Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial

Senin, 30 Maret 2026 - 07:17 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Cukup Wibowo – Widyaiswara Ahli Utama di BPSDMD Provinsi NTB

CERAKEN.ID — Di tengah laju digitalisasi yang kian masif, masyarakat tidak lagi hanya hidup dalam ruang-ruang fisik, tetapi juga dalam jejaring digital yang melampaui batas geografis. Namun menariknya, di tengah perubahan itu, tradisi seperti Lebaran Topat di Lombok tidak tergilas zaman.

Ia justru hadir sebagai jangkar identitas, mengikat nilai keagamaan, budaya, dan solidaritas sosial dalam satu momentum yang terus hidup dan berkembang.

Lebaran Topat bukan sekadar perayaan usai puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Lebih dari itu, ia menggambarkan sebuah ekspresi syukur kolektif, yang menghadirkan perjumpaan antara nilai Islam dan tradisi lokal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketupat, dalam konteks ini, bukan sekadar hidangan, tetapi simbol keterikatan sosial, keikhlasan, dan kebersamaan.

Dalam pandangan banyak ulama, tradisi seperti ini memiliki landasan kuat selama tidak bertentangan dengan syariat.

Asyuro, F. A., & Sayehu. (2025) dalam tulisannya, “Dinamika Penerapan Kaidah Al-‘Adah Al-Muhakkamah dalam Konteks Budaya Modern”, Arus Jurnal Sosial dan Humaniora menjelaskan dalam kesimpulannya, Dengan pendekatan yang tepat, umat Islam dapat tetap menjalani kehidupan modern dengan keseimbangan antara tradisi dan tuntutan zaman, tanpa kehilangan identitas keagamaannya”.

Pandangan ini memperkuat bahwa Lebaran Topat bukan sekadar praktik budaya, tetapi juga bagian dari ekspresi keberagamaan yang kontekstual.

Hal serupa relevan dengan pandangan yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang relevan di setiap waktu dan tempat. Artinya, ekspresi keagamaan yang berkelindan dengan budaya lokal seperti Lebaran Topat justru menjadi bukti keluwesan Islam dalam merangkul realitas sosial.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Di era digital, ekspresi ini tidak hanya berlangsung di ruang fisik seperti pantai Senggigi atau kawasan pesisir lainnya, tetapi juga merambah ruang virtual. Masyarakat membagikan momen kebersamaan mereka melalui media sosial, membangun narasi kolektif tentang identitas Lombok yang religius, ramah, dan penuh kebersamaan.

Dalam kerangka network society ala Manuel Castells, praktik ini menunjukkan bahwa budaya lokal kini hidup dalam dua dunia sekaligus, yakni nyata dan digital.

Bahkan, konsep people power mengalami transformasi. Ia tidak lagi hanya hadir dalam kerumunan fisik, tetapi juga dalam kekuatan kolektif masyarakat membangun citra dan makna melalui jejaring digital.

Namun, kekuatan tradisi ini tidak hanya terletak pada masyarakat, tetapi juga pada dukungan kepemimpinan daerah.

Perayaan Lebaran Topat di tahun 2026 yang dihadiri langsung oleh Gubernur NTB, L. M. Iqbal, bersama Bupati Lombok Barat, L. Ahmad Zaini (LAZ), di kawasan Senggigi menjadi simbol penting bahwa tradisi ini bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga bagian dari strategi sosial dan kultural daerah.

Kehadiran para pemimpin tersebut mencerminkan komitmen bahwa budaya lokal adalah aset strategis dalam mewujudkan visi daerah, baik itu Provinsi NTB maupun Kabupaten Lombok Barat.

Dalam konteks ini, Lebaran Topat tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga menjadi etalase budaya yang memperkenalkan NTB kepada dunia, baik secara langsung melalui kunjungan wisatawan maupun secara digital melalui penyebaran konten.

Lebih jauh, nilai religiusitas dalam tradisi ini juga memperkuat kohesi sosial. Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Lebaran Topat menjadi ruang konkret untuk mengamalkan hadis ini. Sebuah hadis yang dalam prakteknya menghubungkan kembali relasi sosial yang mungkin renggang, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan solidaritas.

Namun demikian, di tengah euforia digitalisasi, penting untuk menjaga agar tradisi tidak tereduksi menjadi sekadar tontonan.

Sherry Turkle mengingatkan bahwa teknologi dapat membuat manusia “terhubung, tetapi terasing.”

Dalam konteks ini, esensi Lebaran Topat harus tetap dijaga agar kehadiran, kebersamaan, dan makna spiritual tidak tergantikan oleh sekadar unggahan visual.

Di sinilah peran tokoh agama, tokoh adat, dan pemerintah menjadi krusial. Mereka tidak hanya menjaga tradisi tetap hidup, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap menjadi ruh yang menggerakkan masyarakat.

Lebaran Topat hari ini adalah wajah dari konsolidasi sosial baru, dengan melakukan perpaduan antara kekuatan tradisi, spiritualitas Islam, dan teknologi digital.

Ia menjadi bukti bahwa masyarakat NTB tidak hanya mampu menjaga warisan budaya, tetapi juga mentransformasikannya menjadi kekuatan untuk tampil di panggung global.

Sebagaimana kaidah fikih menyebutkan pentingnya memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Lebaran Topat adalah manifestasi nyata dari prinsip ini, selain tradisi tetap terjaga, inovasi terus bergerak mengikuti kemajuan zaman.

Dengan demikian, Lebaran Topat bukan hanya perayaan tahunan, tetapi juga simbol kekuatan masyarakat, kedalaman nilai religius, dan kemampuan budaya lokal untuk menembus batas global.

Ia adalah pesan bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi melainkan justru menguatkan tradisi agar masa depan yang bermakna dapat dibangun.**

 

Penulis : cw

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi
Anak-Anak Mancing di Kolam Renang
Janji Kopi di Sudut Warkop
Tubuh Dalam Pandangan Sasak
Bangku Kuning di Depan Kantor Gubernur: Antara Ketertiban dan Ruang Publik
PERUPA ANZUL TELAH PERGI: BILA GARAM TAK ASIN LAGI
Ketika Janji Kampanye Direalisasikan, Mengapa Masih Ada yang Menentangnya?
Ketika “Terima Kasih” Menjadi Barang Langka

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39 WITA

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:12 WITA

Anak-Anak Mancing di Kolam Renang

Rabu, 22 April 2026 - 09:05 WITA

Janji Kopi di Sudut Warkop

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:54 WITA

Tubuh Dalam Pandangan Sasak

Senin, 30 Maret 2026 - 07:17 WITA

Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA

Workshop menjadi ruang bersama untuk memastikan, pembangunan sanitasi tidak hanya menghadirkan layanan teknis (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 4 Jun 2026 - 13:38 WITA