Oleh Sigit Susanto
CERAKEN.ID — Pagi di Bale Pelangi, Sandik, ada denyut menyayat di telinga. Di sela-sela jendela terdengar lantunan anggun; Nasi Kuning, Lalapan, Botok, Tahu Isi.
Aku duga pasti ini penjual keliling. Sayup-sayup suaranya menyerupai orang menyanyi. Lantunan tahuuu isiiii, memanjang seperti sedang menyanyi.
Pagi berikutnya, suara itu bertalu lagi dan aku masih belum memergoki langsung, seperti apa penjualnya? Indah nian lantunannya. Selain lantunan yang indah juga disebutkan jenis makanan yang dijual.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Biasanya kita sering dengar penjual hanya sebut sayuuur. Meskipun ia menjual tempe dan ikan asin. Tapi sayuur saja yang disebutkan. Mungkin sayuur mewakili barang lain yang dijual.
Claudia, istriku memujinya, seperti menyanyi, katanya.
Pagi yang ranum ketiga, suara ini muncul lagi; Nasi Kuning, Lalapan, Botok, Tahu Isiiii. Claudia kebetulan sedang berada di depan rumah, ia memanggilku keluar. Aku keluar dan penjualnya sudah pergi. Namun ia menggenjot sepedanya melewati jalan di belakang rumah, maka dengan mudahnya aku memanggil, “Mbak, kami akan membeli.”
“Ya,” jawabnya pendek.
Aku keluar sambil membawa uang. Ternyata penjualnya seorang perempuan mengayuh sepeda dan di boncengannya ada keranjang plastik yang ditutup kain.
Claudia mendekati penjualnya dan bilang, “Bagus lagunya.” Wajah penjual itu memudarkan senyuman. Claudia jujur menyebut untaian kata penjual itu dianggap lagu. Aku paham, ia baru belajar bahasa Indonesia, asal ada orang berdendang dianggap menyanyikan lagu. Tapi penjual itu tersipu malu.
Aku membeli nasi kuning, satu lumpia, tahu isi dan botok. “Berapa harganya, Mbak?”
“Delapan belas ribu,” katanya polos.
Kesempatan itu kumanfaatkan untuk bertanya-tanya. Ia mengaku mulai Agustus 2024 resign dari pekerjaannya di Elpiji karena punya anak kecil. Ia lahir di desa Sandik, Lombok. Orang tuanya berasal dari Magelang, Jawa tengah. Tapi ayah sudah tiada, tinggal ibu. Ia tinggal di perumahan Sandik.
Claudia tanya, “Mulai jam berapa masak?”
“Mulai jam 01.00 bangun dan masak.”
“Jam satu, waduh,” sambut Claudia. Ia sudah mulai mempraktikkan ungkapan; waduuh.
Wajah penjual itu ayu. Kagum keberaniannya mendendangkan aneka menu memasuki kompleks perumahan. Ketika kutanyakan, awal mula menjual dengan melantunkan menu-menu, bagaimana?
Ia menjelaskan, awalnya di rumah berlatih dengan menyebutkan menu jualannya. Dia coba dan dia dengarkan sendiri, kesannya percaya diri, bagus. Maka begitu ia keluar rumah, langsung berdendang.
Ia menambahkan cerita, ada pelanggan baru yang juga penasaran di blok lain, masih di Bale Pelangi katanya, suaranya bagus, kenapa gak daftar di Indonesia Idol saja? Yang paling unik, ada langganan seorang bapak-bapak, request mbak penjual itu berkeliling sambil melantunkan sebutan menu-menu.
Usai percakapan pendek. Aku coba makan. Hem, nasi kuningnya lezat, tahu isinya berisi sayuran; mantap. Lumpia juga oke. Yang paling kusuka botok tempe ini sedikt pedas tapi terasa di lidah dan mulut.
Satu catatanku, menjual makanan dengan sepeda ontel ini banyak positifnya. Ritme gerak lamban, apalagi dipadu dengan suara emasnya yang merdu, seolah mendengarkan konser live berjalan.
Kadang aku membayangkan, orang yang membeli makanannya, karena suaranya, kualitas menunya, atau penjualnya yang ayu dan simpatik? Mental betul dia. Seandainya ia jualan dengan motor, pasti lagunya akan lenyap ditelan angin.
Semoga sukses, mbak!*
Editor : ceraken editor


























































