Bahasa Sasak Menyusun Masa Depan: Kongres 2026 Dimulai dari Sebuah Musyawarah

- Penulis

Minggu, 5 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kongres diharapkan menjadi tonggak baru bagi perjalanan Bahasa Sasak (foto: balaibahasaprovinsintb / ceraken.id)

Kongres diharapkan menjadi tonggak baru bagi perjalanan Bahasa Sasak (foto: balaibahasaprovinsintb / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram—Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia menyimpan ingatan kolektif, cara pandang, pengetahuan, hingga martabat sebuah masyarakat.

Kesadaran itulah yang mempertemukan para budayawan, akademisi, peneliti, tokoh adat, dan pegiat bahasa di Ruang Bayan Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Sabtu (4/7/2026). Mereka tidak sekadar menggelar rapat, tetapi memulai ikhtiar bersama untuk memastikan Bahasa Sasak tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.

Pertemuan yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi NTB bersama Majelis Adat Sasak (MAS) tersebut menjadi langkah awal pembentukan panitia Kongres Bahasa Sasak Tahun 2026, yang direncanakan berlangsung pada Oktober mendatang bertepatan dengan Bulan Bahasa dan Sastra.

Forum itu dihadiri Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB Arie Andrasyah Isa, Ketua Majelis Adat Sasak Lalu Sajim Sastrawan, perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, komunitas pemerhati bahasa, hingga para penyuluh bahasa.

Mencari Titik Temu di Tengah Keberagaman Dialek

Bagi Ketua Majelis Adat Sasak, Lalu Sajim Sastrawan, kongres ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia lahir dari kegelisahan yang telah lama dirasakan masyarakat Sasak terhadap berbagai persoalan kebahasaan yang belum menemukan kesepahaman.

“Kongres ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi terkait pelestarian bahasa Sasak yang berujung pada peraturan daerah,” ujarnya.

Menurutnya, perbedaan dialek yang berkembang di berbagai wilayah Lombok justru merupakan kekayaan budaya yang patut dirawat. Keberagaman tersebut tidak semestinya dipandang sebagai penghalang dalam membangun kesepakatan mengenai arah pengembangan Bahasa Sasak.

Pandangan itu menjadi penting mengingat bahasa daerah hari ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, Bahasa Sasak masih hidup dalam percakapan sehari-hari masyarakat. Namun di sisi lain, perubahan sosial, mobilitas penduduk, serta dominasi bahasa nasional dan bahasa global perlahan menggeser ruang penggunaan bahasa ibu, terutama di kalangan generasi muda.

Baca Juga :  Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Karena itu, kongres diproyeksikan bukan hanya membicarakan kaidah bahasa, melainkan juga masa depan identitas budaya masyarakat Sasak.

Dari Impian Lama Menuju Agenda Bersama

Kepala Balai Bahasa Provinsi NTB, Arie Andrasyah Isa, mengakui bahwa penyelenggaraan Kongres Bahasa Sasak merupakan cita-cita yang telah lama dinantikan berbagai pihak.

“Kongres Bahasa Sasak adalah impian yang telah kami cita-citakan sejak lama. Meski sudah pernah dilakukan, konon belum ada tindak lanjut yang cukup signifikan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Balai Bahasa memiliki mandat mengutamakan penggunaan bahasa negara, melestarikan bahasa daerah melalui berbagai program, termasuk Revitalisasi Bahasa Daerah, sekaligus mendukung penginternasionalan Bahasa Indonesia.

Dalam konteks itu, Kongres Bahasa Sasak dipandang sebagai momentum strategis untuk memperkuat posisi bahasa daerah melalui kolaborasi lintas lembaga.

“Kongres ini menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Bahasa Sasak melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Arie.

Namun, menurutnya, kongres tidak dapat berdiri sendiri. Sebelum Oktober nanti, diperlukan serangkaian kegiatan prakongres sebagai ruang koordinasi, konsolidasi, sekaligus penghimpunan berbagai kajian ilmiah yang akan menjadi dasar pembahasan.

Forum prakongres diharapkan melibatkan pakar bahasa, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, komunitas budaya, hingga perwakilan setiap paer di Pulau Lombok. Melalui forum tersebut, berbagai persoalan kebahasaan dapat dipetakan lebih komprehensif sehingga rekomendasi kongres tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan menjadi pijakan kebijakan yang dapat ditindaklanjuti pemerintah daerah, DPRD, sekolah, perguruan tinggi, maupun masyarakat.

Bahasa yang Bertahan Adalah Bahasa yang Digunakan

Diskusi yang berlangsung sepanjang rapat menunjukkan bahwa pelestarian Bahasa Sasak tidak cukup dilakukan melalui seminar atau penerbitan buku semata. Perwakilan BRIN mengingatkan pentingnya memanfaatkan berbagai hasil penelitian yang telah tersedia agar pembahasan tidak kembali dimulai dari titik nol.

Baca Juga :  Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Sementara itu, para akademisi dan pemerhati bahasa mengusulkan perlunya kajian sosiolinguistik yang lebih mendalam mengenai variasi dialek Bahasa Sasak, penguatan penggunaan bahasa dalam keluarga, penyusunan kurikulum pembelajaran yang lebih adaptif, hingga keterlibatan pondok pesantren, tokoh adat, tokoh agama, dan komunitas budaya sebagai penjaga ekosistem bahasa.

Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa masa depan Bahasa Sasak tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada sejauh mana masyarakat masih menjadikannya bahasa kehidupan sehari-hari.

Dalam forum yang sama, peserta rapat secara musyawarah membentuk struktur kepanitiaan Kongres Bahasa Sasak Tahun 2026. Dr. Khairul Anwar, M.Pd., dipercaya sebagai Ketua Panitia dengan didampingi unsur Balai Bahasa Provinsi NTB, BRIN, perguruan tinggi, Majelis Adat Sasak, serta berbagai komunitas budaya.

Kepanitiaan yang terbentuk akan segera menyusun agenda kerja, membangun koordinasi dengan pemerintah daerah, serta mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan menuju Kongres Bahasa Sasak pada Oktober mendatang.

Lebih dari sekadar forum ilmiah, kongres ini diharapkan menjadi tonggak baru bagi perjalanan Bahasa Sasak. Sebab, bahasa yang terus dipelajari, digunakan, dan diwariskan adalah bahasa yang tetap memiliki masa depan.

Dari sebuah ruang rapat sederhana di Mataram, harapan itu kini mulai disusun; agar Bahasa Sasak tidak hanya dikenang sebagai warisan leluhur, tetapi terus bertumbuh sebagai identitas hidup masyarakat Lombok di masa depan.(*/aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: balaibahasaprovinsintb

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data
Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan
Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB
Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem
Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata
Menyemai Rasa di Jantung Mandalika: Ketika Kuliner Lokal Menjadi Wajah Pariwisata Lombok
Saat Tempat Kerja Menjadi Ruang Aman: Otsuka dan RS Marzoeki Mahdi Membangun Budaya Peduli Kesehatan Mental
Membaca Masa Depan Teater dari Mataram: Fragmen Tengah Menjadi Laboratorium Pengetahuan Bersama

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Menemukan Talenta ASN, NTB Perkuat Fondasi Birokrasi Berbasis Merit dan Data

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 20:30 WITA

Lombok Art Market: Membangun Ekosistem Seni, Bukan Sekadar Menggelar Perayaan

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:53 WITA

Akar Budaya untuk Masa Depan Anak NTB

Selasa, 28 Juli 2026 - 14:25 WITA

Tak Ada yang Tertinggal: Desa Berdaya Menjadi Jalan NTB Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem

Rabu, 15 Juli 2026 - 22:04 WITA

Seaplane dan Taruhan Baru Pariwisata NTB: Antara Batujai, Pengga, dan Pusat Pertumbuhan yang Lebih Merata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA