Bangku Kuning di Depan Kantor Gubernur: Antara Ketertiban dan Ruang Publik

Minggu, 29 Maret 2026 - 08:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ia adalah simbol kecil tentang keberadaan ruang kota yang ramah bagi semua orang (Foto: aks/ceraken.id)

Ia adalah simbol kecil tentang keberadaan ruang kota yang ramah bagi semua orang (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram — Wacana pembongkaran bangku kuning di depan Kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat memantik beragam reaksi dari masyarakat. Bagi sebagian orang, bangku-bangku itu mungkin sekadar elemen penataan kawasan.

Namun bagi warga tertentu, keberadaannya memiliki fungsi yang jauh lebih sederhana sekaligus penting: tempat beristirahat, ruang singgah, bahkan ruang rekreasi murah bagi masyarakat.

Rama, seorang pengemudi ojek online, termasuk yang merasa keberatan dengan rencana tersebut. Selama ini ia kerap memanfaatkan bangku itu untuk beristirahat sejenak di sela pekerjaannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Untuk sekadar duduk di depan kantornya saja tidak boleh, rasanya rakyat kecil seperti najis yang tidak boleh dekat dengan istana ini,” ujarnya dengan nada kecewa.

Menurut Rama, lokasi bangku tersebut cukup strategis. Selain berada di jalur yang ramai, keberadaan pos jaga Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Provinsi NTB membuatnya merasa aman ketika berhenti sejenak di sana.

Namun belakangan, ia mendengar rencana bangku itu akan dibongkar karena dianggap mengganggu estetika kawasan.

Bagi Rama, jika persoalannya adalah penyalahgunaan fungsi bangku, solusinya bukan menghilangkan fasilitas tersebut.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

“Kalau merasa terganggu, seharusnya ditegur saja, bukan dibongkar bangkunya. Kasih lampu biar terang supaya transparan siapa saja yang duduk di sana,” katanya.

Ia menilai penerangan yang memadai justru dapat membuat kawasan itu lebih terbuka dan terpantau.

Pandangan serupa disampaikan Yunita, salah seorang warga Mataram. Ia melihat bangku kuning itu sebagai bagian dari ruang publik yang sederhana namun memiliki manfaat sosial.

Menurutnya, tidak sedikit warga yang datang bersama keluarga kecil mereka untuk menikmati sore hari di kawasan tersebut. Bangku-bangku itu menjadi tempat duduk yang mudah diakses tanpa harus mengeluarkan biaya.

“Kalau bicara penyalahgunaan, apa sih di negeri ini yang tidak disalahgunakan? Kadang anggaran saja bisa disalahgunakan,” katanya dengan nada sarkastik.

“Seharusnya fungsi pengawasan yang diperkuat.”

Bagi Yunita, pembongkaran bangku bukanlah jawaban atas potensi penyalahgunaan. Ia justru menilai langkah yang lebih bijak adalah memperbaiki pencahayaan serta meningkatkan pengawasan.

Ia juga menyinggung ironi yang ia rasakan. Di satu sisi, pemerintah daerah kerap mendorong pengembangan sektor pariwisata. Namun di sisi lain, ruang-ruang publik sederhana yang bisa dinikmati masyarakat justru berpotensi dihilangkan.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

“Mungkin pemerintah tidak mau repot—repot berkoordinasi dengan Pemkot Mataram, repot mengawasi. Padahal ruang rekreasi murah bagi masyarakat itu penting,” ujarnya.

Perdebatan mengenai bangku kuning ini pada akhirnya bukan sekadar soal fasilitas duduk di tepi jalan. Ia mencerminkan pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana ruang publik dikelola: apakah ruang itu tetap terbuka bagi masyarakat luas, atau justru semakin dibatasi demi alasan estetika dan ketertiban.

Di banyak kota, bangku taman, trotoar yang nyaman, dan ruang singgah sederhana sering menjadi indikator kualitas ruang publik. Ia memungkinkan warga dari berbagai lapisan untuk berhenti sejenak, berinteraksi, atau sekadar menikmati suasana kota tanpa harus mengeluarkan biaya.

Karena itu, bagi sebagian warga Mataram, bangku kuning di depan Kantor Gubernur NTB bukan hanya soal tempat duduk. Ia adalah simbol kecil tentang keberadaan ruang kota yang ramah bagi semua orang.(*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi
Anak-Anak Mancing di Kolam Renang
Janji Kopi di Sudut Warkop
Tubuh Dalam Pandangan Sasak
Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial
PERUPA ANZUL TELAH PERGI: BILA GARAM TAK ASIN LAGI
Ketika Janji Kampanye Direalisasikan, Mengapa Masih Ada yang Menentangnya?
Ketika “Terima Kasih” Menjadi Barang Langka

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39 WITA

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:12 WITA

Anak-Anak Mancing di Kolam Renang

Rabu, 22 April 2026 - 09:05 WITA

Janji Kopi di Sudut Warkop

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:54 WITA

Tubuh Dalam Pandangan Sasak

Senin, 30 Maret 2026 - 07:17 WITA

Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA

Workshop menjadi ruang bersama untuk memastikan, pembangunan sanitasi tidak hanya menghadirkan layanan teknis (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 4 Jun 2026 - 13:38 WITA