Fiksi sebagai Cermin: Menaklukkan Diri di Pekan Kedua Ramadan

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(foto ilustrasi: cw/ceraken.id)

(foto ilustrasi: cw/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Memasuki pekan kedua Ramadan 1447 Hijriah, Kamis, 26 Februari hingga Rabu, 3 Maret 2026, Cukup Wibowo memilih jalur yang berbeda untuk menyampaikan pesan-pesan puasanya.

Jika pada pekan pertama ia menenun gagasan melalui kata-kata kunci yang reflektif, maka kali ini ia beralih ke fiksi, sebuah medium yang lebih lentur, lebih dekat dengan keseharian, sekaligus lebih tajam dalam menyentuh batin.

Tujuh kisah yang ia hadirkan bukan sekadar cerita rekaan. Ia menjelma menjadi cermin kehidupan yang memantulkan pergulatan manusia dalam ruang-ruang paling akrab: rumah, sekolah, keluarga, kampus, hingga kamar pribadi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sanalah, puasa tidak lagi berdiri sebagai konsep abstrak, melainkan hadir sebagai pengalaman konkret dalam amarah yang ditahan, godaan yang dilawan, dan empati yang diperjuangkan.

Fiksi memberi ruang bagi kompleksitas yang sering kali luput dalam narasi normatif. Di sebuah rumah, misalnya, konflik kecil bisa menjadi ujian besar ketika emosi memuncak menjelang waktu berbuka.

Di sekolah atau kampus, tekanan sosial dan ego pribadi berkelindan, menuntut kejujuran yang tidak mudah ditegakkan. Bahkan di ruang paling sunyi, kamar pribadi, manusia berhadapan dengan dirinya sendiri, tanpa penonton, tanpa penghakiman, hanya ada pilihan: tunduk pada godaan atau bertahan dalam kesadaran.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Di titik inilah kekuatan fiksi bekerja. Ia tidak menggurui, tetapi mengajak pembaca mengalami. Setiap tokoh dalam kisah-kisah itu membawa luka, dilema, dan pilihan.

Mereka tidak selalu sempurna, bahkan kerap goyah. Namun justru dalam kegoyahan itulah, makna puasa menemukan relevansinya. Bahwa menahan diri bukanlah perkara mudah, melainkan hasil dari pergulatan batin yang panjang dan sering kali melelahkan.

Ramadan, melalui kisah-kisah tersebut, tampak sebagai ruang latihan yang nyata. Kesabaran tidak hadir dalam situasi yang tenang, tetapi justru lahir dari kondisi yang memancing emosi.

Kejujuran tidak muncul ketika segalanya aman, melainkan ketika ada peluang untuk berbohong tanpa konsekuensi langsung. Kepedulian pun tidak tumbuh dalam kenyamanan, tetapi dalam kesadaran akan penderitaan orang lain yang sering kali tidak terlihat.

Cukup Wibowo, melalui pilihan fiksinya, seolah ingin menegaskan bahwa kemenangan dalam puasa bukanlah tentang keberhasilan menjalani hari tanpa makan dan minum, melainkan tentang kemampuan mengalahkan ego.

Ego yang ingin marah, ego yang ingin menang sendiri, ego yang selalu merasa benar. Dan untuk menaklukkan ego itu, manusia tidak membutuhkan situasi ideal; justru sebaliknya, ia ditempa dalam ketidaksempurnaan hidup sehari-hari.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Ada pesan yang mengalir halus namun kuat dari tujuh kisah tersebut: bahwa kejujuran pada diri sendiri adalah kunci. Tanpa kejujuran, semua praktik puasa bisa menjadi sekadar formalitas.

Namun ketika seseorang berani mengakui kelemahannya, mengakui godaannya, dan tetap memilih untuk bertahan, di situlah puasa menemukan maknanya yang paling dalam.

Dengan demikian, pekan kedua Ramadan dalam narasi ini menjadi semacam laboratorium batin. Fiksi tidak lagi hanya menjadi hiburan, tetapi alat refleksi.

Ia memperlihatkan bahwa perjuangan melawan hawa nafsu adalah perjalanan personal yang sunyi, tetapi sekaligus universal. Setiap orang mengalaminya, dengan bentuk dan intensitas yang berbeda.

Pada akhirnya, kisah-kisah itu mengingatkan bahwa Ramadan bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan tentang proses. Tentang jatuh dan bangkit, tentang ragu dan yakin, tentang kalah sesaat namun terus berusaha menang.

Dan dalam setiap cerita, terselip harapan sederhana: bahwa manusia selalu punya kesempatan untuk menjadi lebih baik, selama ia berani menghadapi dirinya sendiri. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi
Anak-Anak Mancing di Kolam Renang
Janji Kopi di Sudut Warkop
Tubuh Dalam Pandangan Sasak
Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial
Bangku Kuning di Depan Kantor Gubernur: Antara Ketertiban dan Ruang Publik
PERUPA ANZUL TELAH PERGI: BILA GARAM TAK ASIN LAGI
Ketika Janji Kampanye Direalisasikan, Mengapa Masih Ada yang Menentangnya?

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39 WITA

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:12 WITA

Anak-Anak Mancing di Kolam Renang

Rabu, 22 April 2026 - 09:05 WITA

Janji Kopi di Sudut Warkop

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:54 WITA

Tubuh Dalam Pandangan Sasak

Senin, 30 Maret 2026 - 07:17 WITA

Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA