CERAKEN.ID — Memasuki pekan ketiga Ramadan 1447 Hijriah, Kamis, 5 Maret hingga Rabu, 11 Maret 2026, arah penulisan Cukup Wibowo kembali menemukan sudut pandang yang lebih spesifik.
Jika sebelumnya ia mengurai dimensi personal melalui refleksi dan fiksi keseharian, maka kali ini ia menempatkan puasa dalam lanskap pengabdian publik, melalui kisah-kisah fiksi yang berlatar kehidupan para aparatur sipil negara (ASN).
Pilihan latar ini bukan tanpa makna. ASN, sebagai representasi negara dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, memikul tanggung jawab yang tidak hanya administratif, tetapi juga moral. Di balik meja layanan, di ruang-ruang kantor yang sering kali dipersepsikan kaku dan birokratis, sesungguhnya berlangsung dinamika batin yang tidak kalah kompleks dibanding ruang-ruang personal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di situlah puasa diuji dalam bentuk yang lebih subtil: bukan sekadar menahan lapar, tetapi menjaga integritas di tengah godaan kekuasaan kecil, rutinitas, dan tekanan pekerjaan.
Melalui fiksi, Cukup Wibowo membuka lapisan-lapisan realitas yang kerap tersembunyi. Ada pegawai yang dihadapkan pada dilema antara prosedur dan empati.
Ada pula yang bergulat dengan kejenuhan, namun tetap dituntut memberikan pelayanan terbaik. Dalam cerita lain, mungkin terselip konflik antara kepentingan pribadi dan tanggung jawab public, sebuah situasi yang menuntut keberanian untuk memilih yang benar, meski tidak selalu mudah.
Fiksi-fiksi ini bekerja sebagai cermin etika. Ia tidak sekadar menggambarkan apa yang terjadi, tetapi mengajak pembaca merenungkan apa yang seharusnya dilakukan.
Bahwa menjadi pelayan masyarakat bukanlah peran yang selesai dengan hadir di kantor dan menyelesaikan tugas administratif. Ia adalah panggilan untuk menghadirkan kejujuran, tanggung jawab, dan ketulusan dalam setiap tindakan, sekecil apa pun itu.
Dalam konteks Ramadan, pesan ini menemukan relevansi yang kuat. Puasa menjadi pengingat bahwa setiap amanah adalah ujian.
Ketika seorang ASN memilih untuk tetap jujur dalam laporan, tetap ramah dalam pelayanan, atau tetap adil dalam pengambilan keputusan, di situlah puasa menemukan manifestasinya yang nyata. Ia tidak lagi berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi etika kerja.
Menariknya, kisah-kisah ini juga menunjukkan bahwa tantangan tersebut tidak hadir dalam situasi ideal. Justru sebaliknya, ia muncul dalam kondisi yang penuh keterbatasan: beban kerja yang tinggi, ekspektasi masyarakat yang beragam, hingga sistem yang tidak selalu sempurna.
Namun di tengah segala keterbatasan itu, pilihan untuk tetap berintegritas menjadi semakin bermakna.
Cukup Wibowo, melalui narasi ini, seolah ingin menggeser cara pandang kita terhadap puasa. Bahwa ibadah ini tidak hanya bersifat personal dan spiritual, tetapi juga sosial dan profesional.
Ia mengajarkan bahwa kesalehan tidak cukup ditunjukkan di ruang ibadah, tetapi juga harus hadir di ruang pelayanan publik.
Lebih jauh, fiksi-fiksi tersebut menghadirkan ruang refleksi yang penting, tidak hanya bagi para ASN, tetapi juga bagi masyarakat luas. Sebab pada akhirnya, setiap individu, dalam kapasitasnya masing-masing, adalah “pelayan” bagi orang lain; baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun lingkungan sosial.
Puasa, dengan demikian, menjadi momentum untuk menata ulang komitmen: apakah kita sudah menjalankan peran tersebut dengan jujur, bertanggung jawab, dan tulus?
Pekan ketiga Ramadan ini menegaskan satu hal mendasar: bahwa pengabdian adalah jalan panjang yang menuntut konsistensi nilai. Dan dalam sunyi puasa, nilai-nilai itu diuji sekaligus diperkuat.
Di balik meja layanan, di antara berkas-berkas dan antrean, puasa menemukan maknanya yang lain, sebagai penjaga nurani, agar setiap keputusan dan tindakan tetap berpihak pada kebaikan bersama. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































