Catatan Cukup Wibowo*)
CERAKEN.ID — Di tengah dunia ASN yang makin digital, cepat, dan kadang membingungkan, peran widyaiswara memang tidak lagi bisa berhenti pada posisi “penyampai materi” semata. Slide presentasi, modul, dan kurikulum tetap penting, tapi itu baru kulitnya. Esensinya jauh lebih dalam, bagaimana menjaga kualitas sekaligus membangkitkan cara berpikir.
Hari ini kita hidup di era ketika informasi berlimpah, tapi kebijaksanaan justru jadi sesuatu yang langka. Semua orang bisa mengakses data, regulasi, bahkan best practice global hanya lewat genggaman. Tapi tidak semua orang mampu memilah, menimbang, dan menggunakannya secara tepat.
Di sinilah widyaiswara mengambil posisi yang semakin strategis, sebagai penjaga standar di tengah banjirnya informasi. Namun menjaga standar saja tidak cukup.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Berada di Dunia VUCA
Kita sedang menyaksikan pergeseran besar dalam cara kerja birokrasi. Dulu, kepatuhan adalah ukuran utama. Sekarang, kepatuhan tanpa pemahaman bisa menjadi jebakan.
ASN tidak lagi bekerja dalam dunia yang stabil dan linear, melainkan dalam realitas yang kompleks, penuh ketidakpastian, bahkan seringkali ambigu. Dalam istilah kekinian, kita berada di dunia yang disebut “VUCA”, yaitu volatile, uncertain, complex, ambiguous.
Dalam dunia seperti itu, SOP tidak selalu punya jawaban. Aturan tidak selalu cukup cepat mengejar perubahan. Maka yang dibutuhkan bukan hanya ASN yang patuh, tetapi ASN yang bernalar tinggi.
Di titik ini, widyaiswara bertransformasi, dari sosok pengajar menjadi penggerak nalar.
Pada akhirnya seorang widyaiswara bukan lagi hanya menyampaikan “apa yang benar”, tetapi mengajak peserta untuk memahami mengapa itu benar, kapan itu relevan, dan bahkan apakah itu masih tepat dalam konteks tertentu. Para widyaiswara dituntut untuk makin mampu menciptakan ruang aman untuk bertanya, untuk berbeda pendapat, bahkan untuk meragukan tanpa kehilangan arah nilai.
Pendekatan ini terasa semakin penting ketika kita berbicara tentang generasi ASN muda. Mereka bukan generasi yang tumbuh dengan pola satu arah.
Mereka terbiasa dengan algoritma yang memberi pilihan, bukan instruksi tunggal. Mereka belajar dari video singkat, diskusi daring, hingga forum terbuka. Mereka tidak alergi pada aturan, tapi mereka ingin memahami logika di baliknya.
Kalau widyaiswara masih bertahan pada pola lama, yang hanya monolog, normatif, dan kaku, maka yang hilang bukan hanya perhatian peserta, tapi juga kesempatan membentuk cara berpikir mereka.
Sebaliknya, ketika widyaiswara hadir sebagai thought partner, sesuatu yang berbeda terjadi. Kelas tidak lagi sekadar tempat transfer ilmu, tapi menjadi ruang tumbuh.
Diskusi menjadi hidup. Peserta tidak hanya mengingat materi, tapi mulai mengasah perspektif.
Di sinilah relevansi pemikiran-pemikiran kontemporer ikut menguatkan peran ini. Dunia manajemen modern, misalnya, banyak menekankan pentingnya critical thinking, adaptive leadership, dan learning agility.
Bahkan dalam pendekatan design thinking, masalah tidak langsung diselesaikan, tetapi dipahami secara mendalam terlebih dahulu.
Semua pendekatan itu pada dasarnya bertumpu pada satu hal ialah nalar yang hidup. Dan nalar yang hidup tidak lahir dari ceramah satu arah. Ia tumbuh dari dialog, dari pertanyaan yang tepat, dari kegelisahan intelektual yang dipelihara.
Berdiri di Dua Kaki
Di sisi lain, peran sebagai penentu standar juga tidak boleh luntur. Justru di tengah fleksibilitas dan inovasi, standar menjadi jangkar.
Tanpa standar, inovasi bisa sangat imajinatif dan berkembang liar. Tanpa nilai dasar, kreativitas bisa kehilangan arah. Di sinilah keseimbangan itu diuji.
Seorang widyaiswara harus mampu berdiri di dua kaki sekaligus, satu kaki menjaga konsistensi nilai, satu kaki lagi mendorong eksplorasi pemikiran. Tidak mudah, tapi justru di situlah letak profesionalismenya.
Menariknya, tantangan ke depan tidak akan lebih ringan. Dengan hadirnya kecerdasan buatan, otomatisasi, dan sistem digital yang semakin canggih, banyak pekerjaan teknis ASN akan berubah, bahkan mungkin tergantikan.
Tapi satu hal yang sulit digantikan adalah kemampuan berpikir dalam memahami konteks, membuat keputusan etis, dan mempertimbangkan dampak jangka panjang. Artinya, masa depan ASN sangat ditentukan oleh kualitas nalarnya.
Dan jika kita tarik garis lebih jauh, maka masa depan itu, sedikit banyak, ditentukan oleh kualitas widyaiswaranya.
Maka mungkin, sudah saatnya kita melihat ulang peran ini dengan lebih serius. Widyaiswara bukan sekadar bagian dari sistem pelatihan. Ia adalah arsitek cara berpikir birokrasi.
Ia membentuk bagaimana ASN melihat masalah. Bagaimana mereka mengambil keputusan. Bahkan bagaimana mereka memaknai pelayanan publik.
Pada akhirnya, birokrasi yang kuat memang tidak hanya dibangun oleh aturan yang rapi. Ia dibangun oleh manusia-manusia yang mampu berpikir jernih, bertindak tepat, dan tetap punya empati dalam melayani.
Dan harapan atas perubahan besar itu, seringkali justru tidak dimulai dari kebijakan besar. Melainkan dari dari hal yang sederhana, yaitu kelas yang hidup, diskusi yang jujur, dan seorang widyaiswara yang memilih untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga sanggup menggerakkan nalar para peserta pelatihan. (*)
*) Penulis adalah seorang Widyaiswara Ahli Utama di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat
Editor : ceraken editor


























































