Museum yang Hidup di Tengah Kota dan Desa

Senin, 30 Maret 2026 - 06:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Buku ini tidak hanya berbicara tentang museum sebagai institusi, tetapi sebagai gerakan kultural (Foto: aks/ceraken.id)

Buku ini tidak hanya berbicara tentang museum sebagai institusi, tetapi sebagai gerakan kultural (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah geliat perubahan zaman yang semakin cepat, buku “Transformasi Museum Daerah: Kotaku Museumku, Kampungku Museumku” hadir bukan sekadar sebagai karya akademik, tetapi sebagai dokumen penting yang merekam pergeseran paradigma museum di Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Buku setebal viii + 162 halaman yang diterbitkan oleh Insan Madani Institute (Imani) Mataram pada tahun 2026 ini ditulis secara kolaboratif oleh sepuluh penulis lintas disiplin, menghadirkan perspektif yang kaya tentang masa depan museum sebagai ruang hidup kebudayaan.

Di dalamnya, museum tidak lagi ditempatkan sebagai ruang sunyi yang menyimpan artefak masa lalu, melainkan sebagai simpul dinamis yang menghubungkan memori, identitas, pengetahuan, dan bahkan ekonomi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Transformasi ini menjadi benang merah yang dijahit rapi sejak sambutan hingga uraian reflektif para penulis.

Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dalam sambutannya menegaskan bahwa transformasi museum tidak bisa berjalan parsial. Ia harus ditopang oleh penguatan sumber daya manusia, inovasi kuratorial, serta kolaborasi lintas sektor.

Museum masa kini, menurutnya, harus mampu menghadirkan pengalaman yang bermakna melalui narasi yang terstruktur, interpretatif, dan komunikatif. Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi ruang informatif, tetapi juga reflektif dan inspiratif.

Gagasan tersebut menemukan pijakan konkret dalam pengantar Kepala Museum NTB, Ahmad Nuralam. Ia menempatkan museum sebagai institusi strategis yang tidak hanya berfungsi melindungi benda cagar budaya, tetapi juga sebagai ruang pembentukan ideologi, disiplin, dan pengembangan pengetahuan publik.

Dalam pandangannya, museum harus menyentuh generasi milenial, bukan sekadar sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai ruang belajar yang menghidupkan masa lalu dan menumbuhkan daya pikir kritis.

Perspektif ini diperluas oleh Kepala Biro LKBN ANTARA Wilayah NTB, Abdul Hakim, yang melihat museum dari sudut ekonomi kreatif. Ia menyebut museum sebagai “mantra strategis” yang mampu menginspirasi lahirnya produk-produk kreatif berbasis budaya.

Dari motif tenun hingga artefak maritim, museum menyimpan potensi ekonomi yang belum sepenuhnya tergarap. Dalam konteks ini, museum bukan lagi penjaga masa lalu, tetapi juga penggerak masa depan.

Baca Juga :  Wayang Sasak: Membaca Jejak Dakwah, Seni, dan Identitas Lombok dari Rak Perpustakaan Museum NTB
Jejak Transformasi sebagai Tonggak

Secara konseptual, buku ini mengajak pembaca menelusuri akar historis museum, dari istilah Yunani mouseion yang merujuk pada kuil para dewi seni, hingga transformasinya menjadi institusi modern yang menggabungkan fungsi pendidikan, penelitian, dan pelestarian.

Di Indonesia sendiri, meski istilah museum tidak secara eksplisit disebut dalam konstitusi, semangatnya tercermin dalam amanat kebudayaan yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Namun, perjalanan museum di Indonesia tidak selalu mulus. Kritik tajam dari W. S. Rendra yang menyebut museum sebagai “tempat membuang sisa-sisa budaya” menjadi refleksi penting yang memicu perubahan. Kini, transformasi itu mulai terlihat, termasuk di NTB.

Di bawah kepemimpinan Ahmad Nuralam sejak 2022, Museum Negeri NTB menunjukkan lompatan signifikan.

Dalam kurun waktu 18 bulan, museum ini mencatat tiga tonggak penting: keterlibatan dalam wacana nasional terkait pemulangan Harta Karun Lombok, partisipasi dalam Biennale Seni Islam Al-Diriyah 2025 di Arab Saudi, serta penerimaan hibah koleksi langka dari kolektor Australia, Michael Abbott AO KC.

Pencapaian ini menandai posisi Museum NTB sebagai institusi yang mulai diperhitungkan di tingkat internasional.

Transformasi tersebut juga menyentuh aspek ekonomi melalui program Economy Experience Incubator, yang menggabungkan kreativitas, kewirausahaan, dan interpretasi budaya. Program ini menunjukkan bahwa museum dapat menjadi ruang inovasi yang menghubungkan warisan budaya dengan kebutuhan pasar, tanpa kehilangan makna.

“Kotaku Museumku, Kampungku Museumku”

Dari sisi kebijakan, gagasan besar “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku” menjadi inti dari buku ini. Program yang diluncurkan oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, pada 7 Januari 2025 di Museum Negeri NTB ini mendorong lahirnya museum hingga ke tingkat desa.

Gagasan ini berangkat dari kesadaran bahwa warisan budaya sejatinya hidup di tengah masyarakat, bukan hanya di ibu kota provinsi atau kabupaten.

Dengan jumlah sekitar 500 museum di Indonesia saat ini, target ribuan museum dalam lima tahun ke depan menjadi tantangan sekaligus peluang. Di NTB sendiri, potensi itu sangat besar; dengan 995 desa dan 142 kelurahan yang masing-masing menyimpan kekayaan budaya unik.

Baca Juga :  Merawat Ingatan Kesenian dari Benteng Ujung Pandang

Museum desa, dalam konteks ini, bukan sekadar ruang penyimpanan artefak, tetapi pusat literasi, narasi, dan pembelajaran.

Keterkaitan antara museum, pelestarian budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif menjadi benang merah yang terus ditegaskan. Museum berfungsi sebagai penjaga memori, pariwisata sebagai medium distribusi pengalaman, dan ekonomi kreatif sebagai penggerak nilai tambah.

Ketiganya saling berkelindan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Data statistik yang disajikan dalam buku ini memperlihatkan dampak nyata dari transformasi tersebut. Tingkat kunjungan ke Museum Negeri NTB menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam tiga tahun terakhir.

Pada 2022, jumlah kunjungan mencapai 57.935 orang, meningkat menjadi 68.702 orang pada 2023, dan berada di angka 63.822 orang pada 2024. Kenaikan ini tidak terlepas dari berbagai program inovatif yang diluncurkan, serta meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya museum sebagai ruang edukasi.

Perubahan tarif tiket yang turut memengaruhi pendapatan asli daerah (PAD) juga menunjukkan bahwa museum dapat berkontribusi secara ekonomi.

Namun lebih dari itu, peningkatan kunjungan mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat; dari yang sebelumnya melihat museum sebagai ruang statis, menjadi bagian dari gaya hidup dan destinasi wisata edukatif.

Gerakan Kultural

Pada akhirnya, buku ini tidak hanya berbicara tentang museum sebagai institusi, tetapi sebagai gerakan kultural. Ia mengajak pembaca untuk melihat museum sebagai ruang dialog antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Sebuah ruang di mana nilai-nilai tradisi tidak hanya disimpan, tetapi dihidupkan kembali untuk menjawab tantangan zaman.

“Transformasi Museum Daerah: Kotaku Museumku, Kampungku Museumku” menjadi penanda bahwa museum di NTB, dan Indonesia secara umum, sedang bergerak menuju arah yang lebih inklusif, adaptif, dan relevan.

Dari kota hingga desa, dari artefak hingga ide, museum kini menemukan kembali denyutnya: sebagai ruang hidup yang merawat ingatan sekaligus menyalakan harapan.(aks)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman
Merawat Ingatan Kesenian dari Benteng Ujung Pandang
Yang Tampak dan yang Tak Tampak
Wayang Sasak: Membaca Jejak Dakwah, Seni, dan Identitas Lombok dari Rak Perpustakaan Museum NTB
Hari Buku Nasional: Stasiun Kereta Api di Frankfurt Sediakan Teks Metamorfosis Kafka
Ajoeba Wartabone, Republik, dan Jalan Panjang dari Gorontalo ke Djokja
Adil Akbar dan Jejak Sejarah dalam Imajinasi Cerpen
Astrini Syamsuddin: Penulis dengan Genre Self-Help Religius

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 00:42 WITA

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Selasa, 2 Juni 2026 - 19:50 WITA

Merawat Ingatan Kesenian dari Benteng Ujung Pandang

Senin, 1 Juni 2026 - 15:02 WITA

Yang Tampak dan yang Tak Tampak

Minggu, 31 Mei 2026 - 16:13 WITA

Wayang Sasak: Membaca Jejak Dakwah, Seni, dan Identitas Lombok dari Rak Perpustakaan Museum NTB

Senin, 18 Mei 2026 - 07:21 WITA

Hari Buku Nasional: Stasiun Kereta Api di Frankfurt Sediakan Teks Metamorfosis Kafka

Berita Terbaru

OPINI

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:17 WITA