CERAKEN.ID — Di tengah derasnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perdebatan tentang masa depan kreativitas manusia semakin ramai diperbincangkan. Dunia pendidikan, seni, hingga industri kreatif kini berada di persimpangan baru: antara kemudahan teknologi dan kegelisahan tentang hilangnya keaslian manusia.
Catatan Guru Besar FHISIP Unram, Widodo Dwi Putro, berjudul “Ketika AI lebih Pintar, Lantas Apa Yang Tersisa dari Pendidikan?” menjadi salah satu pemantik diskusi itu. Tulisan di ceraken.id (11-05-2026) tersebut menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan ruh kemanusiaannya hanya karena teknologi berkembang begitu cepat.
Bagi Widodo, AI memang mampu melampaui manusia dalam kecepatan membaca data dan kecerdasan teknis. Namun ada sesuatu yang tak akan pernah mampu digantikan mesin: hati nurani, empati, kebebasan moral, dan kemampuan manusia merasakan makna kehidupan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pandangan itu rupanya mendapat tanggapan menarik dari pelukis muda Reva Adhitama. Dengan karakter khas “ikan Sun Noosea” yang ia bangun dalam karya-karyanya, Reva melihat kemunculan AI justru menghadirkan paradoks yang tidak sepenuhnya buruk bagi dunia kreatif.
Menurutnya, publik kini mulai mampu membedakan mana karya yang lahir dari proses batin manusia dan mana yang sekadar dihasilkan teknologi instan. Dalam situasi itu, kejujuran artistik justru memperoleh nilai baru.
“Akhirnya, kita tahu kualitas siapapun yang menggunakan AI dan yang pure kejujuran, skillfull seperti apa,” ujarnya.
Pernyataan itu sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan sekaligus harapan. Sebab di era ketika gambar, tulisan, musik, bahkan gagasan bisa diproduksi dalam hitungan detik oleh mesin, manusia perlahan mulai kembali mencari sesuatu yang otentik.
Ketika Teknologi Membanjiri Imajinasi
AI hari ini memang mengubah hampir seluruh lanskap kreatif. Banyak pekerjaan yang dulu membutuhkan waktu berhari-hari kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Ilustrasi digital, desain visual, bahkan esai dan puisi dapat diproduksi secara otomatis dengan kualitas yang terus meningkat.
Fenomena ini membuat sebagian orang khawatir bahwa kemampuan manusia perlahan akan tersisih. Dunia pendidikan pun terkena dampaknya. Siswa dapat meminta AI membuat ringkasan, menjawab soal, hingga menyusun karya tulis tanpa benar-benar memahami proses berpikir di baliknya.
Namun di sisi lain, kejenuhan terhadap konten AI juga mulai muncul. Publik perlahan menyadari bahwa karya yang terlalu sempurna justru kadang terasa dingin, datar, dan kehilangan emosi.
Dalam seni rupa misalnya, karya yang lahir dari pengalaman hidup manusia memiliki jejak rasa yang sulit ditiru algoritma. Ada kegagalan, keraguan, luka, dan intuisi yang ikut menempel dalam setiap goresan.
Reva Adhitama melihat situasi itu sebagai peluang baru bagi seniman yang tetap menjaga orisinalitas.
Ia berasumsi bahwa semakin masif penggunaan AI, maka karya original justru akan semakin bernilai tinggi. Sebaliknya, karya yang terlalu bergantung pada AI berpotensi mengalami penurunan nilai emosional maupun artistik.
Ketika ditanya apakah fenomena itu juga berlaku di dunia seni rupa dan lukis, Reva menjawab singkat namun penuh makna.
“Bisa jadi termasuk. Lebih pastinya yang berkaitan dengan visual,” katanya.
Jawaban itu menunjukkan bahwa pertarungan utama di era AI bukan lagi sekadar soal kemampuan teknis, melainkan tentang keaslian pengalaman manusia. Teknologi boleh menghasilkan bentuk, tetapi belum tentu mampu menghadirkan jiwa.
Pendidikan dan Seni Sedang Mencari Arah Baru
Apa yang disampaikan Widodo Dwi Putro sesungguhnya memiliki irisan kuat dengan kegelisahan para pelaku seni. Pendidikan selama ini terlalu sering terjebak pada logika produksi: mencetak manusia cepat, efisien, dan seragam seperti mesin.
Padahal ketika mesin benar-benar mampu bekerja lebih cepat daripada manusia, orientasi pendidikan semestinya berubah. Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan kemampuan menghafal atau sekadar keterampilan teknis.
Justru yang semakin penting adalah kemampuan manusia untuk berpikir kritis, mempertanyakan makna, serta membangun kesadaran moral.
Di titik inilah seni memiliki posisi yang sangat penting. Seni bukan hanya perkara estetika, melainkan latihan memahami kehidupan. Melukis, menulis, bermusik, dan berkarya adalah cara manusia membaca dirinya sendiri.
AI mungkin bisa meniru gaya lukisan terkenal. AI juga mungkin dapat menghasilkan gambar yang tampak indah secara visual. Namun mesin tidak pernah benar-benar mengalami kesedihan, cinta, kehilangan, atau pergulatan batin yang menjadi sumber utama kreativitas manusia.
Karena itu, dunia pendidikan dan seni sesungguhnya sedang diarahkan kembali pada akar yang sama: memanusiakan manusia.
Widodo Dwi Putro dalam catatannya menegaskan bahwa pendidikan harus berhenti mencetak “manusia-mesin” dan mulai menumbuhkan manusia yang reflektif, kreatif, serta berani menjaga nuraninya di tengah dominasi teknologi.
Pesan itu terasa semakin relevan ketika masyarakat mulai dibanjiri karya-karya instan yang seragam dan kehilangan kedalaman.
Keaslian Akan Menjadi Kemewahan Baru
Di masa depan, mungkin bukan lagi teknologi yang paling dicari manusia. Sebaliknya, yang akan menjadi barang langka justru keaslian.
Orang akan mulai menghargai karya yang lahir dari proses panjang, dari latihan bertahun-tahun, dari pengalaman hidup yang nyata. Kejujuran kreatif bisa berubah menjadi kemewahan baru di tengah banjir produksi digital.
Fenomena ini sebenarnya sudah mulai terlihat di berbagai ruang kreatif. Banyak orang kini tertarik kembali pada karya manual, sketsa tangan, musik akustik, hingga tulisan yang terasa personal dan tidak terlalu “sempurna”.
Ada kerinduan terhadap sesuatu yang manusiawi.
Dalam konteks itu, AI bukan semata ancaman. Ia justru menjadi cermin yang memaksa manusia bertanya ulang tentang makna kreativitas, pendidikan, dan keberadaan dirinya sendiri.
Sebab ketika teknologi mampu melakukan hampir semua hal teknis, manusia akhirnya sadar bahwa nilai tertinggi bukan lagi pada kecepatan produksi, melainkan pada kedalaman rasa dan kejujuran proses.
Pandangan Reva Adhitama dan catatan Widodo Dwi Putro memperlihatkan satu benang merah yang sama: bahwa masa depan tidak akan dimenangkan oleh mesin semata, tetapi oleh manusia yang tetap mampu menjaga nurani dan keaslian dirinya.
Di situlah pendidikan, seni, dan kebudayaan menemukan kembali alasan terpenting untuk tetap hidup. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































