CERAKEN.ID — Malam di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi NTB, Jumat, 3 April 2026, terasa berbeda. Bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah pengalaman lintas medium yang merangkum bunyi, tubuh, dan kesadaran yang bergerak di antara keduanya.
Pementasan Organic Mind bertajuk Unconscious Theory menghadirkan lanskap artistik yang tidak hanya menggugah indra, tetapi juga menyentuh wilayah batin para pelakunya, termasuk sang vokalis, Nyra Maulida, yang malam itu menapaki panggung megah dengan pengalaman yang benar-benar baru.
“Ini benar-benar tampilan pertama kali ‘menyanyi’ di tempat semegah Teater Tertutup,” ujar Nyra, sesaat setelah penampilan hari pertama usai, pukul 21.34 Wita.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalimat itu terdengar sederhana, namun menyimpan lapisan pengalaman yang kompleks: antara rasa bahagia, lega, dan kegelisahan yang belum sepenuhnya usai. Baginya, panggung ini bukan hanya ruang tampil, tetapi juga ruang pembuktian atas proses panjang yang telah dijalani.
Sebagai pegiat teater di Bengkel Aktor Mataram sejak 2023, Nyra lebih akrab dengan dunia tubuh, karakter, dan narasi dramatik. Ia terbiasa menyampaikan makna melalui gestur dan ekspresi, bukan melalui suara yang berdiri sendiri sebagai medium utama. Namun dalam Unconscious Theory, ia dipaksa, atau lebih tepatnya, diajak, untuk keluar dari zona nyaman itu.
Selama kurang lebih tiga bulan, Nyra menjalani proses latihan intens bersama sang konseptor, Mantra Ardhana. Proses ini bukan hanya soal teknis vokal, tetapi juga tentang membongkar cara lama dalam memahami seni.
“Sepanjang hidup saya, ini hal baru secara pribadi,” ungkapnya. Ia mengakui bahwa pada awalnya, memasuki wilayah musik terasa asing, bahkan menimbulkan keraguan yang berulang.
Keraguan itu datang dalam bentuk pertanyaan sederhana yang terus menghantui: bisa nggak ya? Namun justru dari ketidakpastian itulah, Nyra menemukan ruang eksplorasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dalam semangat Unconscious Theory, ketidaksadaran bukanlah kekosongan, melainkan sumber kemungkinan, tempat di mana hal-hal yang tidak direncanakan justru menemukan bentuknya.
Cara Baru Berkarya
Menariknya, latar belakang teater yang ia miliki tidak hilang begitu saja. Ia justru menemukan bahwa tubuh dan suara tidak berdiri sebagai dua hal yang terpisah. Cara merespon bunyi, cara hadir di ruang, hingga cara merasakan momen; semuanya tetap berakar pada pengalaman teater, hanya saja kini diterjemahkan dalam bahasa yang berbeda.
“Seperti menerjemahkan bahasa tubuh ke dalam suara,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi kunci untuk memahami transformasi artistik yang ia alami. Suara, dalam konteks ini, bukan sekadar alat vokal, tetapi perpanjangan dari tubuh yang selama ini telah terlatih untuk merasakan dan menyampaikan.
Proses tersebut tidak berlangsung mulus. Nyra mengaku bahwa rasa ragu bukan hanya sesekali datang, tetapi hampir selalu hadir dalam setiap tahap latihan. Namun alih-alih menghindarinya, ia memilih untuk berjalan bersama keraguan itu. Ia terus bereksplorasi, membiarkan ketidaksadaran bekerja, dan mempercayai proses yang sedang berlangsung.
Kini, setelah melewati tiga bulan yang intens, ia menyadari bahwa yang ia pelajari bukan sekadar musik. Lebih dari itu, ia menemukan cara baru dalam berkarya. Jika sebelumnya ia memahami seni melalui tubuh dan akting, kini ia mulai memahami melalui bunyi dan rasa yang lebih abstrak.

“Dan mungkin di sinilah letak unconscious-nya,” katanya, “di pertemuan antara apa yang saya tahu sebelumnya dan apa yang baru saya temui sekarang.” Pernyataan ini menegaskan bahwa Unconscious Theory bukan hanya konsep artistik, tetapi juga pengalaman personal yang nyata bagi para pelakunya.
Dalam wawancara singkat, Nyra mengungkapkan bahwa ia telah terlibat dalam sekitar 10 hingga 15 pementasan teater. Ia juga mengakui bahwa kecintaannya pada seni berawal dari ketertarikan pada menyanyi, meskipun sebelumnya ia tidak pernah cukup percaya diri untuk tampil sebagai vokalis.
Panggung Unconscious Theory menjadi titik balik, sebuah momentum di mana ketertarikan lama akhirnya menemukan jalannya.
Ketika ditanya tentang cara mengatasi rasa gugup, Nyra menekankan pentingnya persiapan. Latihan vokal intens selama dua bulan bersama Mantra Ardhana, ditambah afirmasi yang diberikan, membantunya mengelola kecemasan.
“Jadi tidak se-nervous ketika pementasan teater,” katanya, menunjukkan bahwa kepercayaan diri tidak datang secara instan, melainkan dibangun melalui proses.
Penciptaan Tumbuh Secara Organik
Di sisi lain, Mantra Ardhana sebagai sutradara memiliki pendekatan yang unik dalam memilih “elemen” dalam karyanya. Ia tidak memulai dengan sesuatu yang sudah matang, melainkan menunggu; membaca sekitar, dan menemukan potensi dalam keadaan yang belum diproses.
“Setiap elemen yang ada pada karya saya, seperti membayangkan dalam imajinasi saya menunggu semesta menciptakannya,” ujarnya.
Pendekatan ini selaras dengan semangat Unconscious Theory, di mana penciptaan tidak sepenuhnya dikendalikan, tetapi juga dibiarkan tumbuh secara organik.
Pertunjukan ini sendiri dibangun melalui tujuh komposisi yang masing-masing menghadirkan lanskap emosional dan konseptual yang berbeda: A Poem Made of Air, Kaliyuga, Menanam Rindu dalam Sungai Malam, Contemplation Childhood, Daun Djiwa, Oxygen Poetry, dan Cosmic. Setiap komposisi menjadi ruang eksplorasi yang memungkinkan interaksi antara bunyi, tubuh, dan visual.
Di balik panggung, lima seniman bekerja sebagai satu organisme kreatif. Mantra Ardhana mengolah synthesizer, Suradipa menghadirkan gitar, Putu Sanjiwani meniupkan nyawa melalui flute, Bustan Normagomedov menghadirkan performans tubuh, dan Nyra Maulida menghidupkan dimensi vokal. Kolaborasi ini tidak berjalan dalam pola hierarkis, melainkan sebagai jaringan yang saling merespon.
Struktur produksi juga menunjukkan keseriusan garapan ini. Di bawah arahan Mantra Ardhana sebagai sutradara dan Reza Ashari sebagai produser, tim produksi didukung oleh Dede Anggrian sebagai asisten produksi, Visual Disorder sebagai art director, Herry Soebagio sebagai technical director sekaligus audio engineer bersama Kevin Leonidas dan Wire Galang, Dadiq sebagai stage manager, serta Dian yang menggarap video mapping.
Semua elemen ini berpadu dalam satu pengalaman yang tidak hanya bisa dilihat atau didengar, tetapi juga dirasakan. Unconscious Theory menjadi contoh bagaimana seni media baru dapat berkembang di daerah, menghadirkan pendekatan yang segar dan berani.
Bagi Nyra Maulida, panggung ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Masih ada hari kedua yang menanti, dengan kemungkinan-kemungkinan yang belum sepenuhnya terungkap. Namun satu hal yang pasti: ia telah melampaui batas yang sebelumnya ia anggap sebagai garis.
Di antara suara, tubuh, dan ketidaksadaran, Nyra menemukan dirinya yang baru; seorang seniman yang tidak lagi terikat pada satu medium, tetapi terbuka pada segala kemungkinan yang lahir dari pertemuan keduanya. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































