Selamat Kota Mataram, Penerima Anugerah Kebudayaan PWI 2026

Minggu, 11 Januari 2026 - 17:13 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Lalu Ari Irawan – Sekretaris Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi NTB

CERAKEN.ID– Saya menyampaikan apresiasi yang sebesar besarnya atas terpilihnya Kota Mataram sebagai salah satu penerima Anugerah Kebudayaan PWI 2026. Pencapaian ini bukan semata bentuk penghargaan, tetapi juga penegasan bahwa upaya pemajuan kebudayaan yang bertumpu pada akar lokal dapat menghasilkan dampak nyata bagi identitas, ruang hidup, dan ekosistem kreatif masyarakat.

Pemajuan kebudayaan, sebagaimana diamanatkan oleh Undang Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, meliputi empat ranah besar: pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Capaian Kota Mataram dalam anugerah ini menunjukkan keberhasilan dalam dua ranah yang sangat krusial, yaitu pengembangan dan pemanfaatan Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang hidup dalam masyarakat.

Kota Mataram telah menampilkan bagaimana kebudayaan dapat ditempatkan di pusat pembangunan. Langkah ini selaras dengan Undang Undang Pemajuan Kebudayaan dan Peraturan Daerah Provinsi NTB Nomor 16 Tahun 2021 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah, yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan keberpihakan kuat dari pemerintah daerah dalam memajukan kebudayaan.

Tanpa keberpihakan, pemajuan kebudayaan hanya menjadi rutinitas administratif; namun ketika dilakukan secara menyeluruh, ia menjadi gerakan perubahan. Seperti ungkapan bijak yang sering kita dengar, “Budaya tidak hanya diwariskan, tetapi dihidupkan.”

Salah satu inisiatif yang sangat menonjol adalah Gerbang Sangkareang—ikon baru Kota Mataram yang lahir dari filosofi lumbung padi masyarakat Sasak. Bagi masyarakat Sasak, lumbung bukan hanya tempat menyimpan padi, tetapi simbol kemakmuran, rasa syukur, kesadaran berbagi, dan pengendalian diri.

Nilai-nilai itu kini dihadirkan kembali dalam bentuk ruang publik modern yang sekaligus merefleksikan jati diri kota. Di sinilah terlihat bagaimana budaya dapat menjadi inspirasi, bukan sekadar ornamen.

Inovasi ini juga telah menumbuhkan ekosistem kreatif baru: dari kemunculan Batik Mentaram, kerajinan lokal, hingga desain arsitektur yang mengikuti karakter ruang masyarakat Lombok. Batik Mentaram bahkan mulai tampil di panggung internasional, menunjukkan bahwa budaya lokal dapat melintasi batas geografis tanpa kehilangan makna.

Pemanfaatan batik sebagai seragam ASN di Kota Mataram turut memperkuat ekosistem kebudayaan secara langsung—contoh konkret bagaimana kebijakan publik dapat menghidupkan karya budaya.

Baca Juga :  Leang: Tenun, Tubuh, dan Ingatan yang Menolak Dilupakan

Budaya Sasak, sebagai salah satu pilar utama kebudayaan NTB, jelas menjadi pusat dari proses kreatif ini. “Akar yang kuat tidak terlihat, tetapi ia yang membuat pohon berdiri”—begitu salah satu ungkapan filosofis yang tepat menggambarkan bagaimana nilai Sasak menjadi fondasi bagi inovasi budaya Kota Mataram hari ini.

Sebagai bagian dari Dewan Kebudayaan Daerah Provinsi NTB, saya mengapresiasi seluruh pihak yang telah terlibat dalam perjalanan kreatif ini: para perajin, akademisi, komunitas budaya, serta berbagai unsur masyarakat yang merawat dan mengembangkan identitas daerah. Penghargaan ini bukan akhir, tetapi awal dari perjalanan yang lebih panjang.

Kami siap berkoordinasi untuk mendorong terbentuknya Dewan Kebudayaan Daerah Kota Mataram, sesuai amanah Perda Nomor 16 Tahun 2021, agar ekosistem pemajuan kebudayaan dapat tumbuh lebih kokoh dan berkelanjutan.

Dengan pencapaian ini, Kota Mataram menunjukkan bahwa kebudayaan bukan masa lalu yang disimpan, tetapi masa depan yang dibangun bersama.

Selamat kepada Bapak Walikota, H. Mohan Roliskana, dan seluruh warga Kota Mataram atas pencapaian ini.**

Penulis : lai

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA