Keluhan

Rabu, 20 Maret 2024 - 09:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Apakah penyebab tubuh bisa tertib pada maksud yang dikehendaki pikiran? Jawabnya adalah karena telah terjadinya habituasi. Ya, habituasi adalah cara kita menciptakan “kebiasaan diri”, yang oleh karena terus kita lakukan akan membuat respon fisiologis dan emosionalitas yang kita miliki tak lagi meledak seperti sebelumnya.

Pengalaman yang membuahkan kesadaran sebagai ciri bekerjanya pikiran telah membuat kita makin bisa mengontrol emosionalitas kita yang berlebihan pada ketertarikan, keterkejutan, kemarahan, ketersinggungan, atau perasaan-perasaan lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pun halnya dengan kesabaran yang selama ini masih kita rasakan sebagai beban yang membuat diri serasa tak kuat menanggungnya, tentu ini menjadi hal yang tak menyenangkan. Perasaan yang tak menyenangkan oleh beban bila terus didiamkan akan bisa mematikan daya kreativitas dan sekaligus daya hidup. Pertanyaannya, apakah karena “beban” itu kita kemudian memilih untuk menyerah? Bila kesadaran dan kesabaran, seperti yang disimbolisasikan oleh WS Rendra sebagai matahari dan bumi, maka betapa pentingnya simbol-simbol itu dalam kehidupan kita.  Keduanya –kesadaran dan kesabaran– itu justru harus kita rawat dalam kesemestian hidup untuk membuat kehidupan terjaga dan terus berlangsung sebagai keniscayaan dalam diri kita.

Baca Juga :  Hari Kemenangan Mailan

Puasa adalah ikhtiar untuk mempraktekkan dua hal tersebut di atas yakni, kesadaran dan kesabaran. Dan agar praktek itu terasa menyenangkan harus dimulai dari cara kita membiasakan pikiran dengan terus membangun kesadaran akan betapa banyak yang sudah kita dapat dalam hidup kita. Dalam puasa, pengendalian diri adalah ciri utama yang membuat kita terus belajar untuk terus bersabar dan tidak mudah mengeluh. Mengeluh lapar, mengeluh haus atau bahkan cuma pada tubuh yang mulai terasa lemas.

Puasa adalah momen tubuh berlatih untuk tak mudah menyerah. Dengan menyadari bahwa keluhan adalah salah satu keburukan, hal ini dimaksudkan agar tubuh tidak mengalami kontaminasi yang tak hanya membuat kesabaran rusak dibuatnya, lebih dari itu adalah matinya unsur-unsur positif dalam tubuh kita. Keluhan tak ubahnya limbah yang mengotori akal sehat.

Baca Juga :  Hari Kemenangan Mailan

Menyadari bahwa menjadi sehat itu adalah karunia, dan jiwa yang diliputi oleh kegembiraan itu juga merupakan karunia, maka apakah kita rela karunia-karunia itu hilang dari diri kita? Tentu saja jawabannya tidak. Kita ingin karunia itu justru mestinya makin bertambah. Dan puasa adalah metode terbaik bagi cara kita mensyukuri karunia itu agat jiwa raga kita makin sehat dan gembira.

Semoga puasa kita hari ini makin menumbuhkan kesadaran akan hakikat kesabaran kita sebagai pribadi. Karena hanya dengan kesabaran yang optimal yang bisa mengantar seseorang pada kualitas diri dan memperoleh respek pihak lain. Insyaallah.

Penulis : Cukup Wibowo

Editor : Editor Ceraken

Berita Terkait

Hari Kemenangan Mailan
Menjadi ASN Semestinya
Senja di Savana Bale Tepak Batujai*
Ia Menjadi Jejak di Pikiran
Hujan Duka
Noktah Merah di Cangkir Kopi
Ataraxia: Ketenangan Jiwa yang Murni
Laksita Ratnaloka Permana Sari

Berita Terkait

Jumat, 22 Mei 2026 - 17:26 WITA

Hari Kemenangan Mailan

Kamis, 30 April 2026 - 10:32 WITA

Menjadi ASN Semestinya

Jumat, 20 Maret 2026 - 04:29 WITA

Senja di Savana Bale Tepak Batujai*

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:56 WITA

Ia Menjadi Jejak di Pikiran

Rabu, 11 Maret 2026 - 11:57 WITA

Hujan Duka

Berita Terbaru

OPINI

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:17 WITA