Ikhtiar

Sabtu, 30 Maret 2024

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Perasaan dan pikiran bukanlah hal yang statis dalam diri manusia, melainkan sisi yang amat dinamis mengikuti pergerakan waktu. Kedua hal tersebut, yakni perasaan dan pikiran, memiliki keterkaitan yang kuat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Transformasi dengan segera bisa terjadi dari perasaan tertekan menjadi kelegaan dan optimisme, sementara pikiran yang awalnya kerdil bisa menjadi bijak dan penuh wawasan. Semua itu tidak lain adalah buah dari kesungguhan usaha individu untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik.

Perasaan tidak bisa dipisahkan dari pikiran, begitu pula sebaliknya. Keduanya bisa saling menguatkan, tapi bisa juga melemahkan. Emosionalitas seringkali dipicu oleh faktor eksternal seperti kabar, informasi, atau fakta yang dapat mempengaruhi suasana hati seseorang. Sebaliknya, rasionalitas memerlukan kesadaran diri untuk mengembangkan pemikiran, meningkatkan wawasan, dan memenuhi kebutuhan intelektualitas. Kedua contoh di atas menunjukkan bagaimana faktor internal maupun eksternal dapat mempengaruhi individu.

Baca Juga :  Ketika Waktu Pulang Bersama Sahabat SMANSA ’87

Dalam kesadaran diri yang optimal, setiap orang akan merasa dirinya perlu untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka menghargai integritas dan memilih sikap yang tepat dalam berbagai situasi. Misalnya, kesabaran menjadi penting ketika dihadapkan pada perilaku negatif. Diam dengan bijak dapat menjadi cara terbaik untuk melatih kesabaran, menghindari diri untuk terperangkap dalam kebiasaan negatif, dan menghindari pengungkapan prasangka yang tidak produktif.

Sikap dan cara untuk menghindari jebakan prasangka serta kesembronoan dalam pengutaraan pikiran menjadi hal penting yang perlu dipertimbangkan oleh individu yang memiliki kesabaran. Begitu juga dengan pemanfaatan atas nikmat pikiran dan perasaan; apakah kita menggunakan semuanya secara berteraturan sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Sang Pencipta? Pikiran dan perasaan manusia seringkali menjadi pusat keinginan dan hasrat yang terus menerus bergejolak.

Baca Juga :  Ketika Waktu Pulang Bersama Sahabat SMANSA ’87

Kenyataannya, manusia tidak akan mampu mengatasi dan mengendalikan dirinya sendiri yang penuh dengan keanekaragaman hasrat dan keinginan tanpa bantuan kemudahan yang luar biasa dari Yang Maha Kuasa. Puasa, sebagai ikhtiar untuk mewujudkan kebiasaan diri menjalani ketaatan, merupakan salah satu cara yang dipilih individu untuk lebih terlatih dalam mengendalikan diri. Melalui puasa dengan cara benar, sensitivitas terhadap moralitas meningkat, dan individu dapat lebih mudah membedakan mana yang baik dan buruk. Ketaatan dalam menjalankan puasa dengan benar akan membawa individu pada tingkat kesadaran yang lebih tinggi, memungkinkan mereka mendengarkan bisikan hati tentang apa yang baik dan buruk. Prasangka, sebagai sumber tindakan yang tidak produktif, harus terus disingkirkan dengan ikhtiar kebaikan sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi. Semoga hari ini ini kita bisa menjalankan ibadah puasa secara lebih baik. Insyaallah.**

Penulis : Cukup Wibowo

Berita Terkait

Ketika Waktu Pulang Bersama Sahabat SMANSA ’87
Ngopi, Nobar, dan Sepak Bola
Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi
Anak-Anak Mancing di Kolam Renang
Janji Kopi di Sudut Warkop
Tubuh Dalam Pandangan Sasak
Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial
Bangku Kuning di Depan Kantor Gubernur: Antara Ketertiban dan Ruang Publik

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 22:12

Ketika Waktu Pulang Bersama Sahabat SMANSA ’87

Senin, 6 Juli 2026 - 10:25

Ngopi, Nobar, dan Sepak Bola

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:12

Anak-Anak Mancing di Kolam Renang

Rabu, 22 April 2026 - 09:05

Janji Kopi di Sudut Warkop

Berita Terbaru

Ia menjadi pengingat bahwa kebudayaan akan tetap hidup (foto: aks / ceraken.id)

BUDAYA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Minggu, 16 Agu 2026 - 13:26