisa hadir sebagai kewajiban, sebagai tekanan, sebagai rutinitas tanpa ruh. Dan di situlah berat itu bermula.
Dalam kehidupan sehari-hari, ketaatan sering direduksi menjadi daftar perintah dan larangan. Ia menjadi beban administratif rohani: harus ini, jangan itu. Padahal, bagi para arif, ketaatan bukan sekadar tindakan lahiriah, melainkan buah dari hati yang sehat. Jika hati sedang sakit: dipenuhi iri, sombong, atau sekadar letih oleh ambisi dunia, ketaatan terasa seperti kerja paksa.
Pesan dalam kertas kecil itu menggeser cara pandang. Bukan taat yang dipaksa lebih dulu, melainkan hati yang diobati. Ada semacam terapi batin yang lebih mendasar daripada sekadar memperbaiki perilaku. Seperti pohon yang meranggas: tak cukup menyemprot daunnya, akar dan tanahnya harus dirawat.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, nasihat ini terasa relevan. Kita sering memaksa diri untuk menjadi “baik” dalam ukuran sosial: rajin beribadah, aktif berkegiatan, terlihat saleh. Namun jarang bertanya, apakah hati kita benar-benar mencintai kebaikan itu? Atau sekadar takut dinilai kurang?
Kawan saya barangkali tahu, ada masa ketika ketaatan terasa berat. Ia tak banyak bertanya, tak pula menasihati panjang lebar. Ia hanya menyerahkan secarik kutipan, membiarkan saya bergulat dengan maknanya sendiri. Di situlah letak persahabatan yang matang: memberi tanpa menggurui.
Kertas itu kini tersusun rapi di meja kerja. Robekannya masih tampak, tetapi pesannya utuh. Saya teringat bahwa perjalanan spiritual bukan lomba lari. Ia lebih mirip perjalanan sunyi yang menuntut kejujuran pada diri sendiri. Mengobati hati berarti berani mengakui luka: riya yang tersembunyi, kemalasan yang disamarkan, cinta dunia yang terlalu dominan.
Setelah membaca kutipan itu dua kali, saya pun melangkah ke luar rumah. Udara pagi terasa berbeda atau mungkin hati saya yang mulai sedikit terbuka. Jalan di depan rumah masih menyimpan jejak langkahnya. Jejak yang tak kasatmata, tetapi terasa.
Dalam diam itu, saya memahami satu hal: keberkahan sering datang lewat cara-cara sederhana. Secangkir kopi, secarik kertas, dan kalimat pendek dari seorang sufi abad ke-13 dapat menjadi cermin yang memantulkan kondisi batin hari ini.
Barangkali benar, ketaatan yang lahir dari cinta tak lagi terasa berat. Ia mengalir seperti air, ringan tetapi menyejukkan. Dan mungkin, tugas kita bukan memaksa diri agar segera sempurna, melainkan merawat hati agar perlahan sembuh.
Jejaknya mungkin telah hilang di tikungan jalan. Tetapi pesan itu tinggal. Dan pagi pun terasa lebih jernih. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor























































