Merawat Ingatan Ladang: Ketika Museum Menyuarakan Tradisi Berladang Masyarakat Sasak

Minggu, 5 April 2026 - 14:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Buku ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai rujukan penting tentang kebudayaan agraris di Lombok (Foto: aks/ceraken.id)

Buku ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai rujukan penting tentang kebudayaan agraris di Lombok (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah hiruk-pikuk arus modernisasi dan perubahan lanskap agraria, sebuah buku terbit dari ruang yang tak biasa: museum.

Tradisi Berladang Masyarakat Sasak-Lombok Nusa Tenggara Barat, ditulis oleh Ahmad Nuralam, Aulia Rahman Adipura, dan Bunyamin, menjadi penanda penting bahwa museum bukan sekadar ruang sunyap penyimpan artefak, melainkan juga ruang hidup yang mampu “berbicara” tentang praktik keseharian masyarakat.

Diterbitkan oleh Museum Nusa Tenggara Barat pada November 2024, buku setebal 84 halaman ini tampil sebagai upaya serius mendokumentasikan sekaligus menafsirkan tradisi berladang masyarakat Sasak di Pulau Lombok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keunikan buku ini terletak pada keberaniannya menghubungkan dua dunia yang kerap dianggap terpisah: museum dan praktik agraris. Selama ini, museum identik dengan benda mati, etalase, dan narasi masa lalu yang statis.

Namun melalui buku ini, museum justru menunjukkan fungsinya sebagai lembaga pelestari yang aktif: melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan budaya melalui kajian yang kontekstual.

Tradisi berladang, yang selama ini hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, diangkat menjadi objek pengetahuan yang sistematis dan dapat diakses publik.

Langkah ini menjadi penting, mengingat salah satu koleksi terbesar museum, koleksi etnografi, justru seringkali miskin informasi. Alat-alat pertanian tradisional yang tersimpan rapi di gudang atau ruang pamer, kerap kehilangan konteks penggunaannya.

Buku ini berusaha menjembatani kekosongan tersebut. Ia tidak hanya mencatat benda, tetapi juga menjelaskan makna, fungsi, dan relasi sosial-budaya yang melingkupinya.

Penelitian yang menjadi dasar buku ini dilakukan di empat wilayah yang merepresentasikan keragaman tradisi berladang di Lombok: Desa Beririjarak (Lombok Timur), Dusun Ende (Lombok Tengah), Dusun Dasar Turul di Desa Bayan (Lombok Utara), dan Dusun Gumantar di Kecamatan Kayangan (Lombok Utara).

Pilihan lokasi ini bukan tanpa alasan. Keempatnya menyimpan jejak kuat praktik berladang yang masih bertahan, meskipun di tengah tekanan perubahan ekonomi dan ekologis.

Dalam batasan konseptualnya, buku ini menggarisbawahi empat kata kunci: tradisi, berladang, masyarakat, dan etnis Sasak. Definisi tentang Sasak sendiri dijelaskan secara historis dan etimologis.

Mengutip Goris dalam Monografi NTB, istilah Sasak berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti “rakit”, dengan makna etimologis sebagai “orang yang pergi dari daerah asal menggunakan rakit”.

Baca Juga :  Paradoks Hamlet dan Dilema Strategi: Ketika “Kejam” Menjadi Jalan Menuju Kebaikan

Penjelasan ini membuka ruang tafsir bahwa identitas Sasak tidak tunggal, melainkan hasil dari perjalanan sejarah panjang, termasuk pengaruh budaya Jawa pada masa klasik dan Islam, serta jejak prasejarah yang ditandai oleh temuan artefak seperti kapak genggam dan gerabah di wilayah Lombok.

Bagian analisis buku ini menjadi inti yang paling menarik. Penulis membaginya dalam tiga aspek utama: peralatan berladang, perekonomian masyarakat, serta sosial dan budaya.

Dari sisi peralatan, terlihat bahwa masyarakat Sasak masih mempertahankan teknologi tradisional yang sederhana namun fungsional. Peralatan dibuat dari bahan lokal seperti kayu dan bambu, serta mengandalkan tenaga manusia.

Menariknya, peralatan ini tidak hanya bersifat profan, tetapi juga sakral. Dalam tradisi berladang, terdapat tahapan-tahapan ritual seperti membangar—proses membuka lahan—yang melibatkan perlengkapan khusus seperti sirih, pinang, ayam, dan dupa.

Peralatan sakral ini menjadi medium komunikasi antara manusia, leluhur, dan Tuhan.

Di sisi lain, peralatan profan seperti cangkul, golok, dan wadah benih menunjukkan adaptasi masyarakat terhadap kebutuhan praktis. Namun yang paling menarik adalah keragaman istilah.

Satu fungsi alat bisa memiliki nama berbeda di tiap daerah: pak-pak, asek, penajuk, hingga tupak. Variasi ini bukan sekadar perbedaan bahasa, tetapi cerminan kekayaan budaya lokal yang hidup dan berkembang secara organik.

Dalam aspek ekonomi, buku ini menunjukkan bahwa berladang bukan sekadar pilihan, melainkan konsekuensi dari kondisi geografis. Masyarakat yang tinggal di lahan kering dan dataran tinggi menjadikan berladang sebagai strategi bertahan hidup.

Meski hasilnya tidak sebesar pertanian sawah, berladang tetap menjadi sumber penghidupan yang stabil dan diwariskan turun-temurun. Ada semacam logika keberlanjutan di dalamnya, bahwa yang kecil namun konsisten, tetap mampu menjaga kesinambungan hidup keluarga.

Sementara itu, dari perspektif sosial dan budaya, tradisi berladang memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong. Praktik seperti besiru, beseruan, atau betulungan menunjukkan bahwa kerja kolektif masih menjadi fondasi kehidupan masyarakat.

Berladang bukan aktivitas individual, melainkan peristiwa sosial yang melibatkan banyak orang, dari pembukaan lahan hingga panen.

Lebih jauh, tradisi ini juga diatur oleh pranata adat. Di Desa Bayan dan Gumantar, misalnya, terdapat struktur sosial yang menentukan siapa yang berhak memimpin ritual, kapan waktu pelaksanaan, dan bagaimana tata caranya.

Baca Juga :  Mengapa Kita Budak Algoritma?

Tokoh adat seperti melokaq atau kyai memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan antara dunia nyata dan spiritual.

Pengetahuan tradisional juga menjadi bagian tak terpisahkan. Masyarakat memiliki cara sendiri dalam membaca musim, menentukan waktu tanam, hingga mengendalikan hama.

Ritual seperti beruangin, menyiramkan ramuan air kelapa dan gula merah yang telah didoakan, menunjukkan perpaduan antara pengetahuan ekologis dan kepercayaan spiritual.

Pada akhirnya, berladang bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan sebuah sistem pengetahuan dan nilai yang menyatu dalam kehidupan masyarakat Sasak.

Dari membuka lahan hingga panen, setiap tahapan mengandung makna, aturan, dan simbol yang diwariskan lintas generasi. Bahkan ketika beberapa tahapan mulai jarang dilakukan, jejaknya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Rujukan Penting

Buku ini memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai rujukan penting tentang kebudayaan agraris di Lombok. Ke depan, penguatan narasi dapat dilakukan dengan menghadirkan lebih banyak kisah langsung dari para pelaku, petani ladang, sehingga pengalaman hidup mereka menjadi semakin terasa dekat bagi pembaca.

Selain itu, penampilan dokumentasi visual seperti foto aktivitas berladang, ilustrasi peralatan, maupun peta lokasi penelitian semakin memperkaya pengalaman membaca dan memudahkan pemahaman lintas kalangan, terutama generasi muda.

Buku ini juga berpeluang untuk dikembangkan ke dalam format yang lebih luas, seperti edisi populer, buku ajar, atau bahkan media digital interaktif. Dengan demikian, pengetahuan tentang tradisi berladang tidak hanya tersimpan sebagai arsip, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran yang hidup.

Lebih jauh lagi, temuan-temuan dalam buku ini dapat menjadi pijakan untuk program kolaboratif antara museum, pemerintah daerah, dan masyarakat; baik dalam bentuk festival budaya, edukasi berbasis komunitas, maupun penguatan ekonomi lokal berbasis tradisi.

Pada akhirnya, buku ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Ia membuka ruang bagi museum untuk terus hadir sebagai jembatan antara pengetahuan, tradisi, dan kehidupan masyarakat yang terus bergerak. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius
Mengapa Kita Budak Algoritma?
Museum yang Hidup di Tengah Kota dan Desa
Moment of Truth di Buku Biografi Sejarah Ajoeba Wartabone
Paradoks Hamlet dan Dilema Strategi: Ketika “Kejam” Menjadi Jalan Menuju Kebaikan
Berpikir dari Masa Depan: Ketika Bisnis Diminta Menjadi Lebih dari Sekadar Untung
Membaca Jejak Keterbukaan dr. Jack melalui Buku tentang RSUD NTB
Buku “Puasa sebagai Terapi Otak”:  Kolaborasi-Integrasi Agama dan Sains

Berita Terkait

Jumat, 17 April 2026 - 21:15 WITA

Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Minggu, 5 April 2026 - 14:47 WITA

Merawat Ingatan Ladang: Ketika Museum Menyuarakan Tradisi Berladang Masyarakat Sasak

Sabtu, 4 April 2026 - 17:20 WITA

Mengapa Kita Budak Algoritma?

Senin, 30 Maret 2026 - 06:15 WITA

Museum yang Hidup di Tengah Kota dan Desa

Senin, 23 Maret 2026 - 14:23 WITA

Moment of Truth di Buku Biografi Sejarah Ajoeba Wartabone

Berita Terbaru

Karya Lukis I Nyoman Sandiya (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Menaklukkan Ego Lewat Kesederhanaan Warna

Sabtu, 18 Apr 2026 - 20:28 WITA

Kartini Ismail (berdiri di tengah memegang mic), saat kunjungan, yang dihadiri Ibu Melinda Aksa, istri Walikota Makassar, dan berapa pimpinan SKPD (Foto: ist/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Posyandu ke Pemandi Jenazah: Kisah Kerelawanan Kartini Ismail

Sabtu, 18 Apr 2026 - 15:46 WITA

Mahasiswa KKN Poltekkes Kemenkes Mataram berupaya menanamkan kesadaran kolektif tentang pentingnya pola makan sehat (Foto: as/ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Dari Dapur Rumah ke Upaya Pencegahan Stunting

Sabtu, 18 Apr 2026 - 10:32 WITA

Pengalaman masa kecil ijadi pemantik idenya (Foto: ist/ceraken.id)

BEDAH BUKU

Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Jumat, 17 Apr 2026 - 21:15 WITA