CERAKEN.ID — Di ujung Ramadan 1447 Hijriah, ketika sebagian orang mulai sibuk menakar kebutuhan lebaran, ada jejak langkah yang bergerak ke arah sebaliknya; menuju senyap, menuju ruang pengabdian.
Kepala Dusun Penarukan Daya, Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Adi Muhayadi, memilih datang ke Masjid Baital Aman. Bukan untuk seremoni, bukan pula untuk pencitraan, melainkan untuk sesuatu yang sederhana namun dalam: ngalap berkah.
Kunjungan itu, sebagaimana tersiar di media sosial pribadinya, memperlihatkan Adi dengan bersahaja, berbincang dengan seorang marbot masjid. Percakapan yang mungkin tampak biasa bagi sebagian orang, tetapi sesungguhnya memuat lapisan makna yang tidak sederhana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di ruang-ruang seperti itulah, Ramadan menemukan ruhnya; bukan hanya pada ritual, tetapi pada perjumpaan yang menghidupkan nilai.
Marbot masjid, dalam keseharian, sering luput dari sorotan. Ia bukan imam yang berdiri di depan, bukan pula khatib yang menyampaikan khutbah.
Namun, tanpa kehadirannya, denyut sebuah masjid akan terasa timpang. Ia memastikan kebersihan terjaga, sajadah tersusun rapi, pengeras suara berfungsi, dan pintu-pintu terbuka bagi siapa saja yang ingin bersujud.
Dalam diam, ia merawat keberlangsungan ibadah banyak orang.
Di situlah Adi Muhayadi menemukan sesuatu yang barangkali selama ini hanya terdengar sebagai konsep: pengabdian tanpa riuh. Baginya, menjadi marbot bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk dedikasi yang menyentuh dimensi sosial dan spiritual sekaligus.
Ada keterikatan langsung dengan rumah ibadah, dengan aktivitas sakral yang menjadi pusat kehidupan umat.
“Kebahagiaan bukan saat kita dilayani, tapi saat kita mampu menyediakan ruang bagi orang lain untuk beribadah dengan tenang,” ujarnya.
Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung pergeseran cara pandang. Dari yang semula berpusat pada diri, menjadi berpusat pada kebermanfaatan bagi orang lain.
Fenomena “ngalap berkah” sendiri sering kali dipersepsikan sebatas aktivitas simbolik, mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan harapan memperoleh kebaikan. Namun dalam konteks ini, maknanya meluas.
Ngalap berkah menjadi proses belajar, menyerap nilai, dan merefleksikan peran diri di tengah masyarakat. Bukan hanya mencari berkah, tetapi juga memahami bagaimana berkah itu dihadirkan melalui tindakan nyata.
Apa yang dilakukan Adi Muhayadi memberi isyarat bahwa kepemimpinan di tingkat akar rumput tidak melulu soal administrasi dan program kerja. Ada dimensi keteladanan yang justru tumbuh dari kesediaan untuk belajar dari siapa saja, termasuk dari mereka yang bekerja di balik layar.
Dalam konteks dusun, kepala dusun bukan hanya pengelola wilayah, tetapi juga penjaga nilai.
Ramadan, dalam hal ini, menjadi ruang kontemplasi yang mempertemukan berbagai lapisan peran.
Dari pejabat lokal hingga marbot masjid, semua berada dalam orbit yang sama: mencari makna pengabdian. Perbedaan posisi sosial menjadi kabur ketika yang dihadapi adalah pertanyaan yang sama, apa yang bisa diberikan untuk orang lain?
Di tengah derasnya arus informasi dan budaya pencitraan, momen seperti ini terasa penting untuk diangkat.
Bukan untuk mengagungkan individu, tetapi untuk mengingatkan bahwa ada banyak bentuk kebaikan yang tidak selalu terlihat. Ada kerja-kerja sunyi yang justru menjadi fondasi bagi kehidupan bersama.
Masjid, sebagai ruang publik yang sakral, menyimpan banyak cerita tentang itu. Tentang orang-orang yang datang dan pergi, tentang doa-doa yang dipanjatkan, dan tentang tangan-tangan yang memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Marbot adalah salah satu penjaga cerita itu; tanpa banyak kata, tanpa sorotan.
Kunjungan Adi Muhayadi ke Masjid Baital Aman, Lembar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada akhirnya bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin. Ia datang untuk ngalap berkah, tetapi yang ia temukan adalah pelajaran tentang makna memberi.
Bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan terlihat, melainkan dalam kesediaan untuk menghadirkan ketenangan bagi orang lain.
Dan mungkin, di situlah Ramadan mencapai puncaknya: ketika manusia tidak lagi sibuk menghitung apa yang ia terima, tetapi mulai memaknai apa yang bisa ia sediakan. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan































































