Ketika “Kun!” Menyapa: Menemukan Harapan di Ujung Ramadan

Jumat, 20 Maret 2026 - 07:09 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Foto ilustrasi: cw/ceraken.id)

(Foto ilustrasi: cw/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Memasuki pekan keempat Ramadan 1447 Hijriah, Kamis, 12 Maret hingga 18 Maret 2026, lanskap tulisan Cukup Wibowo bergerak semakin dalam.

Jika pada pekan-pekan sebelumnya ia mengajak pembaca menelusuri disiplin diri, pergulatan batin, hingga etika pengabdian, maka kali ini ia menempatkan manusia pada titik paling rapuhnya: berhadapan dengan kesedihan, kesulitan hidup, dan batas-batas harapan.

Melalui kisah-kisah fiksi yang ia hadirkan, realitas keseharian menjadi panggung utama. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya kuat, tidak ada situasi yang sepenuhnya ideal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Justru di situlah kekuatan narasi ini tumbuh. Kesedihan hadir tanpa aba-aba, kesulitan datang silih berganti, dan manusia dipaksa bernegosiasi dengan dirinya sendiri, antara putus asa atau tetap percaya.

Benang merah yang mengikat seluruh cerita adalah satu sikap batin: berserah diri. Sebuah konsep yang sering diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dijalani.

Berserah diri bukan berarti menyerah, melainkan menerima keterbatasan manusia sambil tetap menggenggam keyakinan bahwa ada kuasa yang lebih besar bekerja di balik segala peristiwa.

Cukup Wibowo dengan cermat memperlihatkan bagaimana pergulatan itu terjadi. Ada tokoh yang kehilangan arah ketika hidup tak berjalan sesuai rencana.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Ada yang diuji oleh tekanan ekonomi, relasi yang retak, atau harapan yang tak kunjung terwujud. Namun di tengah kerumitan itu, selalu ada ruang kecil, nyaris tak terlihat, di mana harapan perlahan tumbuh kembali.

Menariknya, pertolongan yang hadir dalam kisah-kisah ini tidak selalu datang dengan cara yang spektakuler. Ia bisa berupa pertemuan sederhana, keputusan kecil yang mengubah arah hidup, atau bahkan kesadaran baru yang muncul di saat paling sunyi.

Hal-hal yang tampak sepele, namun justru menjadi titik balik. Di sinilah pembaca diajak memahami bahwa keajaiban tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah, tetapi sering kali tersembunyi dalam keseharian.

Ramadan, dalam bingkai ini, menjadi ruang kontemplasi yang memperdalam relasi manusia dengan Tuhannya. Ketika lapar dan dahaga tidak lagi menjadi pusat perhatian, puasa bertransformasi menjadi perjalanan spiritual yang lebih sunyi: belajar ikhlas, belajar percaya, dan belajar menerima bahwa tidak semua hal berada dalam kendali manusia.

Kalimat ilahiah “Kun!”—“Jadilah”—menjadi semacam klimaks dari seluruh rangkaian kisah. Ia bukan sekadar ungkapan teologis, tetapi juga penegasan bahwa batas logika manusia tidak selalu sejalan dengan kehendak Ilahi.

Baca Juga :  Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Sesuatu yang tampak mustahil bisa menjadi mungkin, dan yang terasa buntu dapat menemukan jalan keluar, ketika keyakinan tetap dijaga.

Namun, yang tak kalah penting, kisah-kisah ini juga menegaskan bahwa perubahan itu tidak terjadi dalam ruang kosong. Ia menuntut sikap batin: keikhlasan untuk menerima, kesabaran untuk bertahan, dan kepercayaan yang tidak mudah goyah. Tanpa itu, pertolongan yang datang bisa saja luput disadari.

Di penghujung Ramadan, narasi ini terasa seperti penutup yang reflektif. Ia mengajak pembaca menengok kembali perjalanan yang telah dilalui, bukan hanya dalam hitungan hari, tetapi dalam perubahan sikap dan cara pandang.

Bahwa hidup, dengan segala naik turunnya, selalu menyimpan kemungkinan untuk membaik.

Pada akhirnya, pekan keempat ini menyampaikan satu pesan yang sederhana namun mendalam: bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin meredup, tersembunyi di balik kesedihan dan kesulitan, tetapi selalu ada.

Dan ketika manusia memilih untuk tetap percaya, di situlah “Kun!” menemukan maknanya, menghidupkan kembali kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tak terbayangkan. (aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi
Anak-Anak Mancing di Kolam Renang
Janji Kopi di Sudut Warkop
Tubuh Dalam Pandangan Sasak
Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial
Bangku Kuning di Depan Kantor Gubernur: Antara Ketertiban dan Ruang Publik
PERUPA ANZUL TELAH PERGI: BILA GARAM TAK ASIN LAGI
Ketika Janji Kampanye Direalisasikan, Mengapa Masih Ada yang Menentangnya?

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:39 WITA

Pedagang Keliling Bersepeda Sambil Menyanyi

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:12 WITA

Anak-Anak Mancing di Kolam Renang

Rabu, 22 April 2026 - 09:05 WITA

Janji Kopi di Sudut Warkop

Selasa, 31 Maret 2026 - 17:54 WITA

Tubuh Dalam Pandangan Sasak

Senin, 30 Maret 2026 - 07:17 WITA

Lebaran Topat di Era Digital dan Konsolidasi Sosial

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA