CERAKEN.ID — Suara dialog bersahutan di dalam Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB pada Senin malam, 8 Juni 2026. Para pemain “Gula Gending 2.0” tampak mengulang adegan demi adegan dengan kesungguhan yang semakin terasa menjelang hari pementasan.
Di bawah arahan sutradara Taufik Mawardi, latihan tidak hanya berfokus pada penguasaan dialog, tetapi juga ketepatan gerak dan penghayatan ruang panggung.
Malam itu, para pemeran seperti Amaq, Inaq, Saknah, Salman, dan Bedul terlihat serius melafalkan dialog serta menyesuaikan posisi permainan. Hanya tokoh Rawi yang tidak hadir dalam sesi latihan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Intensitas latihan yang meningkat menjadi penanda bahwa pementasan yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026, memasuki tahap yang semakin krusial.
“Ada beberapa hal yang harus kita sesuaikan dan benahi,” ujar Taufik Mawardi, atau yang akrab disapa Opik.
Ketika Blocking Menjadi Bahasa Panggung

Dalam proses latihan, perhatian Opik banyak tertuju pada aspek blocking, yakni pengaturan posisi dan pergerakan aktor di atas panggung. Baginya, keberhasilan sebuah adegan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghafal dialog, tetapi juga bagaimana tubuh para pemain berbicara melalui gerak dan ruang.
Beberapa kali ia menghentikan adegan untuk memberikan arahan yang lebih rinci kepada para pemain. Ketika tokoh Saknah memasuki panggung, misalnya, Opik meminta adegan tersebut diulang agar terasa lebih alami.
“Coba ulangi lagi. Saat masuk jangan kaku, natural saja, dan upayakan ini sebagai pengenalan diri ke penonton,” komandonya.
Dalam dunia teater, blocking memiliki fungsi penting untuk membantu penonton memahami alur cerita, hubungan antar tokoh, hingga emosi yang sedang dibangun. Penataan posisi dan gerak aktor juga berfungsi menciptakan fokus visual, menjaga keseimbangan komposisi panggung, serta menghindari pemain saling menutupi satu sama lain.
Prinsip-prinsip seperti keseimbangan, kesatuan, variasi, dan penekanan pada titik fokus menjadi dasar yang terus diperhatikan selama latihan. Dari luar, arahan yang berulang mungkin terdengar cerewet, namun justru di situlah ketelitian seorang sutradara bekerja untuk memastikan setiap adegan memiliki makna yang utuh.
Dari Kembang Kerang Daya Menuju Panggung Kontemporer

Di balik proses latihan yang intens, “Gula Gending 2.0” bertumpu pada riset lapangan yang mendalam. Yuga Anggana, pimpinan produksi pertunjukan ini, menyebut tahapan observasi di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, sebagai titik kritis penciptaan karya.
Desa tersebut kerap disebut dalam berbagai literatur sebagai salah satu ruang lahirnya tradisi musik yang berasal dari rombong penjual gula rambut nenek. Dari sana, para seniman mencoba menelusuri kembali jejak-jejak budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat.
“Bukan semata mengumpulkan data, tetapi mencoba mendekati kembali Gula Gending sebagai pengalaman hidup, bukan hanya sebagai bunyi, melainkan sebagai ingatan kolektif yang selama ini berdiam di tubuh masyarakatnya,” ujar Yuga.
Pendekatan itu menjadikan “Gula Gending 2.0” lebih dari sekadar pertunjukan seni. Ia hadir sebagai upaya membaca ulang tradisi melalui bahasa pertunjukan kontemporer.
Kehadiran naskah karya De Galih Mulyadi, penulis asal Gangga, Lombok Utara, memperkuat fondasi artistik produksi ini. Nama De Galih sendiri dikenal luas setelah naskahnya berjudul “Bilal” dinobatkan sebagai naskah terbaik dalam Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta (Rawayan Awards) 2022.
Menyelamatkan Jiwa yang Tersisa
Bagi para penggagasnya, Gula Gending bukan sekadar alat jualan atau nostalgia masa kecil. Di balik bunyi kaleng seng yang dahulu mengiringi penjual gula rambut, tersimpan ruang sosial yang mempertemukan warga dalam pengalaman bersama.

Dahulu, transaksi belum dimulai sebelum bunyi-bunyian khas itu selesai menggema. Musik menjadi penanda kehadiran, sekaligus medium komunikasi yang hidup di tengah masyarakat.
Namun perkembangan teknologi perlahan menggeser tradisi tersebut. Bunyi yang dahulu dimainkan langsung oleh tangan-tangan terampil kini digantikan oleh rekaman audio digital yang serba praktis.
Kondisi itulah yang menjadi kegelisahan utama di balik lahirnya “Gula Gending 2.0”. Pertunjukan ini berusaha mengangkat kembali rombong seng dari pinggir jalan kampung ke atas panggung teater, bukan untuk mengawetkan masa lalu secara romantis, melainkan untuk membuka percakapan baru tentang identitas, memori, dan perubahan zaman.
“Gula Gending 2.0” hadir sebagai pembacaan ulang terhadap warisan budaya yang perlahan terdesak modernisasi. Melalui eksplorasi bunyi, tubuh, dan narasi, para seniman mencoba menghidupkan kembali dialog sosial yang selama ini tersimpan dalam tradisi tersebut.
Pementasan akan berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026, pukul 20.00 WITA di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB. Pertunjukan ini terbuka untuk umum dan dapat disaksikan secara gratis.
Digelar secara kolektif melalui gotong royong para seniman dan komunitas kreatif NTB, “Gula Gending 2.0” menjadi undangan terbuka bagi publik untuk hadir di ruang dengar yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan resonansi panjang tentang siapa kita dan bagaimana kebudayaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (aks)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































