Kritik Polisi Hedon Najwa Shihab Bukan Tanpa Dasar atau  Omong Kosong, Ini peraturannya

Minggu, 25 September 2022

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

CERAKEN.ID- Najwa Shihab tak lepas dari kritik usai menyuarakan pendapatnya tentang polisi hedon. Ada yang keberatan Najwa Shihab menyebut polisi bukan oknum, juga ada yang mendukungnya.Bahkan sosok seperti Nikita Mirzani juga ikut mengomentari kritikan Najwa Shihab.

Namun, Najwa Shihab punya pegangan atau bukti dalam argumentasinya. Termasuk menyoal kritiknya terhadap gaya hedon polisi. Najwa Shihab berpegang pada peraturan larangan pamer kemewahan bagi anggota Polri.

Ada 7 poin larangan pamer kemewahan bagi anggota Polri dan keluarga yang tercatat dalam ST/30/Xi/Hum.3.4/2019/Divpropam, yaitu: 

1. Tidak menunjukkan, memakai, memamerkan barang-barang mewah dalam kehidupan sehari-hari baik dalam interaksi sosial di kedinasan maupun area publik. 

2. Senantiasa menjaga diri, menempatkan diri pola hidup sederhana di lingkungan institusi Polri maupun kehidupan bermasyarakat. 

3. Tidak mengunggah foto atau video pada medsos yang menunjukkan gaya hidup yang hedonis karena dapat menimbulkan kecemburuan sosial.

Baca Juga :  Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah

 4. Menyesuaikan norma hukum, kepatutan, kepantasan, dengan kondisi lingkungan tempat tinggal.

 5. Menggunakan atribut Polri yang sesuai dengan pembagian untuk penyamarataan. 

6. Pemimpin Kasatwil, perwira dapat memberikan contoh perilaku dan sikap yang baik, tidak memperlihatkan gaya hidup yang hedonis terutama Bhayangkari dan keluarga besar Polri. 

7. Dikenakan sanksi yang tegas bagi anggota Polri yang melanggar. 

Najwa Shihab juga memberikan contoh lewat kehidupan Jenderal Hoegeng yang dia sampaikan dalam channel YouTube pribadinya.

 Najwa Shihab merujuk pada jokes Gus Dur yang menyebut hanya ada 3 polisi jujur di Indonesia, satu itu patung polisi, dua adalah polisi tidur, dan ketiga adalah polisi Hoegeng atau Jenderal Hoegeng. 

Berbekal hasil perbincangannya dengan istri almarhum Jenderal Hoegeng yang dia panggil Eyang Meri, betapa mantan Kapolri itu sangat menjaga amanah agar tidak terjerumus dalam konflik kepentingan.

 Saat menyeruakan pendapatnya, Najwa Shihab tak menutup mata akan ada serangan. Ketika menerima penghargaan sebagai Public Figure Inspiratif Terpopuler pada Television Awards 2022, Najwa Shihab memberikan penjelasan. 

Baca Juga :  Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan

Sebagai jurnalis, Najwa Shihab mengatakan dirinya hanya menggaungkan suara publik. Perempuan yang akrab disapa Mbak Nana itu mengatakan ada banyak kebenaran yang harus berani dibicarakan.

“Dalam upaya untuk membicarakan kebenaran selalu ada usaha untuk merobohkan nyali lewat intimidas, beragam intimidasi, macam-macam bentuk intimidasinya, tapi tujuannya selalu satu, membangun rasa ngeri, menakut-nakuti supaya kita berhenti,” kata Najwa Shihab. 

“Siapapun bisa mengalami itu. Populer karena karya dan juga karena tindakan sehari-hari yang menginspirasi. inspiratif itu sebenarnya, punya daya tular karenanya mari rapatkan barisan mari saling merapatkan nyali memperjuangkan nilai integritas, toleransi, pentingnya partisipasi. Supaya selalu ada orang-orang di luar sana yang juga menolak berhenti dan terus berani,” tegasnya***

Berita Terkait

Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan
Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah
Utang Budi yang Dibayar dengan Kerja
PWI NTB Kirim Doa untuk Almarhum Zulmansyah Sekedang
Meneguhkan Komitmen di Usia 125 Tahun: Inklusi Keuangan, Transformasi Digital, dan Peran Strategis di Kawasan Bali–Nusa Tenggara
Bangket, Monyet, dan Plastik: Lanskap Kreativitas di Kaki Gunung Pengsong
Pemimpin yang Menyupiri Tamu: Wajah Transformasi dari Museum Negeri NTB
Menembus Batas, MengEMASkan Indonesia: Arah Baru Pegadaian di Usia 125 Tahun

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 15:19

Delapan Tahun Mengenang Andi Mustari Pide: Merawat Kearifan, Meneguhkan Ilmu Pengetahuan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:58

Dari Mosi Tidak Percaya hingga Ruang Kerja: Panjang Jalan Perkawanan dengan Nuril Islamiah

Minggu, 12 Juli 2026 - 00:58

Utang Budi yang Dibayar dengan Kerja

Selasa, 21 April 2026 - 08:26

PWI NTB Kirim Doa untuk Almarhum Zulmansyah Sekedang

Selasa, 14 April 2026 - 17:08

Meneguhkan Komitmen di Usia 125 Tahun: Inklusi Keuangan, Transformasi Digital, dan Peran Strategis di Kawasan Bali–Nusa Tenggara

Berita Terbaru

Ia menjadi pengingat bahwa kebudayaan akan tetap hidup (foto: aks / ceraken.id)

BUDAYA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Minggu, 16 Agu 2026 - 13:26