Kritik Polisi Hedon Najwa Shihab Bukan Tanpa Dasar atau  Omong Kosong, Ini peraturannya

Minggu, 25 September 2022 - 15:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CERAKEN.ID- Najwa Shihab tak lepas dari kritik usai menyuarakan pendapatnya tentang polisi hedon. Ada yang keberatan Najwa Shihab menyebut polisi bukan oknum, juga ada yang mendukungnya.Bahkan sosok seperti Nikita Mirzani juga ikut mengomentari kritikan Najwa Shihab.

Namun, Najwa Shihab punya pegangan atau bukti dalam argumentasinya. Termasuk menyoal kritiknya terhadap gaya hedon polisi. Najwa Shihab berpegang pada peraturan larangan pamer kemewahan bagi anggota Polri.

Ada 7 poin larangan pamer kemewahan bagi anggota Polri dan keluarga yang tercatat dalam ST/30/Xi/Hum.3.4/2019/Divpropam, yaitu: 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1. Tidak menunjukkan, memakai, memamerkan barang-barang mewah dalam kehidupan sehari-hari baik dalam interaksi sosial di kedinasan maupun area publik. 

2. Senantiasa menjaga diri, menempatkan diri pola hidup sederhana di lingkungan institusi Polri maupun kehidupan bermasyarakat. 

3. Tidak mengunggah foto atau video pada medsos yang menunjukkan gaya hidup yang hedonis karena dapat menimbulkan kecemburuan sosial.

Baca Juga :  Menembus Batas, MengEMASkan Indonesia: Arah Baru Pegadaian di Usia 125 Tahun

 4. Menyesuaikan norma hukum, kepatutan, kepantasan, dengan kondisi lingkungan tempat tinggal.

 5. Menggunakan atribut Polri yang sesuai dengan pembagian untuk penyamarataan. 

6. Pemimpin Kasatwil, perwira dapat memberikan contoh perilaku dan sikap yang baik, tidak memperlihatkan gaya hidup yang hedonis terutama Bhayangkari dan keluarga besar Polri. 

7. Dikenakan sanksi yang tegas bagi anggota Polri yang melanggar. 

Najwa Shihab juga memberikan contoh lewat kehidupan Jenderal Hoegeng yang dia sampaikan dalam channel YouTube pribadinya.

 Najwa Shihab merujuk pada jokes Gus Dur yang menyebut hanya ada 3 polisi jujur di Indonesia, satu itu patung polisi, dua adalah polisi tidur, dan ketiga adalah polisi Hoegeng atau Jenderal Hoegeng. 

Berbekal hasil perbincangannya dengan istri almarhum Jenderal Hoegeng yang dia panggil Eyang Meri, betapa mantan Kapolri itu sangat menjaga amanah agar tidak terjerumus dalam konflik kepentingan.

Baca Juga :  Bangket, Monyet, dan Plastik: Lanskap Kreativitas di Kaki Gunung Pengsong

 Saat menyeruakan pendapatnya, Najwa Shihab tak menutup mata akan ada serangan. Ketika menerima penghargaan sebagai Public Figure Inspiratif Terpopuler pada Television Awards 2022, Najwa Shihab memberikan penjelasan. 

Sebagai jurnalis, Najwa Shihab mengatakan dirinya hanya menggaungkan suara publik. Perempuan yang akrab disapa Mbak Nana itu mengatakan ada banyak kebenaran yang harus berani dibicarakan.

“Dalam upaya untuk membicarakan kebenaran selalu ada usaha untuk merobohkan nyali lewat intimidas, beragam intimidasi, macam-macam bentuk intimidasinya, tapi tujuannya selalu satu, membangun rasa ngeri, menakut-nakuti supaya kita berhenti,” kata Najwa Shihab. 

“Siapapun bisa mengalami itu. Populer karena karya dan juga karena tindakan sehari-hari yang menginspirasi. inspiratif itu sebenarnya, punya daya tular karenanya mari rapatkan barisan mari saling merapatkan nyali memperjuangkan nilai integritas, toleransi, pentingnya partisipasi. Supaya selalu ada orang-orang di luar sana yang juga menolak berhenti dan terus berani,” tegasnya***

Berita Terkait

Meneguhkan Komitmen di Usia 125 Tahun: Inklusi Keuangan, Transformasi Digital, dan Peran Strategis di Kawasan Bali–Nusa Tenggara
Bangket, Monyet, dan Plastik: Lanskap Kreativitas di Kaki Gunung Pengsong
Pemimpin yang Menyupiri Tamu: Wajah Transformasi dari Museum Negeri NTB
Menembus Batas, MengEMASkan Indonesia: Arah Baru Pegadaian di Usia 125 Tahun
Prof. Munirah Hasjim: Menjadikan Perpustakaan Unhas Ruang Hidup bagi Para Pencari Ilmu
Jurnalisme Kebangsaan Ajoeba Wartabone di Masa Revolusi Indonesia
Strategi I Ketut Gede Winata Membangun Pegadaian Cabang Selong yang Produktif dan Humanis
Prof Aminuddin Salle: Balla Barakkaka ri Galesong, dan Kepemimpinan Appaka Sulapak

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 17:08 WITA

Meneguhkan Komitmen di Usia 125 Tahun: Inklusi Keuangan, Transformasi Digital, dan Peran Strategis di Kawasan Bali–Nusa Tenggara

Minggu, 12 April 2026 - 12:37 WITA

Bangket, Monyet, dan Plastik: Lanskap Kreativitas di Kaki Gunung Pengsong

Senin, 6 April 2026 - 22:38 WITA

Pemimpin yang Menyupiri Tamu: Wajah Transformasi dari Museum Negeri NTB

Kamis, 2 April 2026 - 14:50 WITA

Menembus Batas, MengEMASkan Indonesia: Arah Baru Pegadaian di Usia 125 Tahun

Senin, 2 Maret 2026 - 22:06 WITA

Prof. Munirah Hasjim: Menjadikan Perpustakaan Unhas Ruang Hidup bagi Para Pencari Ilmu

Berita Terbaru

Halalbihalal KPP NTB. Nilai-nilai itu kembali diteguhkan, dirajut dalam silaturahmi, disemai dalam keikhlasan, dan diharapkan tumbuh menjadi kebahagiaan yang berkelanjutan (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Halalbihalal KPP NTB: Menjahit Silaturahmi, Merawat Makna Pasca-Ramadan

Minggu, 19 Apr 2026 - 20:20 WITA

Karya Lukis I Nyoman Sandiya (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Sabtu, 18 Apr 2026 - 20:28 WITA

Kartini Ismail (berdiri di tengah memegang mic), saat kunjungan, yang dihadiri Ibu Melinda Aksa, istri Walikota Makassar, dan berapa pimpinan SKPD (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail

Sabtu, 18 Apr 2026 - 15:46 WITA

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:32 WITA