Tubuh Dalam Pandangan Sasak

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nuriadi Sayip – Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram

CERAKEN.ID — Ciri bangsa yang berperadaban tinggi adalah apabila bangsa tersebut mampu mendefinisikan diri dan keberadaannya dengan istilah atau penamaan yang variatif.

Sasak, saya kira, termasuk bangsa yang berperadaban tinggi. Alasannya adalah karena ia mampu mendefinisikan dirinya dengan penamaan pada satu obyek dari perspektif yang berbeda tergantung titik tekan konsepnya.

Contoh kecilnya adalah pada penamaan “tubuh” atau “raga” manusia. Di Sasak, untuk menamai tubuh, orang Sasak memandangnya terdiri atas dua macam tubuh sehingga, akibatnya, penamaannya berbeda satu dengan yang lain.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Orang Sasak mengenal tubuh menjadi dua, yaitu tubuh kasar/materiil atau fisik dengan sebutan “Awak” atau “Rage”. Selain itu, Sasak juga mengenal tubuh halus atau nonmateriil atau bathiniah dengan sebutan “Perane”.

Awak atau rage diberi makan dengan makanan dan minuman yang memang dibutuhkan oleh tubuh supaya bisa hidup terus. Demikian halnya, Perane pun harus diberi makan dengan makanan yang diharapkan yaitu berupa pikiran positif, doa, semedi, dan pergaulan yang nontoksik.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Tujuan makanan, baik makanan material maupun makanan yang non material, adalah supaya dua tubuh manusia, yang selalu menyatu dalam diri seorang pribadi manusia, bisa tetap sehat bugar dan hidup dengan baik dan sempurna. Dengan kata lain, supaya tubuh itu tetap berjalan seimbang (sakinah) dan memberi manfaat kontributif positif pada orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Mengapa bisa begitu? Karena sejatinya makanan yang ditujukan untuk Awak dan Perane itu sejatinya mewujud menjadi “balung” atau energi. Energi inilah yang.menghidupi tubuh.

Tanpa energi, mau sebesar dan sekekar apapun tubuh, dia akan roboh dan lemas tak berdaya jika tidak diberi makanan sesuai porsinya.

Dampak dari pemenuhan makanan tubuh, awak dan perane, ini adalah terus berdaya dan terus beraura (bercahaya) kharismatik. Maka dari itu, kita sebagai orang Sasak yang terkenal religius dan berspiritual serta yang terkenal pekerja keras (kereh) dianjurkan terus memperhatikan pemberian makan-minum dua tubuh, awak dan perane, secara seimbang.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Maka, janganlah merasa lelah untuk bekerja, berkarya demi mendapatkan rejeki untuk kebutuhan awak, namun pada saat yang sama janganlah pula merasa bosan dan enggan untuk terus beribadah sesuai ajaran agama demi pemenuhan makanan perane. Harus seimbang.

Dampak konkritnya adalah tubuh akan selalu bugar dan pikiran akan selalu tenang. Ketika tenang, maka sejatinya tubuh kita sudah menghadirkan Tuhan secara otomatis dalam setiap pikiran, pandangan serta gerak langkah tubuh.

Dalam hal ini, di sinilah urgensi atau arti pentingnya kita berkumpul dalam lingkaran orang-orang alim sholeh yang dibimbing para tuan guru atau para mursyid atau guru tarekat atau para ahli zikir. Mereka adalah orang-orang yang diyakini sudah lekat dengan cahaya Ilahi.

Beliau-beliau pun pastinya membantu diri kita menghidupkan kesadaran spiritual kita (perane) untuk terus menggapai “balung” (energi) demi kebutuhan hidupnya kita. Semangat Saudaraku!

Wallahua’lam.
Mataram, 30 Maret 2026

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi
Anak-Anak Mancing di Kolam Renang
Janji Kopi di Sudut Warkop
Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial
Bangku Kuning di Depan Kantor Gubernur: Antara Ketertiban dan Ruang Publik
PERUPA ANZUL TELAH PERGI: BILA GARAM TAK ASIN LAGI
Ketika Janji Kampanye Direalisasikan, Mengapa Masih Ada yang Menentangnya?
Ketika “Terima Kasih” Menjadi Barang Langka

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39 WITA

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:12 WITA

Anak-Anak Mancing di Kolam Renang

Rabu, 22 April 2026 - 09:05 WITA

Janji Kopi di Sudut Warkop

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:54 WITA

Tubuh Dalam Pandangan Sasak

Senin, 30 Maret 2026 - 07:17 WITA

Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA

Workshop menjadi ruang bersama untuk memastikan, pembangunan sanitasi tidak hanya menghadirkan layanan teknis (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 4 Jun 2026 - 13:38 WITA