Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:26 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Swara Loka Karsa. Setiap kebudayaan besar selalu dimulai dari keberanian merawat suaranya sendiri (Foto: aks / ceraken.id)

Swara Loka Karsa. Setiap kebudayaan besar selalu dimulai dari keberanian merawat suaranya sendiri (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di ruang-ruang latihan Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, denting musik, hentakan kaki, dan gerak tubuh para penari menyatu menjadi bahasa yang melampaui kata-kata. Di sanalah semangat para seniman muda NTB sedang ditempa.

Mereka datang dari berbagai kabupaten dan kota, membawa tradisi, pengalaman, dan imajinasi masing-masing untuk dipertemukan dalam satu ruang kreatif bernama Swara Loka Karsa.

Workshop Seni Pertunjukan yang diselenggarakan Taman Budaya Provinsi NTB itu memasuki hari kedua pada Kamis, 14 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung sejak 13 hingga 15 Mei tersebut bukan sekadar agenda pelatihan teknis seni pertunjukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia hadir sebagai ruang kebudayaan yang mencoba merangkai masa depan seni NTB dengan cara yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berorientasi global.

Di tengah perkembangan dunia digital yang begitu cepat, seni pertunjukan tradisional sering kali berada di persimpangan: bertahan sebagai warisan atau bertransformasi menjadi energi baru yang relevan dengan zaman.

Swara Loka Karsa tampaknya memilih jalan kedua. Ia tidak hanya menjaga akar tradisi, tetapi juga mendorong seni NTB untuk tumbuh melintasi batas-batas geografis dan generasi.

Kepala Seksi Penyelenggaraan Seni Budaya Taman Budaya Provinsi NTB, I Nyoman Gde Adimusti TBL, S.Sri, menjelaskan bahwa workshop tersebut menjadi rangkaian menuju pertunjukan besar yang akan digelar pada 16 Mei 2026.

“Workshop Seni Pertunjukkan terhitung mulai 13-15 Mei 2026. Sementara puncaknya adalah pentas tari dan musik pada 16 Mei 2026,” ujarnya.

Peserta yang terlibat berasal dari berbagai penjuru NTB. Sebanyak 11 orang mengikuti kategori koreografer, sembilan orang berasal dari penata musik, sementara 40 peserta lainnya merupakan para peraga dari kalangan pelaku seni tari, musik, sanggar, komunitas, hingga guru ekstrakurikuler seni.

Jumlah itu mungkin terlihat sederhana bagi sebuah kegiatan berskala provinsi. Namun sesungguhnya, yang sedang dibangun bukan sekadar kuantitas peserta, melainkan kualitas ekosistem seni yang berkelanjutan.

Di tangan para peserta itulah, masa depan seni pertunjukan NTB perlahan dirumuskan.

Ia dikenal memiliki keahlian dalam koreografi tari kontemporer, penciptaan seni berbasis riset, tari partisipatoris, hingga kurasi festival tari (Foto: aks / ceraken.id)
Ruang Belajar yang Menyatukan Tradisi dan Inovasi

Di banyak daerah, seni pertunjukan sering hidup secara terpisah-pisah dalam komunitas kecil yang berjalan sendiri-sendiri. Sanggar tari bergerak dengan dunianya sendiri, musisi tradisional bekerja dalam lingkar yang terbatas, sementara ruang kolaborasi antardisiplin masih jarang ditemukan. Swara Loka Karsa mencoba memecah sekat-sekat itu.

Workshop ini dirancang bukan hanya sebagai kelas belajar, tetapi juga ruang dialog kreatif antara penari, musisi, koreografer, dan pekerja seni lainnya. Di ruang tersebut, ide dipertukarkan, tubuh dilatih membaca irama, dan musik diajak memahami gerak.

Nama Swara Loka Karsa sendiri mengandung filosofi yang kuat. “Swara” berarti suara atau gerak, “Loka” berarti dunia atau tempat, sedangkan “Karsa” bermakna kehendak atau cipta. Nama itu seperti menjadi pernyataan simbolik bahwa suara dan karya seni lokal memiliki ruang untuk menjangkau dunia.

Baca Juga :  Merajut Kolaborasi, Meneguhkan Jati Diri: Arah Baru Pemajuan Kebudayaan Nasional

Dalam konteks itu, seni tidak lagi dipandang sebagai aktivitas pinggiran atau sekadar hiburan seremonial. Seni diposisikan sebagai identitas, medium diplomasi budaya, sekaligus instrumen pembangunan manusia.

Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab institusi kebudayaan dalam mendorong kemajuan seni daerah.

“Diharapkan dari Workshop Seni Pertunjukan ini bisa meningkatkan kualitas SDM baik dari karya tari dan musik, serta melahirkan koreografer dan komposer muda yang berkualitas dan bisa bersaing di level nasional bahkan internasional,” harapnya.

Bagi Miq Surya, sapaan akrabnya, Taman Budaya tidak cukup hanya menjadi penyelenggara acara. Institusi kebudayaan harus hadir sebagai fasilitator sekaligus motor penggerak lahirnya inovasi seni yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Karena itu, workshop ini juga diselaraskan dengan visi pembangunan daerah NTB “Makmur Mendunia” yang digagas Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal. Dalam visi tersebut, kebudayaan ditempatkan sebagai salah satu sektor strategis untuk memperkuat identitas daerah di tengah arus globalisasi.

Di sinilah seni pertunjukan menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar pertunjukan estetis, melainkan cermin dari cara sebuah masyarakat memandang dirinya sendiri.

Menjaga Tradisi, Menembus Dunia

Salah satu tantangan terbesar dunia seni tradisi hari ini adalah regenerasi. Banyak bentuk seni lokal kehilangan ruang hidup karena minimnya dokumentasi, kurangnya panggung, serta berkurangnya minat generasi muda.

Keahliannya mencakup musik tradisional Bali, aransemen musik modern, ilustrasi musik, hingga tata suara pertunjukan (Foto: aks / ceraken.id)

Akibatnya, sejumlah tradisi perlahan hanya tinggal menjadi catatan sejarah.

Swara Loka Karsa mencoba menjawab kegelisahan itu melalui pendekatan workshop intensif berbasis praktik. Seni tradisi tidak hanya dipelajari sebagai hafalan bentuk, tetapi dipahami sebagai sumber inspirasi penciptaan baru.

Konsep pelestarian yang diusung pun tidak bersifat kaku. Tradisi tidak diperlakukan sebagai benda museum yang hanya dijaga bentuk luarnya.

Sebaliknya, tradisi diberi ruang untuk berdialog dengan perkembangan zaman.

Melalui workshop ini, peserta diajak memahami bagaimana karya tradisional dapat diolah menjadi pertunjukan kontemporer tanpa kehilangan akar budayanya. Di titik inilah proses kreatif menjadi sangat penting: menjaga identitas sambil membuka kemungkinan baru.

Upaya tersebut diperkuat dengan kehadiran para pemateri yang memiliki pengalaman nasional maupun internasional.

Salah satunya adalah Dr. Alfiyanto, S.Sn., M.Sn., seniman tari kontemporer sekaligus koreografer dari ISBI Bandung. Ia dikenal memiliki keahlian dalam koreografi tari kontemporer, penciptaan seni berbasis riset, tari partisipatoris, hingga kurasi festival tari.

Kehadiran Alfiyanto memberikan perspektif bahwa seni pertunjukan modern tidak lahir dari keterputusan dengan tradisi, melainkan dari kemampuan membaca ulang warisan budaya dengan pendekatan kreatif yang lebih relevan.

Sementara itu, sektor musik dipandu oleh I Wayan Ary Wijaya, S.Sn., seorang komposer dan produser musik sekaligus pendiri Palawara Music Company. Keahliannya mencakup musik tradisional Bali, aransemen musik modern, ilustrasi musik, hingga tata suara pertunjukan.

Baca Juga :  MANDAT BAYAN: Tonggak Baru Kedaulatan Masyarakat Adat di Lombok Utara

Perpaduan dua pemateri dengan latar berbeda tersebut menciptakan ruang pembelajaran yang kaya. Tari dan musik tidak lagi berdiri sendiri, melainkan saling menghidupkan.

Di ruang latihan, para peserta belajar bahwa pertunjukan yang kuat bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal rasa, konteks, dan keberanian bereksperimen.

Seni tidak boleh hanya hidup di ruang elite atau komunitas tertentu, tetapi harus kembali menjadi bagian dari kehidupan publik (Foto: aks / ceraken.id)
Membangun Ekosistem Seni yang Berkelanjutan

Yang menarik dari Swara Loka Karsa adalah cara kegiatan ini dirancang tidak berhenti pada workshop semata. Taman Budaya NTB mencoba membangun kerangka yang lebih panjang melalui pendampingan, mentoring, dokumentasi, hingga jejaring distribusi karya.

Langkah itu penting karena banyak kegiatan seni sering berhenti pada euforia acara. Setelah panggung selesai dibongkar, para seniman kembali bekerja sendiri tanpa dukungan lanjutan. Akibatnya, proses kreatif yang telah dibangun perlahan menghilang.

Swara Loka Karsa berusaha menghindari pola tersebut dengan membangun konektivitas budaya antara seniman lokal, kurator nasional, dan platform yang lebih luas. Tujuannya bukan hanya melahirkan pertunjukan bagus, tetapi juga membuka akses agar karya-karya seni NTB dapat dikenal lebih luas.

Dalam konteks inilah, dokumentasi dan publikasi menjadi penting. Dunia hari ini bergerak melalui arsip digital dan distribusi media. Seni yang tidak terdokumentasi dengan baik akan sulit menjangkau audiens yang lebih besar.

Selain itu, workshop ini juga mengandung dimensi edukasi publik. Pentas terbuka yang akan digelar pada 16 Mei nanti dirancang sebagai ruang apresiasi masyarakat terhadap seni pertunjukan lokal.

Seni tidak boleh hanya hidup di ruang elite atau komunitas tertentu, tetapi harus kembali menjadi bagian dari kehidupan publik.

Di tengah derasnya budaya populer global, langkah seperti ini menjadi penting untuk menjaga keseimbangan identitas budaya lokal. Generasi muda perlu diyakinkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang kuno atau tertinggal, melainkan sumber kreativitas yang dapat terus diperbarui.

Swara Loka Karsa pada akhirnya bukan sekadar workshop seni pertunjukan. Ia adalah upaya membaca ulang posisi kebudayaan NTB di masa depan. Sebuah ikhtiar agar suara-suara lokal tidak tenggelam dalam kebisingan dunia modern.

Dari ruang latihan sederhana di Taman Budaya NTB itu, para seniman muda sedang belajar bahwa gerak tubuh dapat menjadi bahasa peradaban, dan musik dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kampung halaman dengan dunia yang lebih luas.

Mungkin dari ruang itu pula, akan lahir koreografer, komposer, dan karya-karya baru yang suatu hari membawa nama NTB melintasi panggung nasional bahkan internasional. Sebab setiap kebudayaan besar selalu dimulai dari keberanian merawat suaranya sendiri. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026
Dana Indonesiaraya dan Upaya Merawat Masa Depan Kebudayaan Nasional
“Aklammang” di Desa Lantang, Jejak Persatuan dalam Filosofi Akbulo Sibatang
MANDAT BAYAN: Tonggak Baru Kedaulatan Masyarakat Adat di Lombok Utara
Sekardiu: Dari Mitologi Wayang ke Kain Batik, Jejak Imajinasi yang Menjadi Identitas
Wajah-Wajah Kayu dan Ingatan Peradaban: Menelusuri Jejak Seni Topeng Lombok
Menjaga Suara Air, Menjaga Ingatan
Di Lereng Pengsong: Keteguhan Estetik I Nyoman Sandiya dalam Abstrak Dekoratif

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:26 WITA

Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia

Rabu, 13 Mei 2026 - 23:01 WITA

Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026

Jumat, 8 Mei 2026 - 08:01 WITA

Dana Indonesiaraya dan Upaya Merawat Masa Depan Kebudayaan Nasional

Kamis, 7 Mei 2026 - 18:37 WITA

“Aklammang” di Desa Lantang, Jejak Persatuan dalam Filosofi Akbulo Sibatang

Rabu, 6 Mei 2026 - 18:30 WITA

MANDAT BAYAN: Tonggak Baru Kedaulatan Masyarakat Adat di Lombok Utara

Berita Terbaru

Berkeliling sambil melantunkan sebutan menu-menu (Foto: ist /   ceraken.id)

NARASI

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39 WITA

Desa Berdaya mencoba menawarkan pendekatan berbeda: menjadikan desa sebagai pusat transformasi sosial dan ekonomi masyarakat miskin (Foto: akun medsos Adhar Hakim /  ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Desa Berdaya dan Jalan Panjang Melawan Kemiskinan di NTB

Rabu, 13 Mei 2026 - 12:33 WITA

Adhar Hakim. Desa Berdaya adalah gerakan bersama untuk membangun kesadaran bahwa kemiskinan harus dilawan melalui kolaborasi, bukan hanya program bantuan (Foto: ist / ceraken.id)

INFORIAL

Desa Berdaya dan Ikhtiar Memutus Rantai Kemiskinan di NTB

Selasa, 12 Mei 2026 - 17:39 WITA