Bangket Gunung Pengsong: Jejak Pertama I Nyoman Sandiya Membaca Lombok

Kamis, 28 Mei 2026 - 07:59 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Bangket Gunung Pengsong". Karya pertama sering kali memiliki posisi sangat penting. Bukan hanya dokumentasi awal kemampuan teknis seorang pelukis, melainkan juga penanda lahirnya identitas visual seorang seniman (Foto: ist / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Dalam suasana Iduladha, Rabu, 27 Mei 2026, percakapan dengan I Nyoman Sandiya menghadirkan kembali ingatan tentang sebuah lukisan yang menjadi pijakan awal perjalanan kreatifnya di Lombok.

Di tengah perjalanan hidup yang belum sepenuhnya mapan pada 2004 silam, ia datang ke Mataram dengan status tenaga honor di SMKN 5 Mataram, sambil berusaha mengajukan lamaran ke sejumlah sekolah demi bertahan hidup.

Namun di tengah situasi yang sederhana itu, lahirlah sebuah karya yang justru menjadi penanda penting arah keseniannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini karya pertama saya ketika sampai di Lombok di tahun 2004, karena pada waktu itu baru honor di SMKN 5 Mataram dan sudah mempersiapkan lamaran di beberapa sekolah untuk bertahan hidup,” ujarnya.

Lukisan itu diberinya judul Bangket Gunung Pengsong, sebuah kanvas akrilik berukuran 110 x 180 sentimeter dengan dominasi warna biru yang dipadukan sapuan putih dan merah, menghadirkan “lanskap sawah” yang bukan sekadar pemandangan, melainkan ruang renungan tentang manusia, alam, dan kehidupan desa.

Melihat Sawah Sebagai Ruang Kehidupan

Ketertarikan awal Sandiya pada kawasan sekitar Gunung Pengsong berangkat dari pengamatannya terhadap perempuan-perempuan desa yang bekerja di sawah sejak pagi hari. Aktivitas itu meninggalkan kesan mendalam dalam dirinya.

“Ketertarikan pertamanya karena melihat ibu-ibu yang menanam pagi di sekitar Gunung Pengsong, saya berpikir peran perempuan di sini sangat membantu kehidupan rumah tangga,” lanjutnya.

Dari pengamatan sederhana tersebut, ia mulai mendatangi area persawahan secara lebih intens.

Ia menyaksikan langsung ritme kehidupan petani: lumpur yang diinjak setiap pagi, gulma yang tumbuh di sela tanaman, air yang bergerak perlahan di pematang, hingga kehadiran kodok dan cacing yang hidup di dalam tanah sawah. Semua elemen itu kemudian diangkat menjadi simbol visual dalam karya-karyanya.

Baca Juga :  Gula Gending 2.0: Nada Perjuangan dari Pulau Seberang yang Menghidupkan Kembali Romantika Lombok

Baginya, sawah bukan sekadar objek estetika. Bangket atau sawah adalah simbol kekuatan masyarakat agraris. Di sana terdapat kerja sama, gotong royong, dan sistem kehidupan yang tidak dapat dijalankan secara individual.

Menanam padi memerlukan kebersamaan, pengairan memerlukan keteraturan, dan panen dilakukan dalam semangat kolektif. Karena itulah sawah kerap menjadi metafora karakter desa yang menjunjung solidaritas sosial.

Di sisi lain, sawah juga menyimpan dimensi emosional. Ketika lahan pertanian mulai tergantikan beton dan pembangunan industri, sawah berubah menjadi simbol kehilangan: kehilangan kampung halaman, kehilangan masa kecil, dan kehilangan hubungan manusia dengan tanah yang selama ini menjaga kehidupan.

Falsafah Petani dan Kesederhanaan Hidup

Bagi Sandiya, dunia petani menyimpan pelajaran filosofis yang jarang ditemukan dalam kehidupan modern yang serba cepat. Ia melihat bagaimana petani tidak bisa memaksa padi tumbuh sebelum musimnya tiba.

Mereka mengikuti ritme alam: hujan, angin, matahari, dan waktu tanam yang terus berulang dalam siklus kehidupan.

Pengalaman mengamati para petani itulah yang membuatnya memahami makna kesederhanaan. Petani bekerja tanpa kerakusan.

Hasil panen tidak selalu melahirkan kekayaan besar, tetapi cukup untuk makan, menyekolahkan anak, dan menyimpan gabah untuk masa depan. Dari sana lahir karakter rendah hati yang menurutnya menjadi bagian penting dari kehidupan desa.

“Jadi bangket atau sawah itu simbol kesederhanaan petani karena dia mengingatkan kita, hidup tidak harus ramai dan mewah, yang penting dijaga, dirawat, dan buat manfaat,” kata pendidik SMAN 8 Mataram itu.

Pandangan tersebut kemudian menjadi ruh dari banyak karya Sandiya setelahnya. Sawah tidak hanya diposisikan sebagai lanskap visual, melainkan ruang kontemplasi tentang hubungan manusia dengan alam dan nilai-nilai sosial yang mulai terkikis oleh modernitas.

Baca Juga :  Gurat Mahardika: Enam Tiang Kreativitas Meneguhkan Kemerdekaan Seni Rupa Lombok
Karya Pertama dan Pondasi Identitas Seniman

Dalam dunia seni rupa, karya pertama sering kali memiliki posisi yang sangat penting. Ia bukan hanya dokumentasi awal kemampuan teknis seorang pelukis, melainkan juga penanda lahirnya identitas visual seorang seniman.

Demikian pula dengan Bangket Gunung Pengsong dalam perjalanan kreatif I Nyoman Sandiya.

Karya perdana biasanya lahir tanpa tekanan pasar dan kepentingan komersial. Karena itu, ia menyimpan ekspresi yang lebih jujur dan spontan.

Pada tahap ini, seorang seniman sedang merekam kegelisahan, pengalaman spiritual, serta respons emosionalnya terhadap lingkungan sekitar.

Lukisan pertama juga menjadi titik ukur perkembangan artistik di masa mendatang. Dari sana dapat dibaca bagaimana seorang pelukis mulai menemukan gaya, pendekatan visual, dan tema-tema yang akan terus berkembang dalam karya berikutnya.

Dalam kasus Sandiya, sawah menjadi semacam “cetak biru” yang memperlihatkan ketertarikannya pada kehidupan agraris, relasi manusia dengan alam, dan nilai-nilai kesederhanaan.

Secara historis, seni lukis memang tidak hanya berbicara tentang keindahan visual. Ia merupakan medium komunikasi yang mampu menyampaikan emosi, kritik sosial, hingga refleksi spiritual tanpa batas bahasa.

Karena itu, penciptaan karya pertama sering kali menjadi pintu masuk seorang seniman ke dalam dunia tafsir yang lebih luas.

Di tangan I Nyoman Sandiya, Bangket Gunung Pengsong bukan sekadar lukisan awal perjalanan di Lombok. Ia adalah rekaman tentang perjuangan bertahan hidup, penghormatan kepada petani, dan usaha membaca denyut kebudayaan desa melalui bahasa warna dan simbol visual. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Beda Generasi, Jembatan Cinta dalam Kanvas Lingsartha
Esti Ebhi Evolisa dan Nyanyian Alam dari Kanvas Ecoprint
Gula Gending 2.0: Nada Perjuangan dari Pulau Seberang yang Menghidupkan Kembali Romantika Lombok
Satar Tacik dan Jejak Pulang ke Budaya: Dari “Cahaya Kegelapan” Menuju Narasi Sasak dalam Seri Praja
Gurat Mahardika: Enam Tiang Kreativitas Meneguhkan Kemerdekaan Seni Rupa Lombok
Dari Panggung MTQ ke Panggung Peradaban
Merawat Ruh Gula Gending dari Panggung Teater
Rahmatan Lil Alamin di Panggung MTQ NTB: Ketika 300 Penari Merawat Harmoni Semesta

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 21:05 WITA

Beda Generasi, Jembatan Cinta dalam Kanvas Lingsartha

Minggu, 14 Juni 2026 - 20:22 WITA

Esti Ebhi Evolisa dan Nyanyian Alam dari Kanvas Ecoprint

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:28 WITA

Gula Gending 2.0: Nada Perjuangan dari Pulau Seberang yang Menghidupkan Kembali Romantika Lombok

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:02 WITA

Satar Tacik dan Jejak Pulang ke Budaya: Dari “Cahaya Kegelapan” Menuju Narasi Sasak dalam Seri Praja

Kamis, 11 Juni 2026 - 01:08 WITA

Gurat Mahardika: Enam Tiang Kreativitas Meneguhkan Kemerdekaan Seni Rupa Lombok

Berita Terbaru

Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan antikorupsi sejatinya memiliki akar yang sama dengan ajaran moral dan spiritual yang diajarkan agama (foto: ppid.mataramkota.go.id / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Hijrah, Integritas, dan Ikhtiar Membangun Bangsa

Rabu, 17 Jun 2026 - 11:37 WITA

Kliping yang mulai memudar menjadi pengingat, keteguhan dalam berkesenian tidak selalu lahir dari panggung besar (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Warjack, Keteguhan yang Tak Lekang oleh Waktu

Rabu, 17 Jun 2026 - 09:34 WITA

Kreativitas selalu kembali pada pilihan manusia untuk memberi makna atas hidupnya sendiri (Foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Di Antara Suno, Lagu Asli, dan Pilihan Menjadi Manusia

Selasa, 16 Jun 2026 - 16:28 WITA