Ketika “Terima Kasih” Menjadi Barang Langka

Senin, 23 Maret 2026 - 00:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebagian orang mungkin menganggap ini sekadar perubahan zaman (Foto:ist/ceraken.id)

Sebagian orang mungkin menganggap ini sekadar perubahan zaman (Foto:ist/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Ada satu ungkapan sederhana yang dulu diajarkan sejak kecil: terima kasih. Dua kata yang pendek, mudah diucapkan, dan tidak membutuhkan biaya apa pun.

Namun entah sejak kapan, ungkapan itu terasa semakin jarang terdengar. Ia seperti barang yang perlahan menghilang dari rak kehidupan sehari-hari.

Padahal, bahkan ketika diucapkan tanpa ketulusan sekalipun, ucapan terima kasih tetap memiliki fungsi sosial. Ia adalah penanda pengakuan. Setidaknya seseorang mengakui bahwa ada orang lain yang telah melakukan sesuatu untuknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam kehidupan bersama, pengakuan kecil semacam itu sering kali menjadi pelumas yang menjaga hubungan tetap bergerak dengan baik.

Namun kini, dalam keseharian yang dipenuhi layar, notifikasi, dan komunikasi serba cepat, kata itu seperti kehilangan tempatnya. Kita menerima bantuan, mendapatkan layanan, atau memperoleh informasi, tetapi sering kali berlalu begitu saja tanpa jeda kecil untuk mengucapkan terima kasih. Seolah semua itu sudah sewajarnya terjadi.

Di ruang digital, pola ini bahkan semakin jelas. Pesan dibalas singkat, instruksi disampaikan cepat, dan percakapan sering kali berakhir tanpa penutup apa pun.

Komunikasi menjadi efisien, tetapi juga dingin. Kata-kata yang dulu berfungsi sebagai jembatan emosional kini dianggap tambahan yang tidak perlu.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Sebagian orang mungkin menganggap ini sekadar perubahan zaman. Dunia bergerak cepat, komunikasi dipadatkan, dan kesopanan lama dianggap tidak lagi relevan.

Tetapi ada juga yang melihatnya sebagai gejala lain: berkurangnya kesadaran bahwa hidup manusia selalu melibatkan orang lain.

Ucapan terima kasih sebenarnya bukan sekadar etika. Ia adalah pengingat bahwa tidak semua hal terjadi sendirinya.

Ada kerja, perhatian, atau waktu orang lain yang terlibat di dalamnya. Bahkan dalam hal kecil, seperti seseorang membuka pintu, membantu mencari informasi, atau sekadar memberi kesempatan.

Ketika ucapan itu menghilang, yang hilang bukan hanya kata-katanya. Yang perlahan memudar adalah kesadaran akan keterhubungan.

Ironisnya, semua ini terjadi justru ketika teknologi membuat komunikasi semakin mudah. Gadget di tangan kita mampu mengirim pesan ke seluruh dunia dalam hitungan detik.

Kecerdasan buatan membantu menjawab pertanyaan, menulis teks, bahkan memberi saran kehidupan. Dunia terasa semakin canggih.

Namun di tengah kemudahan itu, justru muncul pertanyaan sederhana: apakah kita masih ingat untuk mengucapkan terima kasih?

Ada kemungkinan lain yang lebih sunyi. Mungkin bukan karena teknologi membuat kita lupa. Mungkin karena kita mulai menganggap banyak hal sebagai hak otomatis.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Layanan dianggap kewajiban. Bantuan dianggap bagian dari pekerjaan orang lain. Informasi dianggap tersedia begitu saja.

Dalam cara pandang seperti itu, ucapan terima kasih memang menjadi tidak penting. Jika semua dianggap kewajiban, untuk apa berterima kasih?

Padahal sejarah kebudayaan manusia menunjukkan hal yang berbeda. Hampir semua tradisi mengajarkan pentingnya ungkapan Syukur kepada sesama, kepada alam, bahkan kepada kehidupan itu sendiri.

Ucapan terima kasih adalah bentuk paling sederhana dari kesadaran itu.

Ia tidak membutuhkan upacara. Tidak memerlukan teknologi. Bahkan tidak membutuhkan waktu lama.

Hanya dua kata yang diucapkan dengan atau tanpa perasaan sekalipun, tetapi tetap memberi ruang bagi hubungan antarmanusia untuk tetap hangat.

Maka mungkin pertanyaan sebenarnya bukan apakah ucapan terima kasih masih bernilai. Pertanyaannya justru lebih mendasar: apakah kita masih merasa membutuhkan satu sama lain?

Jika jawabannya ya, maka ucapan terima kasih tidak pernah kehilangan nilainya. Ia hanya sedang jarang digunakan.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin otomatis dan dipenuhi kecerdasan buatan, dua kata sederhana itu justru menjadi penanda paling manusiawi yang masih kita miliki.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi
Anak-Anak Mancing di Kolam Renang
Janji Kopi di Sudut Warkop
Tubuh Dalam Pandangan Sasak
Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial
Bangku Kuning di Depan Kantor Gubernur: Antara Ketertiban dan Ruang Publik
PERUPA ANZUL TELAH PERGI: BILA GARAM TAK ASIN LAGI
Ketika Janji Kampanye Direalisasikan, Mengapa Masih Ada yang Menentangnya?

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39 WITA

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:12 WITA

Anak-Anak Mancing di Kolam Renang

Rabu, 22 April 2026 - 09:05 WITA

Janji Kopi di Sudut Warkop

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:54 WITA

Tubuh Dalam Pandangan Sasak

Senin, 30 Maret 2026 - 07:17 WITA

Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA