Narasi yang Menyembuhkan: Membaca Belian sebagai Ruang Simbolik-Budaya

Senin, 12 Januari 2026 - 20:09 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Praktik Belian mendekati apa yang dikatakan Clifford Geertz: bahwa manusia begitu lekat dengan tempat, identitas, dan keyakinannya, sehingga tidak dapat dipisahkan dari semua itu (Foto: aks)

Praktik Belian mendekati apa yang dikatakan Clifford Geertz: bahwa manusia begitu lekat dengan tempat, identitas, dan keyakinannya, sehingga tidak dapat dipisahkan dari semua itu (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Pada Pameran Belian di Galeri Taman Budaya NTB, perhatian pengunjung tidak hanya tertuju pada karya-karya visual para partisipan. Di setiap sisi ruang pamer, terpasang enam narasi berukuran 60 x 100 sentimeter. Narasi-narasi ini tampil seperti mural teks, tenang, reflektif, namun sarat makna, yang secara konseptual berjalan seiring dengan karya-karya yang dipamerkan.

Muhammad Sibawahi, saat ditemui pada Senin, 12 Januari 2025, menjelaskan bahwa keenam narasi tersebut memang dimaksudkan sebagai semacam mural kontekstual.

Fungsinya bukan sekadar penjelas, melainkan penguat medan makna: mengajak pengunjung masuk lebih dalam ke semesta pikir dan praktik pengobatan tradisional Belian Sasak. Narasi itu menjadi jembatan antara visual, ritus, dan pemahaman konseptual tentang Belian sebagai praktik budaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menariknya, pada sambutan pembukaan pameran (Sabtu, 10/01 lalu), Sibawahi juga menyampaikan harapan lain.

“Selain ada pameran, mudah-mudahan di bulan ini juga bisa me-launching bukunya dengan judul yang sama, Belian,” ujarnya.

Pernyataan ini menegaskan bahwa pameran tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari kerja intelektual dan kebudayaan yang lebih panjang: dari riset, penulisan, hingga presentasi artistik di ruang publik.

Dalam “buku Belian” yang menjadi narasi tersebut, Sibawahi menegaskan bahwa apa pun dasar biomedisnya, diagnosis dan terapi penyembuhan selalu berkaitan dengan manipulasi symbol, kata-kata, tanda, dan tindakan, yang berlangsung secara interaktif. Karena itu, persoalan sakit dan sembuh tidak dapat dipahami semata sebagai fenomena biologis, melainkan sebagai fenomena simbolik-budaya (Sibawahi, 2025: 40).

Baca Juga :  Leang: Tenun, Tubuh, dan Ingatan yang Menolak Dilupakan

Perspektif ini terasa hidup di ruang pamer, ketika teks, artefak, dan karya seni saling berkelindan membentuk pengalaman simbolik bagi pengunjung.

Salah satu gagasan kunci yang mengemuka adalah pandangan bahwa alam semesta merupakan sumber pengetahuan sekaligus penyembuhan. “Sebenarnya, apa pun yang ada di sekitar kita ini bisa menjadi obat. Alam sudah menyediakan, asal kita tahu campurannya,” tulis Sibawahi (2025: 146–147).

“Tindakan pengobatan” para Belian dapat pula dibaca sebagai sebuah performance. Ia adalah aksi sekaligus menampilkan aksi (Foto: aks)

Kalimat ini seolah menjadi filsafat dasar praktik Belian: alam sebagai apotek raksasa, dan manusia sebagai pembelajar yang harus menemukan pengetahuan tersembunyi di dalamnya.

Dari sini terlihat betapa kompleks daya tarik pengobatan tradisional Belian Sasak terhadap realitas. Di satu sisi, praktik Belian menciptakan realitas, melalui simbol, ritus, dan keyakinan, namun di sisi lain, realitas sosial dan kultural masyarakatlah yang membentuk praktik tersebut. Yang membuat tindakan pengobatan itu bermakna dan bernilai adalah sifatnya yang terus dilakukan dan diulangi, bahkan diwariskan lintas generasi.

Pengulangan inilah yang membangun keyakinan kolektif akan efektivitas penyembuhan. Kesembuhan, dengan demikian, bukan semata hasil empiris, melainkan juga efek sosial dari performativitas budaya yang menegaskan makna spiritual tindakan penyembuhan (Sibawahi, 2025: 240).

Baca Juga :  Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala: Jurnalisme Teater dari Tanah Gumantar

Dalam kerangka ini, ritual pengobatan Belian menempati posisi yang strategis. Ia tidak hanya menjadi model of reality, cerminan cara masyarakat memahami dunia, tetapi juga model for reality, yakni pola yang memproyeksikan bagaimana realitas seharusnya dijalani. Oleh karena itu, ritual pada dasarnya merupakan pusat kehidupan sosial dan politik masyarakat (Sibawahi, 2025: 247).

“Tindakan pengobatan” para Belian dapat pula dibaca sebagai sebuah performance. Ia adalah aksi sekaligus menampilkan aksi. Setiap gerak, mantra, dan simbol bukan hanya menjalankan fungsi penyembuhan, tetapi juga mempertontonkan “tindakan pengobatan” itu sendiri sebagai peristiwa bermakna (Sibawahi, 2025: 232).

Dalam konteks ini, praktik Belian mendekati apa yang dikatakan Clifford Geertz: bahwa manusia begitu lekat dengan tempat, identitas, dan keyakinannya, sehingga tidak dapat dipisahkan dari semua itu (Geertz dalam Sibawahi, 2025: 52).

Pameran Belian, yang diselenggarakan oleh komunitas Pasir Putih Lombok Utara dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Taman Budaya Provinsi NTB, berlangsung hingga 17 Januari 2026.

Lebih dari sekadar pameran seni, Belian tampil sebagai ruang refleksi: tentang tubuh dan sakit, simbol dan keyakinan, serta tentang bagaimana kebudayaan terus bekerja. Menyembuhkan, membentuk, dan memaknai kehidupan manusia. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak
Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:19 WITA

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA