CERAKEN.ID — Di sebuah pagi yang padat agenda, Senin, 6 April 2026, ruang kerja Kepala Museum Negeri NTB tidak hanya dipenuhi dokumen dan rencana program. Dua tamu penting dari Australia hadir dalam satu momen yang mencerminkan kerja besar yang sedang berlangsung: diplomasi budaya lintas negara.
Di tengah kesibukan itu, Ahmad Nuralam masih menyediakan waktu sekitar 80 menit untuk berbincang. Sebuah jeda yang justru membuka jendela lebih luas tentang bagaimana transformasi dijalankan; bukan hanya sebagai konsep, tetapi sebagai laku sehari-hari.
Dua nama yang hadir pagi itu, Michael Abbot dan James Bennet, bukan sekadar tamu. Keduanya adalah bagian dari jejaring global yang ikut mengangkat posisi Museum Negeri Nusa Tenggara Barat ke panggung internasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hubungan mereka dengan museum ini bukan hubungan seremonial, melainkan kerja panjang yang melibatkan kepercayaan, visi, dan komitmen terhadap pelestarian budaya.
Namun, cerita yang paling menarik justru datang dari hal yang tampak sederhana.
“Saya tadi menyupiri sendiri saat menjemput Michael Abbot,” ujar Ahmad Nuralam, membuka percakapan dengan nada ringan.
Bagi sebagian orang, tindakan itu mungkin terlihat sepele. Tetapi dalam dunia pelayanan publik dan pariwisata, hal semacam ini bisa menjadi faktor “wow”—melampaui ekspektasi.
Lebih dari itu, tindakan tersebut menjadi simbol kuat tentang kepemimpinan: bahwa seorang pemimpin tidak hanya hadir di balik meja, tetapi juga di garis depan pelayanan.
Di sinilah transformasi menemukan bentuknya yang paling konkret.
Diplomasi Budaya dan “Kembalinya” Artefak
Kerja sama antara Museum NTB dengan Michael Abbot dan James Bennet menunjukkan bahwa diplomasi budaya bukan sekadar jargon. Ia hidup dalam praktik nyata: pengembalian artefak, pertukaran pengetahuan, dan pembangunan kapasitas.
Michael Abbot, seorang kolektor seni asal Australia, telah menghibahkan sejumlah koleksi penting kepada museum. Pada Juli 2024, ia menyerahkan Al-Qur’an tulis tangan abad ke-17 yang berasal dari India.

Setahun kemudian, pada November 2025, ia kembali menghibahkan kain pesujudan Lombok serta manuskrip tangkepan yang berisi pengetahuan pengobatan tradisional.
Artefak-artefak ini bukan hanya benda. Ia adalah memori kolektif, pengetahuan lintas generasi, sekaligus identitas yang sempat tercerabut dari tanah asalnya.
Proses penyerahan pun tidak sederhana. Koleksi tersebut dijemput langsung di Adelaide, Australia—sebuah upaya yang menunjukkan keseriusan dalam mengembalikan warisan budaya ke konteks aslinya.
Dalam beberapa kesempatan, penyerahan hibah ini juga disaksikan oleh perwakilan dari Art Gallery of South Australia, menegaskan bahwa kerja sama ini memiliki legitimasi internasional.
Sementara itu, James Bennet memainkan peran strategis sebagai jembatan. Sebagai kurator internasional seni Islam dan tokoh penting di Museum and Art Gallery of the Northern Territory, ia tidak hanya memfasilitasi hibah, tetapi juga terlibat dalam peningkatan kapasitas internal museum.
Mulai dari teknik konservasi, dokumentasi, hingga cara menyajikan koleksi kepada publik, Bennet membantu memastikan bahwa Museum NTB tidak hanya kaya koleksi, tetapi juga kuat dalam tata kelola.
Ia bahkan terlibat dalam proyek buku wastra yang meneliti kain tradisional Lombok, termasuk kain Sokong, sebuah upaya mendokumentasikan sekaligus mempromosikan kekayaan tekstil daerah ke panggung global.
Dalam banyak kesempatan, Bennet memuji kemajuan Museum NTB sebagai salah satu yang paling progresif di Indonesia dalam pelestarian seni lokal. Pujian itu bukan tanpa alasan. Di baliknya, ada kerja transformasi yang tidak sederhana.
Transformasi dan “Perlawanan Sunyi”
Ahmad Nuralam tidak menutup mata bahwa setiap perubahan selalu diiringi resistensi. Bahkan, ia menyebutnya secara lugas sebagai “perlawanan sembunyi-sembunyi.”
Fenomena ini bukan hal baru dalam transformasi organisasi. Setiap individu memiliki zona nyaman, dan keluar dari zona itu sering kali menimbulkan ketidaknyamanan.

Dalam konteks museum, perubahan bisa berarti cara kerja baru, standar pelayanan baru, hingga ekspektasi yang lebih tinggi terhadap kinerja.
Namun, yang menarik adalah cara Nuralam merespons resistensi tersebut.
Alih-alih menghadapinya dengan tekanan atau instruksi keras, ia memilih pendekatan yang lebih subtil: menjadi contoh.
Transformasi, menurutnya, tidak bisa hanya mengandalkan sistem atau teknologi. Ia harus dimulai dari manusia, dan terutama dari pemimpinnya. Di sinilah konsep kepemimpinan transformasional menemukan relevansinya.
Seorang pemimpin tidak cukup hanya “berkata”, tetapi harus “melakukan”. Istilah walk the talk menjadi kunci. Ketika pemimpin menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai baru organisasi, maka perubahan menjadi sesuatu yang nyata, bukan sekadar wacana.
Berbagai studi bahkan menunjukkan bahwa transformasi memiliki peluang keberhasilan 5,3 kali lebih besar ketika pemimpin senior menjadi role model. Angka ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal arah, tetapi juga soal keteladanan.
Dalam praktiknya, ini berarti disiplin, integritas, komitmen, dan kepedulian harus terlihat dalam tindakan sehari-hari. Bahkan dalam hal-hal kecil, seperti menyupiri tamu.
Dari Pimpinan ke Lini Terdepan
Salah satu indikator keberhasilan transformasi adalah ketika nilai-nilai baru tidak hanya berhenti di level pimpinan, tetapi meresap hingga ke unit kerja terkecil.
Hal ini terlihat dalam pengalaman sederhana: seorang petugas keamanan perempuan yang tidak hanya menjalankan tugas menjaga, tetapi juga mampu memberikan informasi layanan dan bahkan menjadi pemandu di ruang koleksi.
Peran yang melampaui deskripsi kerja formal ini menunjukkan bahwa transformasi telah menjadi kebiasaan, habit, bukan sekadar program.
Ketika hal ini disampaikan, Ahmad Nuralam menegaskan bahwa setiap unit kerja harus bergerak dalam satu garis visi yang sama. Namun, ia juga menyadari bahwa proses internalisasi tidak bisa instan.
Transformasi membutuhkan waktu. Ia harus berjalan secara gradual dan smooth. Tidak ada perubahan besar yang bisa dipaksakan dalam semalam.

Pendekatan ini penting, karena perubahan yang terlalu cepat tanpa kesiapan sering kali justru menimbulkan resistensi yang lebih besar. Sebaliknya, perubahan yang bertahap memberi ruang bagi adaptasi dan pembelajaran.
Museum sebagai Ruang Hidup
Transformasi yang dilakukan di Museum NTB pada akhirnya tidak hanya bertujuan meningkatkan kinerja institusi. Lebih dari itu, ia ingin mengubah cara pandang terhadap museum itu sendiri.
Museum bukan lagi ruang statis yang menyimpan benda mati. Ia adalah ruang hidup; tempat di mana sejarah, budaya, dan identitas terus berdialog dengan masa kini.
Kerja sama internasional, penguatan kapasitas internal, hingga perubahan budaya kerja adalah bagian dari upaya menjadikan museum relevan dengan zaman.
Dalam konteks ini, diplomasi budaya menjadi salah satu instrumen penting. Ia tidak hanya memperkaya koleksi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan.
Artefak yang kembali ke Lombok bukan hanya memperkaya etalase museum, tetapi juga memperkuat narasi tentang siapa kita dan dari mana kita berasal.
Kepemimpinan sebagai Jalan Perubahan
Di akhir perbincangan, satu hal menjadi jelas: transformasi bukanlah proyek jangka pendek. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi, keberanian, dan keteladanan.
Ahmad Nuralam memilih jalan itu dengan segala tantangannya. Dari menghadapi resistensi hingga membangun budaya kerja baru, ia menempatkan dirinya bukan hanya sebagai pengarah, tetapi juga pelaku.
Dalam konteks ini, tindakan kecil seperti menyupiri tamu menjadi simbol besar. Ia menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus tampil dalam bentuk kebijakan besar. Kadang, ia hadir dalam gestur sederhana yang penuh makna.
Museum Negeri NTB hari ini mungkin sedang bertransformasi. Tetapi lebih dari itu, ia sedang membangun sebuah cara baru dalam melihat kepemimpinan, bahwa perubahan sejati dimulai dari teladan.
Dan di tengah dunia yang terus bergerak cepat, mungkin itulah yang paling dibutuhkan: pemimpin yang tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi benar-benar menjalaninya. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































