Catatan Cukup Wibowo*)
CERAKEN.ID — Di tengah riuhnya kehidupan ruang publik hari ini, kita seperti menyaksikan sebuah ironi yang berjalan tanpa rasa malu. Kebodohan bukan lagi tergambar sebagai kekurangan pengetahuan, melainkan menjelma menjadi sistem yang terus menguat karena sengaja dipelihara.
Ia tidak hanya hidup, tetapi tumbuh dan meluas karena selalu diberi ruang dalam setiap panggung kepentingan. Bukan hanya di lingkar kekuasaan, melainkan juga di tengah masyarakat yang seharusnya menjadi penyeimbang tindakan kekuasaan.
Saat ini kita hidup di masa ketika yang salah dapat dipertahankan sebagai sesuatu yang benar, sementara yang benar justru dicurigai sebagai sesuatu yang salah. Logika dipelintir, fakta dipermainkan, dan akal sehat seperti kehilangan pijakan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tujuan akhirnya bukan lagi menemukan kebenaran, melainkan membenarkan segala cara demi memenangkan kepentingan. Dalam situasi seperti ini, kebodohan tidak lagi sekadar ketidaktahuan, melainkan pilihan sadar sebagai bentuk pembangkangan terhadap nurani.
Ketika Kekuasaan Kehilangan Moralitas
Hannah Arendt pernah mengingatkan tentang “banalitas kejahatan”, bahwa kehancuran moral sering kali tidak lahir dari niat jahat yang luar biasa, tetapi dari ketiadaan berpikir. Ketika manusia berhenti menggunakan akal sehatnya, ia menjadi alat yang patuh pada kekuasaan tanpa lagi mempertanyakan benar atau salah.
Dalam konteks hari ini, kita melihat bagaimana banyak orang, baik pemimpin maupun yang dipimpin, terjebak dalam kondisi tersebut. Mereka mengikuti arus, mengulang narasi, tanpa refleksi yang jernih.
Belakangan ini, kekuasaan yang seharusnya menjadi amanah justru digunakan oleh sebagian elite untuk mempertahankan diri. Mereka tidak lagi melayani, tetapi minta dilayani. Mereka tidak lagi mengayomi, melainkan mendominasi. Dalam wajah seperti ini, kekuasaan kehilangan moralitasnya.
Michel Foucault pernah menjelaskan bahwa kekuasaan selalu berkelindan dengan pengetahuan untuk membentuk apa yang dianggap benar. Ketika kekuasaan dikuasai kepentingan sempit, maka kebenaran pun dibengkokkan sesuai kebutuhan.
Namun kesalahan tidak berhenti pada mereka yang berkuasa. Masyarakat, intelektual, bahkan tokoh publik turut andil membiarkan keadaan ini tumbuh subur.
Ada yang memilih diam, ada yang tenggelam dalam pragmatisme, dan ada pula yang secara sadar menggadaikan akal sehat demi keuntungan jangka pendek. Ketika kaum terdidik kehilangan empati dan masyarakat kehilangan keberanian berpikir mandiri, maka jangan heran bila kebodohan akhirnya berubah menjadi budaya.
Hegemoni dan Mentalitas Kawanan
Antonio Gramsci menyebut kondisi semacam ini sebagai hegemoni, yakni dominasi yang tidak lagi dipaksakan, tetapi diterima secara sukarela oleh mereka yang didominasi. Inilah yang paling berbahaya: ketika masyarakat tidak lagi merasa tertindas karena telah terbiasa dengan ketidakwarasan yang terus diproduksi oleh kekuasaan.
Sementara itu, Immanuel Kant dalam gagasannya tentang pencerahan menegaskan bahwa manusia harus berani menggunakan akalnya sendiri — sapere aude, beranilah berpikir. Namun keberanian itu terasa semakin langka. Banyak orang lebih memilih kenyamanan dalam kepatuhan daripada risiko dalam memperjuangkan kebenaran.
Kita juga dapat belajar dari kritik Friedrich Nietzsche mengenai mentalitas kawanan, yakni ketika individu kehilangan jati dirinya karena tunduk pada arus mayoritas. Dalam konteks sekarang, mentalitas itu tampak nyata. Orang lebih takut berbeda daripada takut salah.
Fenomena ini menjelaskan mengapa kebohongan yang diulang terus-menerus dapat diterima sebagai kewajaran. Bukan karena masyarakat tidak mampu memahami kenyataan, melainkan karena terlalu lama hidup dalam situasi yang membuat keberanian berpikir menjadi sesuatu yang mahal.
Mengembalikan Martabat Akal Sehat
Lalu ke mana kita harus melangkah? Apakah keadaan ini telah membawa kita ke jalan buntu? Tentu tidak. Selalu ada ruang untuk mengubah keadaan selama kesadaran masih hidup.
Pertama, kita perlu mengembalikan martabat akal sehat sebagai fondasi kehidupan bersama. Ini bukan semata soal pendidikan formal, melainkan keberanian moral untuk mempertanyakan, mengkritik, dan tidak mudah percaya pada narasi yang hanya menguntungkan pihak tertentu.
Kedua, para intelektual harus terus didorong kembali pada peran etiknya sebagai suara jernih di tengah kebisingan. Ilmu pengetahuan tidak boleh tunduk pada kekuasaan, melainkan harus menjadi alat untuk mengoreksi dan menerangi.
Ketiga, masyarakat perlu keluar dari jebakan pragmatisme sempit. Harapan tidak dapat dibangun di atas kebohongan yang terus diulang. Harapan sejati lahir dari kesadaran yang jujur, meskipun terasa pahit.
Dan terakhir, sebagaimana dilakukan kelompok-kelompok kritis hari ini, kekuasaan harus terus diingatkan agar kembali pada hakikatnya sebagai amanah. Kekuasaan bukan alat untuk bertahan, melainkan sarana untuk melayani. Tanpa itu, kekuasaan hanya akan melahirkan siklus kebodohan yang terus berulang.
Tulisan ini bukan semata kritik, tetapi ajakan untuk bercermin. Sebab krisis terbesar yang kita hadapi hari ini sesungguhnya bukan hanya krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis akal sehat.
Selama kebodohan terus dipelihara, baik oleh mereka yang berkuasa maupun oleh diri kita sendiri, masa depan hanya akan berjalan di tempat dan terjebak dalam lingkaran yang sama.
Pada akhirnya, perubahan tidak selalu lahir dari mereka yang berada di atas. Sering kali ia muncul dari keberanian kecil untuk tetap berpikir jernih di tengah keadaan yang keruh. Dari sanalah harapan perlahan menemukan jalannya.
*) Penulis adalah seorang Widyaiswara Ahli Utama di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
Editor : ceraken editor


























































