Oleh: Widodo Dwi Putro – Guru Besar FHISIP Unram
CERAKEN.ID — Pernahkah teman-teman merasa bahwa internet hari ini tidak sebebas satu dekade yang lalu? Setiap klik yang kita buat, setiap video yang kita tonton, dan setiap barang yang kita masukkan ke keranjang belanja seolah diawasi, diarahkan, dan diuangkan oleh entitas yang tak terlihat. Jika kalian pernah merasakan kegelisahan ini, Yanis Varoufakis memiliki penjelasan yang mungkin akan membuat kita terperanjat.
Mantan Menteri Keuangan Yunani yang dikenal dengan gaya bicaranya yang blak-blakan ini melempar bom intelektual melalui bukunya yang provokatif, Technofeudalism: What Killed Capitalism (2023). Tesis utamanya sederhana namun sangat radikal: kapitalisme yang kita kenal selama ratusan tahun, kini telah “mati”. Namun, ia tidak digantikan oleh utopia masyarakat komunis sebagaimana diimajinasikan oleh Karl Marx, melainkan oleh sistem yang jauh lebih eksploitatif.
Matinya Pasar Bebas dan Lahirnya “Cloudalists”
Selama berabad-abad, pilar utama yang menopang kapitalisme adalah pasar bebas dan laba (profit). Pabrik memproduksi barang, mempekerjakan buruh, dan bersaing di pasar untuk meraih keuntungan. Namun, Varoufakis berargumen bahwa model ini telah kedaluwarsa. Alih-alih berevolusi ke arah yang lebih maju, ekonomi global justru mengalami kemunduran ke sistem yang menyerupai abad pertengahan. Ia menyebutnya sebagai Tekno-Feudalisme.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam dunia baru ini, kekayaan sejati tidak lagi dipegang oleh mereka yang memiliki pabrik atau alat berat, melainkan oleh segelintir raksasa teknologi yang menguasai ruang komputasi awan (cloud) dan algoritma. Varoufakis menjuluki para penguasa baru ini sebagai Cloudalists.
Coba pikirkan ketika kalian membuka aplikasi Amazon, Apple App Store, atau sekadar menggulir linimasa Instagram. Varoufakis menegaskan bahwa kalian tidak sedang berada di dalam sebuah “pasar”. Kalian baru saja melangkah masuk ke dalam Cloud Fiefdoms, yakni wilayah kekuasaan digital yang sepenuhnya merupakan properti pribadi layaknya tanah milik tuan tanah feodal.
Di dalam platform ini, algoritma bertindak sebagai hukum mutlak. Cloudalists seperti Jeff Bezos atau Mark Zuckerberg tidak perlu memproduksi barang sendiri untuk kaya raya. Mereka menyewakan lapak, menentukan siapa yang boleh berjualan, dan menarik “pajak” (berupa potongan biaya transaksi dan data) dari setiap aktivitas. Ini bukanlah kapitalisme produktif, melainkan bentuk ekstraksi kekayaan yang sangat rakus.
Hamba Sahaya Digital
Lalu, di manakah posisi kita sebagai pengguna awam dalam tatanan dunia baru ini? Bersiaplah untuk kenyataan yang tidak nyaman, hmm.. kita semua adalah Cloud Serfs atau hamba sahaya digital.
Di era feodal klasik, kaum hamba sahaya menggarap tanah milik tuan tanah tanpa upah, sekadar untuk bertahan hidup. Di era tekno-feodalisme, kita secara sukarela menyerahkan tenaga dan waktu kita secara cuma-cuma.
Setiap ulasan restoran yang kita ketik, setiap rute yang kita bagikan di peta, hingga setiap foto liburan yang kita unggah adalah “kerja” yang menghasilkan data mentah. Data inilah yang kemudian dilahap oleh kecerdasan buatan, diolah menjadi kapital awan (cloud capital), dan dijual kepada pengiklan dengan harga fantastis. Kita memproduksi kekayaan bagi para Cloudalists setiap hari, tanpa pernah menerima slip gaji.
Benarkah Kapitalisme Menemui Ajalnya?
Saya memang sarjana hukum, tapi menyukai membaca buku-buku ekonomi ‘kiri’. Beruntung, ketika saya masih muda, aktif dalam gerakan mahasiswa, sehingga terbiasa melahap buku apa saja, termasuk koran bekas (tidak terbatas buku pengantar hukum yang “kering”), juga berdiskusi secara interdisipliner.
Saya tidak bisa menyembunyikan kekaguman pada buku Varoufakis ini yng menawarkan metafora brilian untuk meruntuhkan ilusi bahwa internet adalah ruang yang demokratis. Namun, satu pertanyaan yang menggelisahkan, apakah klaim bahwa kapitalisme sudah benar-benar mati dapat dibenarkan? Di sinilah kita perlu memakai kacamata kritis.
Meski saya bukan ekonom, saya dapat ‘membaca’ bahwa tesis Varoufakis terlalu prematur menyusun batu nisan untuk kapitalisme. Apa yang ia gambarkan sebenarnya lebih tepat disebut sebagai kapitalisme lanjut, yakni Kapitalisme Monopoli Digital. Pasalnya, fondasi fisik dari dunia digital ini masih sangat bertumpu pada akumulasi kapital dan eksploitasi kerja upahan gaya lama.
Cloud capital tidak melayang-layang secara gaib di udara. Ia tertanam kuat di dalam server fisik yang dibangun oleh buruh pabrik, ditenagai oleh listrik, dan dijalankan melalui gawai pintar yang bahan bakunya (seperti litium dan kobalt) ditambang oleh pekerja kasar. Algoritma e-commerce mungkin sangat canggih, tetapi paket pesanan kalian tetap diantar oleh kurir (precariat) di jalanan yang sering kali tidak memiliki jaminan kesehatan atau keamanan kerja yang layak. Kapitalisme belum mati, ia hanya mengganti topengnya dan mempersenjatai dirinya dengan algoritma.
Selain itu, narasi Varoufakis seolah melukiskan raksasa Big Tech sebagai entitas mahakuasa yang berdiri di atas segalanya. Kenyataannya, para Cloudalists ini masih sangat bergantung pada intervensi negara. Tanpa perlindungan hukum atas hak kekayaan intelektual, infrastruktur telekomunikasi nasional, regulasi yang longgar, serta subsidi di masa krisis, kerajaan digital ini akan mudah goyah. Tekno-feudalisme tidak beroperasi dalam ruang hampa, ia berdansa mesra dengan negara kapitalis.
Tantangan lainnya ada pada solusi yang ditawarkan. Di akhir bukunya, ajakan Varoufakis untuk melakukan demokratisasi cloud, seperti menjadikannya utilitas publik, terasa lebih seperti utopia romantis ketimbang peta jalan politis yang tajam. Menghadapi raksasa yang telah menggurita di setiap aspek kehidupan manusia membutuhkan strategi yang jauh lebih pragmatis.
Sebuah Alarm Peringatan
Meskipun memiliki sejumlah celah kelemahan teoretis, Technofeudalism: What Killed Capitalism tetaplah sebuah karya esensial yang menggugah pikiran. Tesis Varoufakis bertindak sebagai alarm peringatan yang keras agar kita berhenti bersikap naif.
Buku ini memaksa kita untuk berhenti mengagungkan raksasa teknologi sekadar sebagai perusahaan inovatif yang memudahkan hidup kita. Sudah saatnya kita menyadari peran mereka sebagai tuan tanah absolut di era modern.
Di akhir hari, ketika kita mematikan layar ponsel, pertanyaan terbesar yang tersisa untuk direnungkan adalah sampai kapan kita bersedia mengabdi secara gratis di imperium digital yang kita bangun dengan data kita sendiri? Hmm rasanya…betapa tidak mudah bagi kita yang sudah mengalami ketergantungan dan kecanduan akut “keluar” dari imperium digital ini.
Tersangkut di selokan “halu”, 4 April 2026
Penulis : wdp
Editor : ceraken editor


























































