Menjaga Akurasi di Tengah Banjir Informasi Digital

Senin, 18 Mei 2026 - 08:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kemampuan verifikasi berlapis, literasi data, serta kemampuan berpikir kontekstual tidak sepenuhnya dapat digantikan teknologi (Foto: ist / ceraken.id)

Kemampuan verifikasi berlapis, literasi data, serta kemampuan berpikir kontekstual tidak sepenuhnya dapat digantikan teknologi (Foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram — Arus informasi yang bergerak semakin cepat di era kecerdasan buatan (AI) menghadirkan tantangan baru bagi dunia jurnalistik. Di tengah maraknya disinformasi, media dituntut tidak hanya menjadi penyampai berita, tetapi juga penjaga akurasi dan penerjemah ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas.

Kesadaran itulah yang mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR RI menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB menggelar sosialisasi teknik menulis berita ilmiah populer.

Kegiatan tersebut menghadirkan peneliti BRIN, Mega Mardita, yang membawakan materi bertajuk “Jurnalisme Sains di Era AI & Disinformasi”. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya kemampuan wartawan membaca, membingkai, dan memverifikasi informasi ilmiah agar tidak terjebak dalam penyebaran informasi yang menyesatkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Mega, hampir seluruh isu publik saat ini bersinggungan dengan sains, mulai dari perkembangan teknologi dan AI, krisis global, hingga kebijakan berbasis data. Karena itu, media memiliki posisi penting sebagai “agen pengetahuan publik” yang mampu menjembatani bahasa ilmiah dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Menerjemahkan Bahasa Ilmiah untuk Publik

Mega menilai, salah satu persoalan utama dalam pemberitaan sains adalah cara penyampaian yang terlalu teknis dan dipenuhi jargon ilmiah. Akibatnya, publik sering kali merasa jauh dari isu riset dan tidak memahami relevansinya terhadap kehidupan mereka.

“Publik tidak hanya ingin tahu bahwa penelitian dilakukan, tetapi mengapa mereka harus peduli terhadap hasil riset tersebut,” kata Mega dalam sesi pemaparannya.

Ia menjelaskan, jurnalisme sains harus mampu menghadirkan sisi manusiawi dari sebuah penelitian. Karena itu, ia memperkenalkan formula dasar jurnalisme sains yang menitikberatkan pada temuan, dampak, dan manusia.

Baca Juga :  Mandalika Menyulam Sehat dan Budaya dalam Satu Festival

Dengan pendekatan tersebut, hasil penelitian tidak berhenti sebagai data akademik, tetapi dapat diterjemahkan menjadi manfaat konkret bagi publik.

Peserta juga dibekali teknik cepat membaca jurnal ilmiah, mulai dari memahami abstrak, metode penelitian, hingga kesimpulan. Langkah tersebut dinilai penting agar wartawan tidak terjebak pada pemberitaan yang berlebihan terhadap hasil riset yang masih bersifat prematur.

Mega turut mengingatkan adanya kesalahan umum dalam peliputan sains, seperti menyamakan korelasi dengan kausalitas atau terlalu cepat mengutip hasil riset preprint yang belum melewati proses peer review. Menurutnya, kehati-hatian menjadi fondasi utama agar media tidak ikut memperkuat informasi yang belum teruji.

Tantangan AI dan Masa Depan Jurnalisme

Dalam sesi lain, Mega menyoroti tantangan baru yang muncul seiring pesatnya perkembangan AI. Kehadiran deepfake audio dan video, artikel sintetis, jurnal palsu, hingga fenomena halusinasi AI dinilai dapat memanipulasi data dan informasi dengan cara yang semakin sulit dikenali.

Karena itu, wartawan masa depan dituntut memiliki kemampuan verifikasi berlapis, literasi data, serta kemampuan berpikir kontekstual yang tidak sepenuhnya dapat digantikan teknologi.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani atau Miq Ari, yang mengikuti kegiatan melalui sambungan Zoom. Ia menilai penguatan kapasitas wartawan menjadi kebutuhan mendesak agar informasi berbasis riset dapat dipahami publik secara benar dan tidak menimbulkan disinformasi.

Baca Juga :  NTB di Persimpangan Demografi: Ketimpangan Gender Menurun, Tantangan Masyarakat Menua Mengemuka

“Di era digital dan perkembangan AI saat ini, wartawan dituntut tidak hanya cepat menyampaikan informasi, tetapi juga harus mampu memverifikasi dan menerjemahkan informasi ilmiah agar mudah dipahami masyarakat. Karena itu, kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat kapasitas insan pers, khususnya di NTB,” ujar Miq Ari.

Ia menilai kolaborasi antara BRIN, DPR RI, dan PWI NTB merupakan langkah strategis dalam membangun literasi publik berbasis data dan riset ilmiah. Menurutnya, hasil penelitian harus mampu keluar dari ruang akademik dan hadir sebagai informasi yang berdampak bagi masyarakat luas.

“Terimakasih sahabat-sahabat media di Mataram, khususnya PWI NTB. Kita ingin hasil-hasil riset tidak berhenti di ruang akademik saja, tetapi bisa diterjemahkan menjadi informasi yang berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Media memiliki peran penting sebagai jembatan antara dunia riset dan publik,” katanya.

Sebagai Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Pulau Lombok, Miq Ari juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap maraknya manipulasi konten berbasis AI yang kini semakin sulit dibedakan dari informasi asli.

“Pers harus tetap menjadi penjaga kepercayaan publik. Verifikasi, akurasi, dan etika jurnalistik harus tetap menjadi fondasi utama di tengah banjir informasi digital,” pungkasnya. (*)

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Menata Pondasi UMKM NTB Menuju Pasar Global
Regenerasi Kepemimpinan MGPA dan Harapan Baru Sport Tourism Mandalika
Desa Berdaya dan Ikhtiar Memutus Rantai Kemiskinan di NTB
Lunyuk, Hutan, dan Cita-Cita Anak-Anak Desa
Deru Mesin dan Gairah Ekonomi di The Mandalika
Ekonomi NTB Menguat: Ekspor Melejit, Pariwisata Bergeliat, Inflasi Terkendali
NTB di Persimpangan Demografi: Ketimpangan Gender Menurun, Tantangan Masyarakat Menua Mengemuka
Mandalika Menyulam Sehat dan Budaya dalam Satu Festival

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 08:49 WITA

Menjaga Akurasi di Tengah Banjir Informasi Digital

Sabtu, 16 Mei 2026 - 09:22 WITA

Menata Pondasi UMKM NTB Menuju Pasar Global

Jumat, 15 Mei 2026 - 13:58 WITA

Regenerasi Kepemimpinan MGPA dan Harapan Baru Sport Tourism Mandalika

Selasa, 12 Mei 2026 - 17:39 WITA

Desa Berdaya dan Ikhtiar Memutus Rantai Kemiskinan di NTB

Minggu, 10 Mei 2026 - 19:15 WITA

Lunyuk, Hutan, dan Cita-Cita Anak-Anak Desa

Berita Terbaru

Pale Blue Dot - I Nyoman  Sandiya. Pada akhirnya, seluruh kehidupan, seluruh mimpi, dan seluruh sejarah manusia memang hanya berlangsung di sebuah titik biru pucat bernama bumi (Foto: ist / ceraken.id)

PAGELARAN

Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:02 WITA

Musik dalam pertunjukan ini hadir sebagai perekat sosial: bahasa universal yang melampaui sekat-sekat etnik (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:27 WITA

Hari Museum Internasional 2026. Museum benar-benar hidup sebagai ruang publik, ruang pengetahuan, ruang peradaban, sekaligus pilar masa depan Indonesia (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:09 WITA