CERAKEN.ID — Sabtu, 11 April 2026, sekira pukul 16.20 Wita, langkah kaki tim ceraken.id tiba di sebuah ruang yang tak lazim disebut studio. Ia bukan bangunan steril dengan dinding putih dan cahaya lampu buatan, melainkan lanskap terbuka yang hidup: Studio Alam Bangket Gunung Pengsong, di Kabupaten Lombok Barat.
Di sana, perupa I Nyoman Sandiya menyambut dengan riang, seolah telah lama menunggu pertemuan itu terjadi.
Teh hangat dan keripik emping tersaji, disiapkan oleh sang istri, mengawali percakapan yang mengalir tanpa jarak. “Akhirnya datang juga. Mari silakan. Ini tempat saya berkarya. Di sini lahir ide-ide saat saya menggarap karya seni,” ujarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bangket, dalam bahasa Sasak, berarti sawah atau lahan pertanian, ruang hidup yang sejak lama menjadi denyut nadi masyarakat Pulau Lombok.
Sementara Gunung Pengsong, bukit batu dengan ketinggian sekitar 114–340 meter di atas permukaan laut, berdiri tak jauh dari studio itu. Di puncaknya terdapat Pura Luhur Pengsong, salah satu pura tertua di Lombok yang telah ada sejak abad ke-16.
Dari sana, bentangan panorama menghampar: kota Mataram, laut, sawah, hingga siluet Gunung Rinjani di kejauhan.
Kombinasi geografis ini menjadikan studio Sandiya bukan sekadar ruang kerja, melainkan ruang tafsir. Alam bukan latar belakang, melainkan subjek sekaligus mitra dialog.
Setiap angin yang berembus, setiap suara dedaunan, hingga gerak liar primata di sekitar, menjadi bagian dari proses kreatif yang tak terpisahkan.
Interaksi Manusia, Alam, dan Satwa

Sore itu, suasana mendadak hidup ketika beberapa monyet melompat-lompat di atas atap rumah. Mereka datang seperti tamu lama yang tahu benar kapan harus berkunjung.
“Ada apa. Kamu mau minum atau makan?” tanya Sandiya sambil bergegas mengambil sesuatu untuk mereka.
Monyet-monyet itu bukan sekadar fauna liar yang kebetulan singgah. Dalam perspektif ekologis, mereka adalah bagian dari sistem yang lebih besar. Sebagai primata dari ordo Primates, spesies seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) memiliki peran penting sebagai pemencar biji dan penjaga keseimbangan ekosistem.
Mereka hidup dalam struktur sosial yang kompleks, cerdas, dan adaptif, cermin lain dari kehidupan manusia yang kerap lupa akan akar ekologisnya.
Di Gunung Pengsong, interaksi antara manusia, alam, dan satwa berlangsung tanpa sekat tegas. Wisatawan datang untuk menikmati panorama dan memberi makan monyet, sementara masyarakat lokal hidup berdampingan dengan dinamika tersebut.
Di sinilah Sandiya membaca “teks” alam: bahwa kehidupan selalu tentang relasi, bukan dominasi.
Membangun Ekosistem Kreatif
Menariknya, perjalanan Sandiya menuju titik ini bukanlah cerita yang instan. Lombok, baginya, adalah “lingkungan baru” setelah Bali dan Yogyakarta, dua kota yang menjadi fondasi awal kariernya di dunia seni. Namun, ia tidak melihat geografis sebagai batas.
“Studio sekaligus rumah ini adalah tempat saya kost pertama kali pada 2004. Dalam benak terbersit jika kelak menjadi milik sendiri,” kenangnya.
Dari ruang sederhana itulah mimpi itu tumbuh perlahan. Kini, ia bukan hanya menetap, tetapi juga membangun ekosistem kreatif di sekitarnya. Studio itu menjadi ruang terbuka bagi ide, eksperimen, dan interaksi sosial, terutama bagi anak-anak di sekitar.
Tak kurang dari sepuluh anak biasanya berkumpul di lantai dua, menciptakan karya mereka sendiri. Bahan tersedia, akses internet pun terbuka.

Namun, tantangan baru muncul: menjaga api kreativitas itu tetap menyala di tengah distraksi zaman.
Di luar aktivitas seni, Sandiya juga mengajar di SMAN 8 Mataram. Dunia pendidikan menjadi jalur lain untuk menanamkan nilai yang ia yakini: kesadaran lingkungan.
Baginya, masa depan tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau kebijakan, tetapi oleh cara generasi muda memahami hubungan mereka dengan alam. Pendidikan, dalam hal ini, bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan cara pandang.
Membawa Isu Lebih Dekat
Karya-karya Sandiya menjadi perpanjangan dari gagasan itu. Ia menggunakan bahan yang kerap dianggap tak bernilai, sampah plastik, sebagai medium utama. Di tangannya, limbah berubah menjadi bahasa visual yang kuat: kritik, refleksi, sekaligus ajakan.
Plastik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir, diolah menjadi karya yang memancing kesadaran. Ia tidak hanya menghadirkan estetika, tetapi juga menyodorkan pertanyaan: bagaimana manusia memperlakukan lingkungannya?
Dalam konteks yang lebih luas, karya-karya ini berfungsi sebagai “alarm ekologis”. Krisis lingkungan sering kali dipersepsikan sebagai isu global yang jauh, tentang es di kutub yang mencair atau hutan Amazon yang terbakar.
Namun, Sandiya membawa isu itu lebih dekat: ke halaman rumah, ke jalanan kota, ke kebiasaan sehari-hari.
Di tengah meningkatnya volume sampah dan tekanan terhadap lingkungan, pesan itu menjadi semakin relevan. Bahwa perubahan tidak harus dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari tindakan kecil; dari rumah, dari diri sendiri.
Dan di Studio Alam Bangket Gunung Pengsong, perubahan itu menemukan bentuknya yang paling sederhana sekaligus paling kuat: selembar kardus bekas, serpihan plastik, dan tangan kreatif yang mengubahnya menjadi pengingat bahwa bumi adalah ruang bersama yang harus dijaga.
Di sana, di antara sawah, monyet, dan bukit batu, seni tidak lagi berdiri sendiri. Ia menyatu dengan kehidupan; menjadi cara untuk memahami, merawat, dan mungkin, menyelamatkan. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































