Menimbang Risiko, Menjemput Peluang

Sabtu, 25 April 2026 - 20:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di balik setiap risiko, selalu ada peluang yang menunggu untuk dijemput (Foto: ist / ceraken.id)

Di balik setiap risiko, selalu ada peluang yang menunggu untuk dijemput (Foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID, Medan — Di tengah dunia bisnis yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian, keberanian mengambil keputusan sering kali menjadi pembeda antara keberhasilan dan kegagalan. Namun keberanian semata tidak cukup.

Dibutuhkan kemampuan membaca situasi, menghitung peluang, serta mengelola risiko agar setiap langkah tidak berubah menjadi jebakan yang merugikan. Itulah semangat yang dibawa PT Pegadaian Kantor Wilayah I Medan saat mendapat mandat mengisi “Kuliah Tamu” di Universitas Satya Terra Bhinneka (ST Bhinneka) Medan, Jumat, 24 April 2026.

Dalam forum akademik yang mempertemukan dunia kampus dan dunia industri itu, Vice President PT Pegadaian Kanwil I Medan, Wawan Triyadi, tampil sebagai narasumber utama dengan materi bertajuk Business Risk Assessment: Keputusan Bisnis di Bawah Ketidakpastian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebuah tema yang terasa sangat relevan, terutama bagi mahasiswa yang kelak akan memasuki dunia kerja maupun merintis usaha sendiri.

Dipandu oleh akademisi Universitas ST Bhinneka, Devi Purnama Sari, S.E., M.Ak, kuliah tamu tersebut berlangsung hangat, interaktif, dan sarat refleksi. Wawan tidak hanya berbicara tentang teori, tetapi juga menghadirkan pengalaman praktis dari dunia korporasi yang selama ini menjadi ruang hidupnya.

Prinsip sederhana yang ia sampaikan langsung menarik perhatian peserta: No Risk, No Gain. High Risk, High Gain. Sebuah kalimat yang sederhana, tetapi mengandung konsekuensi besar. Dalam dunia usaha, tidak ada keuntungan tanpa keberanian mengambil risiko. Namun, risiko yang besar juga menuntut kecermatan yang besar pula.

Risiko Bukan Musuh, tetapi Kenyataan

Banyak orang memandang risiko sebagai sesuatu yang harus dihindari. Padahal, menurut Wawan, risiko justru merupakan bagian alami dari setiap proses pencapaian tujuan.

Risiko adalah ketidakpastian yang berdampak pada pencapaian tujuan. Ia bisa datang dari faktor internal maupun eksternal, dan dapat membawa dampak positif maupun negatif terhadap kinerja, target, laba, bahkan keberlangsungan perusahaan.

Dalam bahasa yang sederhana, risiko adalah kemungkinan terjadinya sesuatu yang berbeda dari rencana. Perubahan pasar, gangguan operasional, kesalahan strategi, hingga persoalan hukum; semuanya adalah bagian dari lanskap bisnis modern.

Karena itulah, manajemen risiko menjadi kebutuhan mendasar, bukan sekadar pelengkap administrasi perusahaan. Mengacu pada ISO 31000, manajemen risiko didefinisikan sebagai serangkaian prosedur dan proses untuk mengidentifikasi, menilai, serta mengendalikan potensi risiko yang dapat memengaruhi pencapaian tujuan.

Dengan manajemen risiko, kemungkinan masalah dapat diantisipasi sejak awal sehingga dampaknya bisa diminimalkan. Tujuannya sederhana tetapi sangat penting: agar kegiatan bisnis tetap berjalan aman, efektif, dan sesuai rencana.

“Banyak perusahaan gagal bukan karena tidak punya peluang, tetapi karena tidak mampu membaca dan mengelola risikonya,” terang Wawan di hadapan peserta kuliah tamu.

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa bisnis bukan sekadar soal mengejar keuntungan, tetapi juga menjaga keberlanjutan.

Empat Langkah Membaca Ketidakpastian

Dalam paparannya, Wawan menjelaskan bahwa manajemen risiko memiliki beberapa komponen utama yang harus dipahami secara sistematis.

Baca Juga :  Program Riwayat: Sebuah Platform Budaya Inklusif Mengedepankan Partisipasi Aktif Ragam Disabilitas

Pertama adalah identifikasi dan analisis risiko. Pada tahap ini, perusahaan harus mampu mengenali potensi risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan. Risiko tidak selalu terlihat jelas; sering kali ia tersembunyi dalam rutinitas harian, dalam proses bisnis yang dianggap biasa.

Setelah diidentifikasi, risiko perlu dianalisis: seberapa besar kemungkinan ia terjadi, dan seberapa besar dampaknya bila benar-benar muncul. Sebab tidak semua risiko memiliki tingkat ancaman yang sama.

Kedua adalah evaluasi risiko. Di sinilah perusahaan menentukan prioritas. Risiko mana yang harus segera ditangani, mana yang bisa dimonitor lebih dulu, dan mana yang masih dapat ditoleransi.

Ketiga adalah penanganan dan pemantauan risiko. Perusahaan harus menentukan langkah konkret untuk mengurangi, menghindari, atau mengendalikan risiko tersebut. Tidak cukup berhenti pada keputusan; tindakan nyata menjadi penentu keberhasilan.

Pemantauan juga harus dilakukan secara berkala, karena risiko bersifat dinamis. Hari ini kecil, besok bisa menjadi besar jika diabaikan.

Keempat adalah komunikasi dan konsultasi. Risiko bukan urusan satu divisi semata. Ia harus dipahami bersama agar penanganannya selaras dan efektif. Komunikasi yang buruk sering kali justru menjadi sumber risiko baru.

Dalam konteks ini, perusahaan modern dituntut membangun budaya sadar risiko, bukan sekadar membuat laporan formal.

Delapan Risiko yang Mengintai Dunia Usaha

Wawan juga memperkenalkan taksonomi manajemen risiko berdasarkan CSE OJK 2020. Delapan jenis risiko utama menjadi perhatian dalam pengelolaan perusahaan.

Risiko kredit muncul ketika pihak lain, seperti debitur, tidak mampu memenuhi kewajibannya. Dalam lembaga keuangan seperti Pegadaian, risiko ini sangat vital karena menyangkut kepercayaan dan keberlanjutan arus keuangan.

Risiko pasar berkaitan dengan perubahan kondisi pasar, seperti suku bunga, nilai tukar, atau harga komoditas. Dalam ekonomi global yang saling terhubung, perubahan kecil di satu tempat bisa berdampak besar di tempat lain.

Risiko likuiditas terjadi ketika perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban jangka pendek akibat keterbatasan dana. Ini sering menjadi titik kritis bagi banyak usaha yang tampak sehat di atas kertas tetapi rapuh dalam arus kas.

Risiko operasional bersumber dari kegagalan proses internal, sistem, manusia, atau kejadian eksternal. Kesalahan kecil dalam prosedur bisa berubah menjadi kerugian besar.

Risiko hukum berkaitan dengan tuntutan hukum atau kelemahan aspek legal. Sementara risiko reputasi menyangkut menurunnya kepercayaan publik akibat persepsi negatif terhadap perusahaan.

Di era digital, reputasi bisa runtuh hanya dalam hitungan jam.

Ada pula risiko strategis, yakni kesalahan dalam pengambilan atau pelaksanaan strategi bisnis. Sebagus apa pun sumber daya perusahaan, strategi yang salah dapat menjerumuskannya.

Terakhir adalah risiko kepatuhan, yakni risiko akibat tidak mematuhi aturan dan ketentuan yang berlaku. Dalam dunia usaha modern, kepatuhan bukan pilihan, melainkan keharusan.

Mengelola Risiko dengan Kesadaran Kolektif

Pengelolaan risiko, menurut Wawan, tidak cukup hanya berhenti pada teori klasifikasi. Ia harus dibangun melalui pilar-pilar utama yang menjadi fondasi organisasi.

Baca Juga :  Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis

Monitoring dan reporting risiko menjadi langkah awal yang penting. Kondisi risiko, perkembangannya, serta tindak lanjut harus disampaikan kepada manajemen agar keputusan dapat diambil secara cepat dan tepat.

Tanpa pelaporan yang baik, risiko sering kali baru disadari ketika sudah berubah menjadi krisis.

Pilar berikutnya adalah risk communication dan awareness. Semua pihak harus memahami risiko, mengetahui perannya masing-masing, serta menyadari langkah penanganan yang diperlukan.

Kesadaran kolektif jauh lebih kuat daripada pengawasan individual.

Risk control atau mitigasi risiko menjadi upaya nyata memperbaiki proses bisnis untuk mengurangi potensi risiko operasional. Ini berarti perusahaan harus terus belajar, memperbaiki diri, dan tidak merasa cukup dengan sistem yang ada.

Sementara itu, risk response melalui Business Continuity Plan (BCP) menjadi rencana cadangan jika risiko benar-benar terjadi. Karena dalam praktiknya, tidak semua risiko bisa dicegah; sebagian harus dihadapi dengan kesiapan yang matang.

BCP memastikan bahwa ketika badai datang, perusahaan tidak langsung tumbang.

Filosofi DU-IT: Risiko dan Spiritualitas Bisnis

Menariknya, Wawan tidak menutup materinya hanya dengan pendekatan teknis. Ia justru mengajak peserta melihat bisnis dari perspektif yang lebih utuh melalui filosofi yang ia sebut sebagai DU-IT.

DU-IT adalah singkatan dari Doa, Usaha, Ikhtiar, Teknologi Era Digital, dan Tawakal.

Doa menjadi fondasi awal: planning dan niat. Sebelum melangkah, seseorang harus memiliki tujuan yang jelas dan niat yang lurus.

Usaha adalah action dan evaluasi. Tidak ada hasil tanpa tindakan nyata, dan tidak ada perbaikan tanpa refleksi.

Ikhtiar berarti memahami informasi, membaca potensi pasar, hingga memiliki legalitas seperti NIB. Kesuksesan bukan soal keberuntungan semata, tetapi hasil dari kesiapan yang serius.

Teknologi era digital menjadi alat yang mempercepat proses, memperluas pasar, dan meningkatkan efisiensi. Sementara margin, menurut Wawan, jangan semata dilihat sebagai angka keuntungan, tetapi juga ruang untuk sedekah.

Lalu puncaknya adalah tawakal, berserah diri setelah semua upaya dilakukan.

Pendekatan ini membuat kuliah tamu terasa berbeda. Risiko tidak lagi dibicarakan sebagai hitungan statistik semata, tetapi juga sebagai perjalanan nilai dan integritas.

“Manajemen risiko bukan untuk menghindari risiko, tetapi untuk memastikan setiap risiko dapat dikelola dengan bijak demi mencapai tujuan secara optimal,” pungkas Wawan Triyadi, penerima Qualified Risk Management Professional (QRMP) 2023.

Kalimat itu menjadi penutup yang kuat sekaligus reflektif. Bahwa dalam bisnis, sebagaimana dalam kehidupan, yang paling penting bukanlah menghindari ketidakpastian, melainkan memiliki kesiapan untuk menavigasinya.

Kuliah tamu itu pun meninggalkan pesan penting bagi para mahasiswa: masa depan bukanlah ruang yang bebas risiko, melainkan ruang yang menuntut keberanian, pengetahuan, dan kebijaksanaan. Sebab di balik setiap risiko, selalu ada peluang yang menunggu untuk dijemput. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis
Program Riwayat: Sebuah Platform Budaya Inklusif Mengedepankan Partisipasi Aktif Ragam Disabilitas
Menuliskan “Delta Lakkang” sebagai Ruang Sejarah, Budaya, dan Pengetahuan
Museum sebagai “Ruang Hidup”: Ikhtiar Ahmad Nuralam Menghidupkan Memori Kolektif NTB
Merajut Masa Depan dari Kuala Lumpur: Sains, Kolaborasi, dan Harapan Global
Menata Kurikulum Komunikasi di Tengah Arus Industri Digital
Merawat Harapan di Tengah Riuh Informasi: Saatnya Mengedepankan Good News
Dari Alumni: Hibah Buku untuk Almamater Universitas Hasanuddin

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 20:08 WITA

Menimbang Risiko, Menjemput Peluang

Jumat, 10 April 2026 - 21:29 WITA

Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis

Rabu, 8 April 2026 - 15:17 WITA

Program Riwayat: Sebuah Platform Budaya Inklusif Mengedepankan Partisipasi Aktif Ragam Disabilitas

Jumat, 3 April 2026 - 10:56 WITA

Menuliskan “Delta Lakkang” sebagai Ruang Sejarah, Budaya, dan Pengetahuan

Kamis, 26 Maret 2026 - 21:50 WITA

Museum sebagai “Ruang Hidup”: Ikhtiar Ahmad Nuralam Menghidupkan Memori Kolektif NTB

Berita Terbaru

Di balik setiap risiko, selalu ada peluang yang menunggu untuk dijemput (Foto: ist / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Menimbang Risiko, Menjemput Peluang

Sabtu, 25 Apr 2026 - 20:08 WITA

Friday Relax menjelma menjadi simbol kolaborasi, ruang interaksi, dan panggung pertumbuhan bersama (Foto: pemkot mataram/ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Friday Relax dan Kota yang Ingin Bernapas

Sabtu, 25 Apr 2026 - 13:00 WITA

Buku

BUDAYA

Menjaga Suara Air, Menjaga Ingatan

Jumat, 24 Apr 2026 - 17:14 WITA