Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:30 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CERAKEN.ID — Di tengah derasnya arus modernitas, ada bunyi-bunyi kecil yang perlahan menghilang tanpa disadari. Salah satunya adalah genggong, alat musik tradisional yang pernah hidup akrab di tengah masyarakat Lombok Barat.

Ia bukan sekadar instrumen bunyi, melainkan ruang batin yang lahir dari napas, getaran, dan kesunyian manusia yang menyatu dengan alam.

Dahulu, genggong hadir dalam keseharian masyarakat. Ia dimainkan di sela waktu senggang, menemani para petani di ladang, atau mengiringi peristiwa-peristiwa sederhana yang sarat makna kultural.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bunyinya yang khas menghadirkan suasana meditatif, seolah menghubungkan manusia dengan dirinya sendiri sekaligus dengan lingkungan di sekitarnya.

Kini, gema itu mulai jarang terdengar. Modernisasi menghadirkan banyak bentuk hiburan baru, sementara tradisi-tradisi lisan dan musikal perlahan tersingkir dari ruang hidup masyarakat. Genggong pun berada di persimpangan antara ingatan dan kepunahan.

Dalam wawancara CERAKEN.ID bersama Ahmad Saleh Tabibuddin, pegiat seni dan kebudayaan dari Lombok Barat, Jumat, 22 Mei 2026 sekira pukul 13.25 WITA, kegelisahan terhadap nasib genggong terasa begitu nyata.

Sosok yang akrab disapa Asta itu menyebut bahwa keberadaan genggong kini semakin rapuh karena minimnya regenerasi.

“Genggong itu bukan hanya alat musik. Di dalamnya ada cara orang Lombok dulu berinteraksi dengan alam, dengan waktu senggang, juga dengan rasa sunyi mereka sendiri,” ujar Asta.

Gelangsar dan Para Penjaga Ingatan

Hari ini, di Lombok Barat, genggong masih bertahan di tangan segelintir orang tua di Desa Gelangsar. Mereka menjadi penjaga terakhir dari sebuah warisan bunyi yang nyaris terhapus dari lanskap kebudayaan lokal.

Baca Juga :  Sekardiu: Dari Mitologi Wayang ke Kain Batik, Jejak Imajinasi yang Menjadi Identitas

Di tangan merekalah, nada-nada tua itu masih bergetar, meski pelan dan nyaris tak terdengar oleh generasi muda.

Keberadaan para pemain genggong di Gelangsar sesungguhnya lebih dari sekadar pelestari seni tradisi. Mereka adalah penjaga memori kolektif masyarakat.

Setiap bunyi yang lahir dari genggong membawa jejak sejarah, cara hidup, dan pandangan dunia masyarakat masa lalu.

Asta melihat kondisi ini sebagai tanda bahwa kebudayaan membutuhkan perhatian yang lebih serius, bukan sekadar seremoni atau dokumentasi sesaat.

“Kalau tidak ada ruang belajar dan regenerasi, kita hanya akan mewarisi cerita tentang genggong tanpa pernah lagi mendengar bunyinya secara langsung,” katanya.

Menurutnya, ancaman terbesar terhadap kesenian tradisional bukan hanya perubahan zaman, melainkan hilangnya hubungan emosional generasi muda dengan akar budayanya sendiri.

Ketika tradisi tidak lagi dikenali sebagai bagian dari identitas hidup, maka ia perlahan berubah menjadi benda museum yang jauh dari realitas masyarakat.

Baca Juga :  Tentang Igelan Jaran Endut
Menghidupkan Kembali Denyut Kebudayaan

Upaya menjaga genggong tidak cukup hanya dengan menyimpannya sebagai artefak budaya. Tradisi hanya akan hidup jika dimainkan, dipelajari, dan diwariskan secara aktif.

Karena itu, penting bagi generasi hari ini untuk kembali menoleh pada warisan-warisan kecil yang selama ini terabaikan.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh teknologi dan budaya populer, genggong justru menawarkan ruang refleksi yang sunyi. Bunyinya mengajarkan kesabaran, ketekunan, dan kedekatan manusia dengan ritme alam.

Nilai-nilai semacam itu menjadi semakin penting di tengah kehidupan modern yang serba cepat.

Asta menilai, kebangkitan kesenian tradisional harus dimulai dari kesadaran kolektif bahwa budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi identitas masa depan.

“Kita tidak sedang bicara nostalgia semata. Genggong perlu dihidupkan kembali supaya generasi sekarang tahu bahwa mereka punya akar budaya yang kaya dan unik,” ungkapnya.

Di Lombok Barat, genggong mungkin tinggal tersisa dalam napas beberapa orang tua di Gelangsar. Namun selama masih ada yang mendengar, mempelajari, dan merawatnya, bunyi itu sesungguhnya belum benar-benar hilang.

Ia hanya sedang menunggu untuk kembali dihidupkan sebagai denyut kebudayaan yang utuh. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Tentang Igelan Jaran Endut
Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB
Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia
Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026
Dana Indonesiaraya dan Upaya Merawat Masa Depan Kebudayaan Nasional
“Aklammang” di Desa Lantang, Jejak Persatuan dalam Filosofi Akbulo Sibatang
MANDAT BAYAN: Tonggak Baru Kedaulatan Masyarakat Adat di Lombok Utara
Sekardiu: Dari Mitologi Wayang ke Kain Batik, Jejak Imajinasi yang Menjadi Identitas

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:30 WITA

Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Sabtu, 16 Mei 2026 - 17:41 WITA

Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:26 WITA

Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia

Rabu, 13 Mei 2026 - 23:01 WITA

Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026

Jumat, 8 Mei 2026 - 08:01 WITA

Dana Indonesiaraya dan Upaya Merawat Masa Depan Kebudayaan Nasional

Berita Terbaru

Salah satu momen penting dalam Rakerkomwil IV APEKSI 2026 adalah penunjukan Kota Mataram sebagai tuan rumah Rakerkomwil APEKSI ke-22 Tahun 2027(Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan

Jumat, 22 Mei 2026 - 21:37 WITA

Masa depan pelayanan publik Indonesia sedang bergerak menuju sistem yang lebih terkoneksi (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Jumat, 22 Mei 2026 - 20:46 WITA

Ilustrasi: cewe / ceraken.id

CERITA PENDEK

Hari Kemenangan Mailan

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:26 WITA