Merawat Ruh Gula Gending dari Panggung Teater

Selasa, 9 Juni 2026 - 16:33 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam proses latihan, perhatian Taufiq Mawardi banyak tertuju pada aspek blocking, yakni pengaturan posisi dan pergerakan aktor di atas panggung (Foto: aks / ceraken.id)

Dalam proses latihan, perhatian Taufiq Mawardi banyak tertuju pada aspek blocking, yakni pengaturan posisi dan pergerakan aktor di atas panggung (Foto: aks / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Suara dialog bersahutan di dalam Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB pada Senin malam, 8 Juni 2026. Para pemain “Gula Gending 2.0” tampak mengulang adegan demi adegan dengan kesungguhan yang semakin terasa menjelang hari pementasan.

Di bawah arahan sutradara Taufik Mawardi, latihan tidak hanya berfokus pada penguasaan dialog, tetapi juga ketepatan gerak dan penghayatan ruang panggung.

Malam itu, para pemeran seperti Amaq, Inaq, Saknah, Salman, dan Bedul terlihat serius melafalkan dialog serta menyesuaikan posisi permainan. Hanya tokoh Rawi yang tidak hadir dalam sesi latihan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Intensitas latihan yang meningkat menjadi penanda bahwa pementasan yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026, memasuki tahap yang semakin krusial.

“Ada beberapa hal yang harus kita sesuaikan dan benahi,” ujar Taufik Mawardi, atau yang akrab disapa Opik.

Ketika Blocking Menjadi Bahasa Panggung
“Gula Gending 2.0” hadir sebagai upaya membaca ulang tradisi melalui bahasa pertunjukan kontemporer (Foto: aks / ceraken,id)

Dalam proses latihan, perhatian Opik banyak tertuju pada aspek blocking, yakni pengaturan posisi dan pergerakan aktor di atas panggung. Baginya, keberhasilan sebuah adegan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghafal dialog, tetapi juga bagaimana tubuh para pemain berbicara melalui gerak dan ruang.

Beberapa kali ia menghentikan adegan untuk memberikan arahan yang lebih rinci kepada para pemain. Ketika tokoh Saknah memasuki panggung, misalnya, Opik meminta adegan tersebut diulang agar terasa lebih alami.

“Coba ulangi lagi. Saat masuk jangan kaku, natural saja, dan upayakan ini sebagai pengenalan diri ke penonton,” komandonya.

Dalam dunia teater, blocking memiliki fungsi penting untuk membantu penonton memahami alur cerita, hubungan antar tokoh, hingga emosi yang sedang dibangun. Penataan posisi dan gerak aktor juga berfungsi menciptakan fokus visual, menjaga keseimbangan komposisi panggung, serta menghindari pemain saling menutupi satu sama lain.

Baca Juga :  Dari Gedung Teater ke Ruang Sosial: Pekan Teater Pelajar NTB 2026 Capai Puncak Apresiasi

Prinsip-prinsip seperti keseimbangan, kesatuan, variasi, dan penekanan pada titik fokus menjadi dasar yang terus diperhatikan selama latihan. Dari luar, arahan yang berulang mungkin terdengar cerewet, namun justru di situlah ketelitian seorang sutradara bekerja untuk memastikan setiap adegan memiliki makna yang utuh.

Dari Kembang Kerang Daya Menuju Panggung Kontemporer
Dahulu, transaksi belum dimulai sebelum bunyi-bunyian khas itu selesai menggema (Foto: aks / ceraken.id)

Di balik proses latihan yang intens, “Gula Gending 2.0” bertumpu pada riset lapangan yang mendalam. Yuga Anggana, pimpinan produksi pertunjukan ini, menyebut tahapan observasi di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, sebagai titik kritis penciptaan karya.

Desa tersebut kerap disebut dalam berbagai literatur sebagai salah satu ruang lahirnya tradisi musik yang berasal dari rombong penjual gula rambut nenek. Dari sana, para seniman mencoba menelusuri kembali jejak-jejak budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat.

“Bukan semata mengumpulkan data, tetapi mencoba mendekati kembali Gula Gending sebagai pengalaman hidup, bukan hanya sebagai bunyi, melainkan sebagai ingatan kolektif yang selama ini berdiam di tubuh masyarakatnya,” ujar Yuga.

Pendekatan itu menjadikan “Gula Gending 2.0” lebih dari sekadar pertunjukan seni. Ia hadir sebagai upaya membaca ulang tradisi melalui bahasa pertunjukan kontemporer.

Kehadiran naskah karya De Galih Mulyadi, penulis asal Gangga, Lombok Utara, memperkuat fondasi artistik produksi ini. Nama De Galih sendiri dikenal luas setelah naskahnya berjudul “Bilal” dinobatkan sebagai naskah terbaik dalam Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta (Rawayan Awards) 2022.

Baca Juga :  Gurat Mahardika: Enam Tiang Kreativitas Meneguhkan Kemerdekaan Seni Rupa Lombok
Menyelamatkan Jiwa yang Tersisa

Bagi para penggagasnya, Gula Gending bukan sekadar alat jualan atau nostalgia masa kecil. Di balik bunyi kaleng seng yang dahulu mengiringi penjual gula rambut, tersimpan ruang sosial yang mempertemukan warga dalam pengalaman bersama.

Tahapan observasi di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, sebagai titik kritis penciptaan karya (Foto: ist / ceraken.id)

Dahulu, transaksi belum dimulai sebelum bunyi-bunyian khas itu selesai menggema. Musik menjadi penanda kehadiran, sekaligus medium komunikasi yang hidup di tengah masyarakat.

Namun perkembangan teknologi perlahan menggeser tradisi tersebut. Bunyi yang dahulu dimainkan langsung oleh tangan-tangan terampil kini digantikan oleh rekaman audio digital yang serba praktis.

Kondisi itulah yang menjadi kegelisahan utama di balik lahirnya “Gula Gending 2.0”. Pertunjukan ini berusaha mengangkat kembali rombong seng dari pinggir jalan kampung ke atas panggung teater, bukan untuk mengawetkan masa lalu secara romantis, melainkan untuk membuka percakapan baru tentang identitas, memori, dan perubahan zaman.

“Gula Gending 2.0” hadir sebagai pembacaan ulang terhadap warisan budaya yang perlahan terdesak modernisasi. Melalui eksplorasi bunyi, tubuh, dan narasi, para seniman mencoba menghidupkan kembali dialog sosial yang selama ini tersimpan dalam tradisi tersebut.

Pementasan akan berlangsung pada Jumat, 12 Juni 2026, pukul 20.00 WITA di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB. Pertunjukan ini terbuka untuk umum dan dapat disaksikan secara gratis.

Digelar secara kolektif melalui gotong royong para seniman dan komunitas kreatif NTB, “Gula Gending 2.0” menjadi undangan terbuka bagi publik untuk hadir di ruang dengar yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan resonansi panjang tentang siapa kita dan bagaimana kebudayaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Beda Generasi, Jembatan Cinta dalam Kanvas Lingsartha
Esti Ebhi Evolisa dan Nyanyian Alam dari Kanvas Ecoprint
Gula Gending 2.0: Nada Perjuangan dari Pulau Seberang yang Menghidupkan Kembali Romantika Lombok
Satar Tacik dan Jejak Pulang ke Budaya: Dari “Cahaya Kegelapan” Menuju Narasi Sasak dalam Seri Praja
Gurat Mahardika: Enam Tiang Kreativitas Meneguhkan Kemerdekaan Seni Rupa Lombok
Dari Panggung MTQ ke Panggung Peradaban
Rahmatan Lil Alamin di Panggung MTQ NTB: Ketika 300 Penari Merawat Harmoni Semesta
Dari Singularitas Menuju Kemanusiaan: Big Bang dalam Imajinasi I Nyoman Sandiya

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 21:05 WITA

Beda Generasi, Jembatan Cinta dalam Kanvas Lingsartha

Minggu, 14 Juni 2026 - 20:22 WITA

Esti Ebhi Evolisa dan Nyanyian Alam dari Kanvas Ecoprint

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:28 WITA

Gula Gending 2.0: Nada Perjuangan dari Pulau Seberang yang Menghidupkan Kembali Romantika Lombok

Jumat, 12 Juni 2026 - 08:02 WITA

Satar Tacik dan Jejak Pulang ke Budaya: Dari “Cahaya Kegelapan” Menuju Narasi Sasak dalam Seri Praja

Kamis, 11 Juni 2026 - 01:08 WITA

Gurat Mahardika: Enam Tiang Kreativitas Meneguhkan Kemerdekaan Seni Rupa Lombok

Berita Terbaru

Nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan antikorupsi sejatinya memiliki akar yang sama dengan ajaran moral dan spiritual yang diajarkan agama (foto: ppid.mataramkota.go.id / ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Hijrah, Integritas, dan Ikhtiar Membangun Bangsa

Rabu, 17 Jun 2026 - 11:37 WITA

Kliping yang mulai memudar menjadi pengingat, keteguhan dalam berkesenian tidak selalu lahir dari panggung besar (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Warjack, Keteguhan yang Tak Lekang oleh Waktu

Rabu, 17 Jun 2026 - 09:34 WITA

Kreativitas selalu kembali pada pilihan manusia untuk memberi makna atas hidupnya sendiri (Foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Di Antara Suno, Lagu Asli, dan Pilihan Menjadi Manusia

Selasa, 16 Jun 2026 - 16:28 WITA