CERAKEN.ID — Di tengah perubahan cepat dunia komunikasi, perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menjadi ruang transfer pengetahuan. Ia dituntut menjadi ruang dialog antara dunia akademik dan realitas industri.
Kesadaran inilah yang melatarbelakangi Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Mataram menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi Kurikulum dan Penjaringan Masukan dari Pemangku Kepentingan, Selasa (10/3), di Ruang Diplomasi HI, Gedung Soebiyanto kampus tersebut.
Forum ini menjadi ruang pertemuan berbagai pihak; akademisi, mahasiswa, alumni, serta mitra industri dan pemerintah, untuk memikirkan kembali arah pendidikan komunikasi di era digital. Tujuan utamanya sederhana namun strategis: memastikan kurikulum yang diajarkan tetap relevan dengan dinamika industri komunikasi yang terus berkembang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Dekan II FHISIP Dr. Syamsul Hidayat, Wakil Dekan III FHISIP Dr. Lalu Saipudin, Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Dr. Agus Purbathin Hadi, serta sejumlah pimpinan program studi lain di lingkungan fakultas. Turut hadir pula para dosen, mahasiswa, alumni, serta mitra eksternal yang selama ini berinteraksi langsung dengan lulusan ilmu komunikasi.
Ruang Dialog Akademisi dan Industri
Diskusi berlangsung dinamis karena menghadirkan berbagai perspektif dari dunia profesional. Sejumlah mitra industri dan lembaga hadir memberikan pandangan tentang kompetensi yang dibutuhkan oleh lulusan komunikasi di lapangan.
Perwakilan Nutrifood wilayah NTB, Muhammad Yosa Rizal, misalnya, berbagi pengalaman bekerja sama dengan mahasiswa dan lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Mataram. Ia menilai para lulusan memiliki cara berpikir kreatif yang mampu memberi warna baru dalam dunia pemasaran.
“Cara berpikir yang out of the box memberi warna baru di dunia marketing,” ujarnya.
Namun ia juga menekankan bahwa perkembangan industri menuntut penguatan kompetensi baru, terutama di bidang digital marketing, personal branding, kemampuan berpikir kreatif, serta keterampilan bekerja secara kolaboratif.
Pandangan serupa disampaikan Masri Asril dari Nomad Sense Mataram. Ia menilai mahasiswa komunikasi perlu memperkuat keterampilan teknis, terutama penguasaan perangkat kreatif digital yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari industri komunikasi modern.
Jurnalisme di Era Data dan Media Sosial
Dari sektor media, Haris Mahtul dari NTB Satu menyoroti perubahan besar dalam praktik jurnalistik akibat perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, jurnalis masa kini tidak hanya dituntut mampu menulis berita, tetapi juga memahami dinamika media sosial serta membaca data digital untuk memahami perilaku audiens.
Analisis tren melalui perangkat seperti Google Analytics serta pemantauan isu di media sosial menjadi keterampilan baru yang semakin penting dalam dunia jurnalistik modern.
Sementara itu, M. Sukri AR dari Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) wilayah NTB membuka peluang bagi mahasiswa untuk memperluas pengalaman praktis melalui program magang di berbagai media yang berada dalam jaringan organisasi tersebut.
Kesempatan ini dinilai penting untuk menjembatani dunia akademik dengan realitas kerja di industri media.
Komunikasi untuk Pariwisata Daerah
Masukan juga datang dari sektor pemerintahan dan komunitas pariwisata. Perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat menekankan pentingnya keterampilan komunikasi dalam mendukung promosi destinasi wisata daerah.
Hal serupa disampaikan perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Lantan, Lombok Tengah. Menurut mereka, mahasiswa komunikasi dapat memainkan peran strategis dalam mengangkat potensi desa wisata melalui kemampuan menulis feature, storytelling, serta komunikasi langsung dengan masyarakat.
Keterampilan tersebut tidak hanya membantu promosi pariwisata, tetapi juga memperkuat pemberdayaan masyarakat lokal.
Suara Alumni: Pengalaman dari Dunia Kerja
FGD ini juga menjadi ruang refleksi bagi para alumni yang telah menapaki berbagai jalur karier. Pengalaman mereka memberikan gambaran nyata tentang kebutuhan kompetensi di dunia kerja.
Ratu Adhila, alumni yang kini bekerja sebagai social media specialist di sebuah perusahaan di Singapura, menekankan pentingnya model pembelajaran berbasis proyek.
Menurutnya, pengalaman mengerjakan proyek nyata selama kuliah akan membantu mahasiswa membangun portofolio yang sangat dibutuhkan saat memasuki dunia kerja.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya branding communication serta membangun jaringan profesional sejak masa kuliah.
Alumni lain yang bergerak di bidang rumah produksi, Puala Nesha, menekankan pentingnya kemampuan digital marketing serta keterampilan memproduksi konten kreatif sebagai bekal utama dalam industri kreatif.
Sementara itu, Natasya Ayudia Putri yang melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi mengingatkan bahwa kemampuan akademik tetap menjadi fondasi penting. Kemampuan membaca jurnal ilmiah serta menulis literature review menjadi keterampilan dasar bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke tingkat magister.
Rekonstruksi Kurikulum untuk Masa Depan
FGD ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan rekonstruksi kurikulum Program Studi Ilmu Komunikasi FHISIP Universitas Mataram. Melalui forum ini, program studi berupaya menyerap berbagai perspektif dari dunia industri, pemerintahan, komunitas, serta alumni.
Masukan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dalam merancang kurikulum baru yang lebih responsif terhadap perubahan zaman.
Dalam era digital yang terus bergerak cepat, dunia komunikasi tidak lagi hanya berkisar pada teori komunikasi klasik. Ia telah berkembang menjadi ekosistem yang melibatkan teknologi digital, data, kreativitas, serta kolaborasi lintas sektor.
Karena itu, kurikulum yang adaptif menjadi kunci untuk menyiapkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika industri.
Melalui dialog terbuka antara kampus dan para pemangku kepentingan, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram berupaya memastikan bahwa lulusan yang dihasilkan tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan kompetitif dalam menghadapi tantangan dunia komunikasi di masa depan.**
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: FHISIP































































